Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Umat Hindu di Magelang Gelar Pawai Ogoh-ogoh Jelang Nyepi 2026

Umat Hindu di Magelang Gelar Pawai Ogoh-ogoh Jelang Nyepi 2026

  • calendar_month Ming, 15 Mar 2026

BNews–MAGELANG– Umat Hindu di Magelang menggelar kirab budaya dan ogoh-ogoh sebagai rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi 2026. Sebanyak tiga ogoh-ogoh diarak menyusuri jalan Jend. Sarwo Edhie Wibowo dan menjadi tontonan ratusan warga, Sabtu (14/3/2026).

Pawai ogoh-ogoh ini dimulai dari kawasan Artos Mall hingga Pura Wira Buwana di Kompleks Akmil Magelang.

“Umat Hindu Magelang melaksanakan kirab budaya. Artinya kirab adalah memperlihatkan atau menguri-uri budaya, khususnya orang-orang Bali yang berada di Magelang,” kata Penasihat Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Magelang, I Gede Suwarti di Pura Wira Buwana, Sabtu (14/3/2026).

Dia menyebut, kegiatan ini mengambil tema Catur Netra. Ogoh-ogoh hadir sebagai simbol kerakusan/keserakahan yang menguasai jiwa manusia. Nama Catur Netra diambil dari konsep empat mata yang melambangkan pengawasan tak terbatas.

Melalui Catur Netra, masyarakat diingatkan untuk menghindari sifat tamak yang tidak pernah puas akan materi dan kekuasaan. Kerakusan tidak hanya menghancurkan diri sendiri tetapi juga merusak lingkungan dan hubungan sosial. Catur Netra mengajarkan pentingnya menjalani hidup dengan kesederhanaan, kerendahan hati, dan rasa syukur terhadap apa yang telah dimiliki.

“Catur artinya empat, netra artinya penglihatan. Kita memandang atau melihat dari keempat sudut ini melihat dari segi positif. Apabila kita melihat ke depan, apa positifnya. Melihat ke kanan apa positif dan sebaliknya,” jelasnya.

Gede Suwarti memaparkan, pada pawai ini, ogoh-ogoh yang dipertontonkan bertentangan dengan sifat-sifat catur netra yang mengajarkan sifat-sifat mulia untuk mengendalikan diri dari angkara murka, rakus.

“(Ogoh-ogoh yang dipertontonkan) yaitu sifat-sifat murka, angkara murka atau rajas yang selalu ingin hidup tidak memikirkan orang lain, selalu kepengin berkuasa,” paparnya.

Gede Suwarti menambahkan, rangkaian Hari Raya Nyepi dimulai dari kirab budaya ini. “Pada Minggu, kita berangkat dari sini (Pura) menuju Tuk Mas (Grabag) untuk melaksanakan melasti. Kita melakukan penyucian Bhuana Agung, Bhuana Alit. Bhuana agung penyucian alam semesta, Bhuana Alit penyucian diri sendiri,” pungkasnya. (mta)

About The Author

  • Penulis: BNews 7

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less