Pertunjukan Lumba-lumba di Magelang Tuai Protes, Dianggap Siksa Hewan

BNews—MAGELANG—Rencana PT Wesut Seguni Indonesia (WSI) mengadakan pertunjukan lumba-lumba di Kota Magelang, 19 Juli-25 Agustus 2019 menuai protes. Sejumlah kalangan menolak kegiatan yang dianggap menyiksa hewan itu.

Pantuan borobudurnews, pengumuman adanya pertunjukan lumba-lumba sudah menyebar hampir di seluruh Kabupaten Magelang dan Kota Magelang, Panitia memasang rontek dan benner di sejumlah ruas jalan strategis bahkan hingga tingkat desa.

Salah satu protes dilayangkan oleh Animal Friend Jogja. Mereka menuntut supaya Pemkot Magelang mencabut ijin kehgiatan yang akan dilaksanakan di area New Kebun Tebu Resto & Cafe di Jalan Jenderal Gatot Subroto, Kota Magelang.

“Dalih edukasi sebagai kedok pertunjukan lumba-lumba dinilai tidak beralasan. Masyarakat tidak tepat mempelajari prilaku alamiah lumba-lumba di wahana sirkus yang memaksa hewan untuk melakukan atraksi sesuai perintah manusia,” kata Program Manager Animal Friend Jogja, Angelina Pane seperti dikutip Gatra.

Loading...

Menurutnya, sirkus lumba-lumba merupakan bagian dari eksploitasi satwa. Hewan lucu itu dibiarkan menahan lapar kemudian diberi makanan setelah mematuhi perintah pawangnya.

Tidak hanya itu, umur lumba-lumba yang dipakai untuk pertunjukan disinyalir lebih pendek dibandingkan lumba-lumba yang hidup di alam bebas.

“Sirkus keliling WSI memang masih ada izin sampai 2020. Tapi berizin atau tidak, kami menolak tegas apapun bentuk eksploitasi satwa. Eksploitasi juga sama sekali bukan bentuk edukasi,” kata Angelina Pane, Rabu (17/7).

Apalagi aturan Pedoman Peragaan Lumba-lumba mengabaikan Pedoman Etika dan Kesejahteraan Satwa seperti diatur dalam Peraturan Dirjen PHKA No P.9/IV/2011. Bahkan menganulir aturan Dirjen PHKA tahun 2013 yang melarang sirkus keliling lumba-lumba. (bn1/wan)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: