Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Protes Gaza di Mesir: Kantor Polisi Diserbu, Dokumen Rahasia Dibocorkan

Protes Gaza di Mesir: Kantor Polisi Diserbu, Dokumen Rahasia Dibocorkan

  • calendar_month Ming, 27 Jul 2025

BNews–INTERNASIONAL – Sebuah video viral menunjukkan aksi nekat sejumlah pemuda Mesir yang menyerbu kantor polisi sebagai bentuk protes terhadap krisis kemanusiaan di Gaza. Aksi ini dipicu oleh kemarahan atas kelaparan massal yang terjadi akibat blokade Israel, serta tudingan bahwa pemerintah Mesir turut andil dalam tragedi tersebut.

Kelompok pemuda yang menamakan diri mereka “Iron 17” menyerang markas Keamanan Negara Ma’asara di Helwan, Mesir, pada Jumat malam, 25 Juli 2025.

Dalam insiden tersebut, mereka dilaporkan menyandera sejumlah petugas keamanan selama beberapa jam.

Serangan ini disebut sebagai aksi paling berani terhadap simbol kekuasaan negara sejak Presiden Abdel Fattah al-Sisi berkuasa pada 2013.

Aksi tersebut dipicu oleh ketegangan yang meningkat akibat peran Mesir dalam penutupan penyeberangan Rafah, satu-satunya jalur keluar-masuk utama bagi penduduk Gaza.

Sejak Israel menguasai sisi Palestina dari perlintasan itu pada Mei 2024, puluhan warga Gaza, termasuk anak-anak; meninggal dunia akibat kelaparan, sebagaimana dilaporkan oleh Kementerian Kesehatan Palestina.

Pemerintah Mesir membantah bertanggung jawab atas penutupan tersebut, namun banyak pihak menilai rezim gagal menekan agar Rafah dibuka kembali. Publik pun geram, menilai sikap Mesir sebagai bentuk tunduk pada tekanan Israel dan Amerika Serikat.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

Pernyataan kontroversial Gubernur Sinai Utara, Khaled Megawer, dalam wawancara dengan jurnalis pro-rezim Mustafa Bakri, memperkeruh suasana.

Ia mengakui bahwa Mesir tidak dapat membuka Rafah secara paksa karena ditentang oleh AS. Pengakuan ini dianggap sebagai bukti keterlibatan Kairo dalam memperparah krisis kemanusiaan.

Melalui kanal Telegram Nation’s Flood yang memiliki hampir 50.000 pelanggan, beredar video yang menunjukkan para pemuda memasuki kantor Keamanan Negara Ma’asara dan menahan petugas di dalamnya.

Dalam salah satu rekaman, seorang petugas yang disandera menanggapi desakan untuk membuka Rafah dengan satu kata: “Mustahil.”

Menurut laporan Middle East Eye, video-video tersebut telah ditonton jutaan kali dan menjadi bukti nyata dari kemarahan publik terhadap rezim. Bocoran dokumen keamanan yang juga dibagikan melalui kanal yang sama mengungkap nama-nama individu yang masuk dalam daftar pengawasan ketat negara.

Dokumen itu menunjukkan bahwa para tahanan yang dibebaskan diwajibkan melapor secara rutin ke kantor polisi.

Salah satu video menjelaskan bahwa kelompok “Iron 17” memilih menyerbu kantor pada saat salat Jumat, memanfaatkan lemahnya pengamanan. Beberapa mantan tahanan juga mengonfirmasi kemudahan akses ke kantor yang berada di lantai empat, celah yang dimanfaatkan oleh kelompok tersebut.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

Bocoran lainnya memuat klasifikasi keamanan yang melabeli individu sebagai simpatisan Ikhwanul Muslimin atau kelompok Salafi; serta data tahanan yang saat ini masih ditahan atau bahkan hilang secara paksa.

Fakta-fakta ini diperkuat oleh FactCheckar, sebuah lembaga independen pemeriksa fakta, yang memverifikasi; beberapa nama seperti Fathi Rajab Hassan Ahmed dan Ahmed Nadi Haddad Darwish, yang terkait kasus “Brigade Helwan”.

Kementerian Dalam Negeri Mesir langsung membantah keaslian video tersebut. Pihaknya menyatakan video itu merupakan bagian dari konspirasi yang dipimpin oleh Ikhwanul Muslimin.

Meskipun menyebut telah menangkap penyebar video, mereka tidak mengomentari keabsahan dokumen yang bocor. Al-Azhar pun memilih untuk tidak membahas isinya.

Namun penyangkalan ini justru mengundang kritik. Banyak pihak menilai pemerintah menutup-nutupi isu dan menganggap protes sah; sebagai ancaman asing. Video terakhir yang diunggah di kanal Nation’s Flood menunjukkan salah satu pemuda dengan pakaian robek dan luka di tubuh; menyatakan bahwa mereka bukan teroris dan hanya membawa senjata suara kosong untuk menyampaikan pesan damai.

Ia meminta jaminan bahwa para petugas yang ditahan tidak akan disakiti bila mereka menyerah. Namun, komunikasi dengan kelompok tersebut terputus tak lama setelah itu.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

Semua unggahan di kanal Telegram lenyap, memunculkan spekulasi bahwa saluran itu telah diambil alih aparat atau dihapus oleh adminnya.

Beberapa jam sebelum menghilang, kanal itu merilis pernyataan audio bergaya komunike faksi Palestina yang mengklaim tanggung jawab atas operasi “Iron 17”.

Pernyataan yang dikaitkan dengan dua tokoh, Ahmed Abdel Wahab dan Mohsen Mustafa, menolak afiliasi politik dan menggambarkan kelompok mereka sebagai “pewaris Umar bin al-Khattab dan Amr bin al-Aas”, dua tokoh Islam yang identik dengan keadilan dan kekuatan.

Pesan mereka tegas: akhiri genosida di Gaza dan hentikan represi terhadap rakyat Mesir. Mereka menyebut bangsa Mesir sedang menerima “pukulan telak” dan bersumpah akan membangkitkan semangat nasionalisme.

Reaksi masyarakat pun terpolarisasi. Sebagian meragukan keaslian video, namun banyak pula yang menganggapnya sebagai seruan sah dari rakyat yang sudah muak. Para analis menilai, tindakan ekstrem seperti ini adalah akibat dari represi rezim dan ketatnya pengawasan yang mendorong warga melakukan aksi nekat.

Di sisi lain, pihak pro-pemerintah menuduh Ikhwanul Muslimin serta aktor asing sebagai dalang di balik penyebaran video dan misinformasi.

Pada Sabtu pagi, juru bicara presiden Mesir mengunggah pernyataan bahwa Presiden Sisi bertemu dengan Menteri Dalam Negeri Mahmoud Tawfiq. Meski tidak menjelaskan topik pembicaraan, media pro-rezim menyebut pertemuan itu membahas situasi keamanan terkini dan kemungkinan reshuffle kementerian.

Insiden Ma’asara ini juga tidak terjadi dalam ruang hampa. Sebelumnya, gelombang protes sempat meletus di luar kedutaan Mesir di beberapa ibu kota Eropa. Di Belanda, aktivis Anas Habib bahkan mengunci pintu gerbang kedutaan sebagai simbol protes terhadap penutupan Rafah.

Aksi protes itu kini menjalar ke kota-kota lain, menyatukan warga Mesir di dalam dan luar negeri yang menolak keterlibatan pemerintah dalam penderitaan Gaza. Operasi Ma’asara dinilai sebagai puncak kemarahan tersebut, sekaligus memperlihatkan bahwa ketegangan kini tak hanya hadir di media sosial, tapi juga dalam bentuk aksi nyata.

Dengan krisis ekonomi dan sosial yang masih melanda Mesir, para analis memperingatkan bahwa represi yang terus berlanjut bisa memicu gelombang perlawanan yang lebih besar. Insiden Ma’asara kini disebut-sebut sebagai gema dari Revolusi 25 Januari, menandai potensi titik balik dalam dinamika politik Mesir. (*/SIndo)

About The Author

  • Penulis: BNews 7

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less