Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Tak Cuma Mistis, Ini Hikmah Spiritual Bulan Suro dan Muharram yang Bikin Merinding

Tak Cuma Mistis, Ini Hikmah Spiritual Bulan Suro dan Muharram yang Bikin Merinding

  • calendar_month Jum, 27 Jun 2025

BNews-NASIONAL- Bulan Suro, bagi masyarakat Jawa, bukanlah bulan biasa. Ia adalah awal tahun baru dalam kalender Jawa, yang seringkali bertepatan dengan bulan Muharram dalam kalender Hijriah.

Pertemuan dua penanggalan ini menciptakan sebuah periode yang kaya makna, memadukan tradisi, kepercayaan, dan ajaran agama.

Di bulan Suro, berbagai ritual dan pantangan dijalankan oleh sebagian masyarakat Jawa, yang sebagian di antaranya memiliki kaitan erat dengan nilai-nilai keislaman.

Bulan Suro dalam Perspektif Tradisi Jawa: Keselarasan dan Kehati-hatian

Menurut adat dan tradisi Jawa, bulan Suro adalah waktu yang penuh dengan aura mistis, kesakralan, dan introspeksi.

Masyarakat Jawa sangat meyakini bahwa di bulan ini, batas antara dunia nyata dan gaib menjadi lebih tipis, sehingga energi spiritual dipercaya lebih kuat.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA (KLIK DISINI)

Oleh karena itu, ada beberapa hal yang lazim dilakukan dan dihindari:

  1. Tapa Brata dan Tirakat:

Banyak masyarakat Jawa memilih untuk melakukan tapa brata atau tirakat di bulan Suro. Ini adalah praktik spiritual untuk mendekatkan diri kepada Tuhan atau mencari keselarasan batin.

Bentuknya bisa beragam, mulai dari puasa mutih (hanya makan nasi putih dan minum air putih), puasa ngebleng (tidak makan, minum, dan tidur); hingga mengurangi bicara atau menghindari hiburan duniawi.

Tujuannya adalah membersihkan diri dari hal-hal negatif dan memperkuat rohani. Beberapa juga memilih untuk melakukan ziarah ke makam leluhur atau tempat-tempat keramat untuk mendoakan dan mencari berkah.

  1. Upacara Adat dan Ritual Selamatan:

Berbagai upacara adat sering digelar di bulan Suro, seperti Kirab Pusaka yang biasanya diadakan di keraton-keraton Jawa. Pusaka-pusaka keraton dicuci atau dijamas dalam sebuah ritual sakral yang disebut Jamasan Pusaka.

Prosesi ini diyakini membersihkan dan mengisi kembali energi positif pada pusaka, serta menjadi simbol pembersihan diri bagi masyarakat.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA (KLIK DISINI)

Selain itu, selamatan atau kenduri juga umum diadakan di tingkat keluarga atau komunitas.

Selamatan ini merupakan wujud syukur, doa keselamatan, dan upaya menolak bala, dengan menyajikan makanan khas dan doa bersama.

  1. Larangan dan Pantangan:

Ada beberapa pantangan yang masih diyakini oleh sebagian masyarakat Jawa di bulan Suro, terutama pada malam 1 Suro:

Menyelenggarakan Pernikahan: Banyak yang menghindari pernikahan di bulan Suro karena dianggap kurang baik atau bisa membawa kesialan dalam rumah tangga.

Pindah Rumah atau Memulai Usaha Baru: Aktivitas besar yang melibatkan perubahan signifikan dalam hidup juga sering dihindari, khawatir akan adanya rintangan atau ketidakberuntungan.

Bepergian Jauh (untuk hal tidak penting): Beberapa orang memilih untuk tidak bepergian jauh kecuali untuk keperluan mendesak, lebih memilih berdiam diri di rumah untuk merenung.

Membuat Keramaian atau Pesta Berlebihan: Suro adalah bulan introspeksi, sehingga suasana hening dan khidmat lebih diutamakan. Keramaian yang berlebihan dianggap kurang sesuai dengan nuansa bulan ini.

Pantangan-pantangan ini didasari oleh keyakinan bahwa di bulan Suro, energi alam sedang bergejolak atau “terbuka,” sehingga diperlukan kehati-hatian ekstra untuk menjaga keselamatan dan keberuntungan.

Bulan Muharram dalam Perspektif Agama Islam: Keutamaan dan Amalan Sunah

Secara historis, penentuan awal bulan Suro dalam kalender Jawa memang erat kaitannya dengan penetapan awal bulan Muharram dalam kalender Hijriah oleh Sultan Agung Mataram.

KLIK DISINI UNTUK LANJUT MEMBACA

About The Author

  • Penulis: BNews 2

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less