Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Tak Cuma Mistis, Ini Hikmah Spiritual Bulan Suro dan Muharram yang Bikin Merinding

Tak Cuma Mistis, Ini Hikmah Spiritual Bulan Suro dan Muharram yang Bikin Merinding

  • calendar_month Jum, 27 Jun 2025

Dalam ajaran Islam, Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram (mulia) selain Rajab, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah. Bulan Muharram memiliki keutamaan dan beberapa amalan sunah yang dianjurkan:

  1. Puasa Sunah:

Puasa sunah di bulan Muharram sangat dianjurkan, terutama Puasa Tasu’a (9 Muharram) dan Puasa Asyura (10 Muharram). Nabi Muhammad SAW sangat menganjurkan puasa Asyura, bahkan disebutkan dapat menghapus dosa-dosa setahun yang lalu. Jika tidak bisa berpuasa di tanggal 9 dan 10, dianjurkan untuk menambahkan puasa di tanggal 11 Muharram (puasa Tasu’a, Asyura, dan 11 Muharram).

  1. Memperbanyak Sedekah:

Bulan Muharram, khususnya tanggal 10 Muharram, adalah hari yang baik untuk memperbanyak sedekah kepada fakir miskin dan anak yatim. Memberi nafkah lebih kepada keluarga di hari Asyura juga diyakini dapat melapangkan rezeki sepanjang tahun.

  1. Menyantuni Anak Yatim:

Ada keutamaan khusus untuk menyantuni anak yatim pada tanggal 10 Muharram. Mengusap kepala anak yatim di hari Asyura diyakini dapat mendatangkan keberkahan.

  1. Memperbanyak Ibadah dan Dzikir:

Seperti di bulan-bulan mulia lainnya, Muharram adalah waktu yang tepat untuk memperbanyak ibadah, seperti shalat sunah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan berdoa. Meningkatkan kualitas ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT sangat dianjurkan.

  1. Bertobat dan Memperbaiki Diri:

Muharram sebagai awal tahun baru Islam juga menjadi momentum yang baik untuk muhasabah (introspeksi diri), bertobat dari dosa-dosa, dan bertekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik di masa mendatang.

Sinergi Tradisi dan Agama: Sebuah Kearifan Lokal

Meskipun terdapat perbedaan mendasar antara ritual adat Jawa dan ajaran syariat Islam, di bulan Suro ini kita dapat melihat adanya titik temu dan sinergi.

Praktik tapa brata atau tirakat dalam tradisi Jawa, misalnya, seringkali diwujudkan dalam bentuk puasa, yang sejalan dengan anjuran puasa sunah dalam Islam di bulan Muharram. Upaya membersihkan diri dari hal-hal negatif dalam tradisi Jawa juga sejalan dengan anjuran bertobat dan memperbanyak ibadah dalam Islam.

Cek Video Viral dan Video Update di BorobudurNewsTV (KLIK DISINI)

Selamatan atau kenduri yang merupakan wujud syukur dan doa tolak bala, dapat dilihat sebagai bentuk sedekah dan doa bersama, yang juga dianjurkan dalam Islam.

Intinya, baik tradisi maupun agama sama-sama menganjurkan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, melakukan introspeksi, dan berbuat kebaikan di awal tahun baru ini.

Perpaduan ini menunjukkan kearifan lokal masyarakat Jawa dalam mengadaptasi dan mengharmoniskan kepercayaan turun-temurun dengan ajaran agama yang dianut.

Bulan Suro, dengan demikian, menjadi momen yang tepat untuk menjaga tradisi, memperkuat keimanan, dan memohon keberkahan untuk satu tahun ke depan. Ini adalah cerminan kekayaan budaya dan spiritualitas bangsa Indonesia yang patut dijaga dan dilestarikan. (Borobudur News)

About The Author

  • Penulis: BNews 2

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less