Sidang Perdana Kasus Pembunuhan 3 Orang Sekeluarga di Magelang, Terdakwa Dihadirkan

BNews–MAGELANG-– Akhirnya sidang perdana kasus pembunuhan tiga orang sekeluarga di Mertoydan Magelang digelar. Dimana Terdakwa pembunuhan Dhio Daffa, 22 dihadirkan di ruang sidang utama Pengadilan Negeri Mungkid kemarin (2/3/2023).

Pada didang tersebut, dipimpin Ketua Majelis Hakim Darminto Hutasoit, dengan hakim anggota I Made Sudiarta, dan Asri. Kemudian jaksa penuntut umum Nophan Ariyanto, Reni Ritama dan Tri Widiyani Ambarwati.

Saat sidang, terdakwa Dhio memakai baju warna putih dan celana panjang warna hitam. Kemudian dia memakai rompi warna merah dan memakai peci serta sepatu. Dia duduk di kursi pesakitan untuk mendengarkan surat dakwaan sebanyak 10 lembar yang dibaca secara bergantian.

“Tanggal 28 November 2022 sekira pukul 07.00 WIB, di rumah Dusun Prajenan, Desa Mertoyudan, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang; dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain yaitu Abas Azhar, Heri Riyani dan Dhea Chairunnisa,” kata Nophan dalam persidangan di Pengadilan Negeri Mungkid, Kamis (2/3/2023).

Jaksa mengungkapkan pada tanggal 15 November 2022 saat berada di kamar terdakwa punya rencana untuk melakukan pembunuhan kepada orang tua dan kakaknya dengan racun. Kemudian, dia mencari informasi melalui Google mengenai jenis racun.

“Tanggal 16 November 2022 terdakwa memperoleh referensi tentang kasus Munir yang meninggal akibat racun arsenik. Selanjutnya, tanggal 17 November 2022 sekira pukul 09.45, di dalam kamar terdakwa memesan arsenik tiga wadah,” ujarnya.

Adapun pesanan tersebut dikirim kurir tiba di rumahnya pada, Sabtu (19/11). Selanjutnya, pesanan tersebut disimpan di lemari kamar terdakwa. Terdakwa Dhio disebut punsempat mencampurkan racun dalam dawet yang dibelinya.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

“Pada Rabu 23 November 2022, sekira pukul 04.00 WIB, saat berada di Purworejo dan hendak pulang ke Magelang, ibu terdakwa Heri Riyani menelepon meminta terdakwa untuk membelikan empat bungkus dawet di Jembatan Butuh. Terdakwa memiliki rencana untuk memasukkan arsenik dalam dawet. Saat berhenti di SPBU terdakwa menuangkan bubuk arsenik dalam empat bungkus dawet dan dicampur,” tuturnya.

Dalam perjalanan pulang, terdakwa membuang bungkus arsenik di tempat pembuangan sampah Dampit. Sesampainya di rumah, empat bungkus dawet tersebut dituangkan dalam empat gelas kemudian diberikan Heri Riyani kepada Setyo S (paman terdakwa).

Terdakwa menyaksikan ayahnya, ibu dan kakaknya serta pamannya setelah minum dawet mengalami mual hingga berobat menuju dokter. Namun, percobaan pembunuhan itu gagal.

Lalu pada Kamis (24/11), pukul 09.00 WIB, terdakwa kembali memesan racun. Terdakwa kemudian mencari informasi di Google menemukan racun yang lebih kuat dari yang dibeli sebelumnya, yang digunakan dalam kasus Jessica atas korban Mirna.

Berikutnya, terdakwa memesan kalium sianida sebanyak 100 gram. Pesanan tersebut diambil di jasa pengiriman, kemudian disimpan dalam Toyota Innova.

“Pada Senin 28 November 2022 sekira pukul 06.00 WIB, terdakwa mengambil kalium sianida. Terus pukul 06.50 WIB, Heri Riyani membuat minuman panas dari air dispenser, kemudian terdakwa keluar dari kamar melihat segelas es kopi dan dua gelas teh panas yang masing-masing terdapat sendok. Terdakwa bolak-balik kamar sebanyak 4 kali untuk memastikan situasi aman. Terdakwa duduk di kursi depan komputer sambil berencana menuangkan kalium sianida yang dibawa di saku dalam tiga gelas untuk orang tua dan kakaknya,” urai jaksa.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Setelah itu, terdakwa duduk bermain komputer sambil memantau reaksi dari racun sianida tersebut. Sekitar 15 menit kemudian, korban Heri Riyani menuju kamar mandi karena mual.

Kemudian, disusul Abas yang juga muntah-muntah di kamar mandi. Demikian halnya, Dhea Chairunnisa juga muntah-muntah di kamar mandi. Sisa muntahan ini, lalu dibersihkan terdakwa.

“Terdakwa sempat menelepon pacarnya dan pakde yang menggambarkan ayah dan ibunya pingsan di kamar mandi. Termasuk menelepon asisten rumah tangga Sartina. Sartina terus menuju kamar mandi Heri Riyani diangkat ke kasur ruang keluarga dan mencoba menekan dada korban, namun sudah tidak ada respons,” terang JPU Reni.

“Saksi Sartina menuju kamar mandi Abas terus mengangkat ke kamar dan menekan dada korban tidak ada respons. Saksi Sartina, menuju kamar mandi Dhea sudah tidak sadarkan diri dan terdakwa menekankan dada korban, tapi tidak ada respons,” sambungnya.

Setelah itu, korban Abas dibawa menuju Rumah Sakit Merah Putih dan dinyatakan meninggal dunia. Kemudian korban Heri Riyani dan Dhea diperiksa tetangga yang berprofesi sebagai dokter dan keduanya sudah meninggal.

Kemudian untuk memastikan, kedua korban dibawa menuju Rumah Sakit Merah Putih dan oleh dokter dinyatakan meninggal dunia.

“Terdakwa melakukan pembunuhan dengan rencana terlebih dahulu terhadap ayah, ibu serta kakak kandungnya berdasarkan keterangan dari terdakwa. Baik ayah dan ibu terdakwa selalu menanyakan dan menagih terkait uang yang digunakan oleh terdakwa dengan alasan investasi yang ternyata fiktif,” ujarnya.

“Kami dari jaksa penuntut umum mendakwa dengan dua pasal sifatnya subsidaritas. Yang pertama pasal 340 dengan pembunuhan berencana, yang kedua pasal 338. Kalau 340 ancaman maksimal bisa hukuman mati, 338 ancaman antara 15 sampai 20 tahun penjara, seumur hidup,” tegas Nophan usai persidangan.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Sementara itu, penasihat hukum terdakwa, Vickie Adhisyah mengatakan alasan tidak mengajukan tanggapan atau eksepsi. Alasannya, berdasarkan dakwaan yang dibacakan dan fakta-fakta yang terjadi tidak keberatan.

“Karena tempat kejadian dan sebagainya sudah diakui terdakwa. Untuk prosesnya kita mengikuti sidangnya, yang penting pembuktian,” tegasnya.

Sidang dakwaan ini kemudian akan dilanjutkan dengan pembuktian. Pekan depan diagendakan keterangan saksi sebanyak empat orang.

“Lalu untuk pembuktian minggu depan. Rencana agenda saksi per empat orang, Kamis (9/3),” kata Juru bicara sidang perkara Dhio dari Pengadilan Negeri Mungkid, Fakrudin Said Ngaji.

“(alasan sidang offline) Pertama sudah edaran dari rutan bisa sidang offline. Yang kedua, menarik perhatian biar komunikasinya lebih enak antara terdakwa, penasihat hukum. Intinya menarik perhatian. Ya Pak Ketua sendiri yang menjadi Ketua Majelis karena salah satunya faktor persidangan menarik perhatian,” pungkasnya. (*)

About The Author

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!