Sandang Gelar Daeng, Ganjar Seharian Kenakan Baju Adat Makasar

BNews—SEMARANG— Penampilan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo seharian ini (22/8) menyita perhatian. Tidak seperti biasanya, gubernur mengenakan pakaian adat dari Makasar.

Bukan tanpa alasan Ganjar mengenakan baju adat tersebut. Ganjar sendiri sudah dinobatkan sebagai keluarga selatan dengan gelar Daeng Manaba. Gelar untuk bangsawan Bugis itu  diberikan oleh kesepuluh raja Sulsel. Penganugerahan gelar ditandai dengan penyerahan keris dari Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo.

“Ini busana dari Sulawesi Selatan. Bajunya bagus, sarung merah ini coraknya juga bagus. Bukan alasan, saya sudah dinobatkan sebagai keluarga Sulawesi Selatan dengan sebutan Daeng Manaba,” katanya dihadapan peserta Munas dan Konferensi Nasional IV Forum Komunikasi Satuan Pengawas Intern di Hotel Po Semarang.

Diungkapkan, sejarah telah menunjukan bahwa hubungan antar suku di Indonesia memiliki kepentingan yang sama untuk mendirikan bangsa Indonesia. Sejarah itu perlu dijadikan contoh untuk generasi saat ini.

“Cekcok antar suku, sara, itu jadul. Anak bangsa yang betul ya seperti hari ini. Republik ini lahir dari berbagai golongan. Tidak ada yang utama, semua sama,” katanya.

Ganjar mengaku, meski dirinya dari Jawa Tengah telah belajar banyak dari suku Bugis. Terutama keberaniannya mengarungi samudera.

“Tali ini tidak hanya mengikat saya tapi mengikat juga orang Jateng dan Sulsel. Kita berjuang mencapai kejayaan Indonesia, kita menjadi pelopor,” katanya.

Selain menghadiri acara di Hotel PO, MG Suites, Ganjar juga menghadiri acara Seminar Nasional Keluarga Alumni Universitas Gajah Mada (Kagama) di Museum Ronggowarsito. Ganjar tetap mengenakan busana Makasar itu.

Untuk diketahui, setiap Hari Kamis pekan terakhir setiap bulannya, penggunaan busana Nusantara di wajibkan bagi para pegawai Pemprov Jateng. Hal itu,  pun telah dituangkan melalui surat edaran (SE) Nomor 065/0016031/2019. Para pegawai dan karyawan Pemprov Jateng wajib mengenakan pakaian adat Jawa pada Kamis pekan pertama hingga ketiga, dan pakaian adat Nusantara pada Kamis pekan terakhir.

Sejumlah pejabat dan staf pun penampilannya tidak kalah menawan dan tampak “manglingi” saat pakaian adat Nusa Tenggara Timur, Minang, Batak, Betawi, Sunda, hingga pakaian adat Madura, Jawa Timur membalut tubuh ASN di Setda Provinsi Jawa Tengah.

Suasana ASN Setda pada Kamis (22/8/2019) pun seolah mendadak bak peserta karnaval “Bhineka Tunggal Ika” saat apel pagi.

Sri Juaini Usahawati, PNS bagian protokol yang akrab disapa Enny memilih mengenakan busana Bali karena sebelum ada kebijakan itu, ia sudah memiliki koleksi lebih dari lima. Selain karena coraknya yang menarik, keluarga besarnya memang berasal dari Bali.

“Selain dari Bali, saya juga punya koleksi dari Palembang dan Kalimantan Dayak. Dengan kebijakan ini, koleksi saya nanti bisa tambah banyak. Ini juga memgangkat kebudayaan dan keragaman,” kata ibu dua anak yang juga warga Jalan Indraprasta itu. (lhr/wan)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: