Tradisi Wiwitan Jelang Panen Padi Berpotensi Jadi Paket Wisata Budaya

BNews–MAGELANG– Di era modern saat ini, tradisi peninggalan leluhur jawa banyak mulai tergusur. Salah satunya adalah Wiwitan yang artinya selamatan menjelang panen padi.

Oleh sebab itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan meluncurkan program Pemajuan Kebudayaan Desa. Dan kali ini prosesi ritual digelar oleh warga Dusun Ngaran 1 Desa Borobudur Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang (21/3/2022).

Tradisi wiwitan ini dimulai dari rumah petani, yakni proses memasak uborampe yang akan dibawa ke area persawahan. Mulai tumpeng, jajanan pasar dan ingkung (ayam utuh).

Selanjutnya uborampe diarak oleh pemilik sawah bersama ibu-ibu yang akan memanen padi dengan cara tradisional. Sesampainya di area persawahan, uborambe didoakan dan makan bersama.

Tokoh sesepuh dusun, dalam hal ini Diyono, 65, melanjutkan membawa pucuk tumpeng dan sedikit uborampe ditaruh di area padi yang akan dipanen. Ia juga menancapkan janur kuning di empat penjuru sawah padi tersebut.

 Diyono kepada awak media mengatakan, wiwitan adalah upacara tradisi petani dengan meletakkan sesajen di pematang sawah.  Hal ini dilakukan sebagai pemaknaan tanda rasa syukur kepada Tuhan YME.

“Jika tidak diberi wiwitan, ditakutkan  hasilnya sedikit alias tidak sama seperti keadaan yang ada di sawah. Serta terpenting ini sebagai rasa ucap syukur kepada Tuhan atas panen yang diberikan,”  katanya.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Ia juga menyebutkan, untuk janur kuning sendiri sebagai tanda tolak balak. “Ya kepercayaan kami agar terdapat tolak balak. Dan uborampe juga ada sisir kaca untuk memanggil dewi sri yang dipercaya sebagai perantara menumbuhkan padi sebelum panen,” tandasnya.

Sementara itu, dalam kesempatan sama Panji Kusuma selaku Lembaga Eksotika Desa ikut hadir. Dimana kebetulan lembag tersebut membantu porogram Dirtjen Kebudayaan untuk merawat budaya yang ada di kawasan Borobudur.

Ia mengatakan bahwa program pemajuan desa dilakukan di setiap desa Borobudur. Dengan cara menggali potensi-potensi budaya dan permasalahannya.

Dengan harapan, lanjutnya agar masyarakat desa Borobudur dan generasi muda  semakin mendekatkan diri pada nilai budaya lokal yang ada.

“Dalam melaksanakan amanah UU no. 5 th 2017 tentang  pemajuan kebudayaan, kami berupaya menggali potensi budaya khsusnya budaya spiritual. Dan kebetulan ada tradisi wiwitan di desa ini,” paparnya.

Ia juga mengaku menggandeng pihak Kemenparekraf, yang kebetulan sedang melakukan pendampingan Desa Wisata, termasuk di Desa Borobudur. “Jadi selain kegiatan wiwitan sebai upaya melestarikan budaya, hal ini juga bisa mengembangan wisata budaya. Sehingga adanya dari kemeparekarf jadi gayung bersambung,” tambahnya.

Ditambahkan juga, Yani Adriani dari Pusat Perencanaan dan pengembangan Kepariwisataan ITB bahwa pihaknya dengan kemenparekraf sedang meyusun roadmap pengembangan wisata. “Jadi tradisi ini kami diajak melihat langsung proses wiwit dan cara menanam padi secara tradisional. Dimana hal ini bisa dikembangkan menjadi wisata budaya yang lebih beragam,” tambahnya.

Kedepan, katanya pihaknya akan terus  berkolaborasi dengan kemendikbud untuk mengidentifikasi potensi setiap desa di Borobudur.  “Dan saat ini yangg sedang dilakukan adalah untuk menkaji proses ini. Dimana nilai-nalai ini sangat potensial unutk menjadi program atau paket wisata. Dimana sekarang arahnya ke kualitas. Sehingga diharapkan wsiatawan nanti dapet nilai filosofi, nilai kehidupan dari rangkaian budaya tradisi yang ditanamkan,” pungkasnya. (put/bsn)

About The Author

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!