Tanggapan Bank Bapas 69 Terkait Kasus Kredit Fiktif Oleh Anggota DPRD Magelang

BNews–MAGELANG– Terkait kasus dugaan korupsi di Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Bank Bapas 69 dengan modus mengajukan pinjaman atau kredit fiktif Rp 11,6 miliar. Pihak bank milik Pemkab Magelang tersebut memberikan tanggapan.

Dimana yang jadi tersangka pelaku adalah seorang anggota DPRD Kota Magelang, berinisial SN, 42,. Kasusnya menurut informasi akan dilimpahkan ke pengadilan.

Direktur Utama Bank Bapas 69 Kabupaten Magelang, Rohmad Widodo, mengatakan bahwa Bank Bapas 69 menjadi korban dari sindikat karena korbannya tidak hanya di Magelang.

“Kita menjadi korban dari istilahnya sindikat yang mana korbannya tidak hanya kita (Bapas 69). Ada 7 bank sebetulnya yang menjadi korban tidak hanya di Magelang. Yang paling besar dan paling banyak malah di wilayah DIY, Yogya,” kata Rohmad saat diwawancarai awak media (13/8/2021).

Rohmad juga menyampaikan juga bahwa kasus tersebut sebenarnya sudah lama di tahun 2018 lalu. “Cuma prosesnya begitu mundur-mundur sampai kemarin diberitakan itu. Dan memang itu betul-betul apa adanya seperti itu,” ujarnya.

Menurut Rohmad, terkait kasus tersebut pihak Bapas 69 telah membentuk penyisihan penghapusan aktiva produktif (PPAP) sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dia menyebut kasus tersebut tidak berdampak pada kinerja bank.

“Kasus yang terjadi terkait penyalahgunaan kredit oleh PT Indonusa Telemedia Magelang secara regulasi bank sudah membentuk PPAP sesuai ketentuan yang berlaku. Kami sampaikan kasus tersebut tidak berdampak bagi kinerja bank, yang mempengaruhi kinerja bank pada saat ini dampak pandemi COVID-19 yang belum usai sehingga menghambat ruang gerak kami dalam melakukan operasional perbankan,” kata Rohmad.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Kasus tersebut, katanya, terjadi pada tahun 2018. Untuk itu, Bapas 69 telah mempersiapkan segala kemungkinannya termasuk pencadangan PPAP sebesar Rp 11 miliar.

“Insyaallah karena itu sudah terjadi jauh-jauh tahun sebelumnya, kita sudah mempersiapkan segala kemungkinannya. Sudah kita persiapkan dan antisipasi termasuk pencadangan PPAP yang sebesar Rp 11 miliar sudah dicadangkan saat ini. Untuk itu, sama sekali tidak ada pengaruh terhadap kinerja bank,” tegasnya.

Ia juga meneceritakan untuk kronologi proses kredit yang dilakukan SN menjabat Manager PT Indonusa Telemedia Magelang sebelum menjadi anggota DPRD Kota Magelang. Yakni SN mengajukan kerja sama kredit terhadap karyawannya. Kemudian, dilakukan pengecekan terhadap lokasi kantor dan 24 karyawan yang betul-betul karyawan setempat.

“Dari proses awal itu proses dijalankan sesuai dengan SOP yang ada. Saat pencairan ataupun proses pengajuan seperti potong gaji seperti biasa. Datang sendiri, mengajukan sendiri dengan SK, dengan seragam, ada emblem-nya (indetitas diri) yang 24 betul-betul karyawan. Sampai dengan bulan Juli 2020 itu masih lancar,” ujarnya.

Bapas 69 mulai curiga setelah kredit sempat diputus Juli sampai Desember 2019. Kemudian dibuka kembali pada Januari 2020, muncul kecurigaan terhadap calon nasabah.

“Saat itu baru agak curiga. Istilahnya on the spot, kita on the spot ke masing-masing nasabah baru ketahuan. Dan itu, sudah di-tracking ke semua nasabah ternyata memang banyak yang diakukan (diklaim) menjadi karyawan dan kita yang menemukan pertama kali,” ujarnya.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

“Maksudnya Bapas itu daripada bank lain pertama kali yang menemukan hal tersebut. Baru selang ganti tahun, baru bank-bank yang lain bermunculan ternyata modelnya selain untuk pembelian aset oleh pelaku, juga untuk gali lubang tutup lubang. Sehingga yang bikin kredit itu lancar ternyata gali lubang tutup lubang, seperti itu. Membengkak gedhe-gedhe nyelak jero (jumlahnya banyak)” tuturnya.

Diberitakan sebelumnya, anggota DPRD Kota Magelang, inisial SN (42), jadi tersangka dugaan korupsi di PD BPR Bank Bapas 69. Modus tersangka dengan mengajukan pinjaman atau kredit fiktif diduga menimbulkan kerugian negara senilai Rp 11,6 miliar.

“Kami tetapkan tersangka saudara SN (42), mantan cluster manager PT Indonusa Telemedia Magelang dan juga anggota DPRD Kota Magelang,” kata Kasat Reskrim Polres Magelang AKP M Alfan, saat pers rilis di Polres Magelang, Rabu (4/8).

Menurut Alfan, dalam kurun waktu sekitar bulan Mei 2018 sampai Juli 2020, tersangka diduga melakukan kerja sama dengan PD BPR Bank Bapas 69 Magelang untuk fasilitas kredit karyawan PT Indonusa Telemedia. Namun, karyawan yang melakukan pinjaman tersebut diduga fiktif.

“Di mana karyawan yang melakukan pinjaman tersebut diduga adalah fiktif. Berdasarkan hasil audit menimbulkan kerugian negara sebesar Rp 11.687.956.665,” jelas Alfan.

Alfan mengatakan, jumlah karyawan yang mengajukan pinjaman sebanyak 300 orang. Setelah dilakukan audit internal ternyata 251 orang bukan karyawan PT Indonusa Telemedia.

“Peminjaman kredit karyawan PT Indonusa Telemedia sebanyak 300. Kemudian setelah dilakukan audit internal PD Bank Bapas 69 diketahui sekitar 251 karyawan yang meminjam kredit ternyata adalah bukan karyawan dari PT Indonusa Telemedia,” ujarnya.

“Dari hasil penyelidikan untuk nama-nama yang awalnya sebagai karyawan tersebut ternyata disuruh oleh tersangka untuk berpura-pura sebagai karyawan di PT Indonusa Telemedia kemudian mengajukan pinjaman kredit,” imbuh Alfan. (bsn)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: