122 Tahun Berlalu, Begini Sejarah Stasiun dan Rel Kereta Api di Magelang

BNews—MAGELANG— Moda transportasi massal Kereta Api (KA) di Indonesia diketahui dibangun dimasa pemerintahan Hindia-Belanda. Tepatnya, pembangunan rel kali pertama dibangun tahun 1876 di tanah Jawa di Semarang.

Sementara, Jalur kereta api Magelang- Jogjakarta–Magelang dibangun oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Dan dibuka pada tanggal 1 Juli 1898

Namun kini, sebagian besar jalur KA sudah tidak berfungsi karena berbagai faktor seperti karena bencana alam. Tidak sedikit jalur tersebut nasibnya sudat tertutup aspal jalan raya hingga menjadi permukiman penduduk.

Salah satu jalur KA yang tidak difungsikan lagi adalah jalur Magelang-Jogjakarta. Jalur yang menghubungkan Jogyakarta-Magelang hingga Parakan Temangung itu dulunya menjadi moda transportasi massal paling favorit karena kepraktisan dan kecepatannya.

Akan tetapi,  sejak tahun 1976 jalur KA Jogjakarta-Magelang sudah tak beroperasi lagi. Data yang dihimpun Borobudurnews.com, jalur tersebut rusak akibat banjir lahar dingin Gunung Merapi yang menerjang Kali Krasak. Tepatnya di perbatasan Tempel Sleman dan Salam di Kabupaten Magelang.

Material lahar dingin memutus total jalur jembatan rel KA yang melintang di tengah sungai sepanjang 100-an meter. Semenjak kawasan tersebut dianggap berbahaya bagi perjalanan kereta dan keselamatan penumpang, jalur KA tersebut diputuskan untuk ditutup.

Baca juga: Menyentuh Hati! Kakek 78 Tahun Enggan Mengemis, Usahanya Cari Uang Bikin Haru
Loading...

Sisa jembatan KA yang putus tersebut masih ada sampai sekarang. Mulai dari rel hingga kerangka besi penopang jembatan.

Dahulu, semasa masih aktif, jalur KA dari Stasiun Tugu menyusuri ke arah utara lewat kantor Samsat sekarang ini. Lalu melintasi Jalan Tentara Pelajar di sisi barat, perempatan Pingit dan Jalan Magelang.

Sepanjang jalan terdapat stasiun kecil. Diantaranya stasiun Pingit, Kutu Dukug, Mlati, Beran, Pangukan, Medari hingga Tempel. Namun, yang masih tersisa hanya Stasiun Tempel di Sleman Jogjakarta.

Sebagian besar rel juga sudah dicopoti. Di atas jembatan Kali Bedhog Pangukan juga masih ada. Konstruksi jembatan ini bentuknya sama dengan konstruksi di jembatan Krasak.

Konstruksi menggunakan lengkung pada kedua ujung jembatan. Di atas jembatan ini rel masih ada. Selebihnya sudah tidak ada lagi. Beberapa tiang besi rel berdiri tegak.

Sisa bangunan lain yakni Stasiun Tempel dan tangki air besar di selatan stasiun. Bangunan bekas stasiun sekarang dimanfaatkan untuk taman kanak-kanak (TK).

Setelah melintasi Kali Krasak, jejak sejarah jalur Magelang juga tinggal sedikit. Rel sudah hilang. Demikian pula bangunan stasiun.

”Di Muntilan bangunan stasiun sudah jadi terminal. Bangunan bekas Stasiun Blabak, Stasiun Mertoyudan hingga Stasiun Kebon Polo masih ada,” kata warga Kecamatan Muntilan, Wasijati yang pernah menjadi saksi eksistensi KA pada zamannya, Jumat (26/6).

Selain rel hilang, sekitar jalur kereta juga sudah berubah fungsi. Ada yang jadi tempat tinggal dan rumah dan toko (ruko).

Dalam kenangan Putri Abriantini waga Blabak Magelang, saat kereta dari stasiun menuju Yogya atau sebaliknya kereta berjalan pelan.

”Dek cilikan nate numpak sepur kluthuk seko Blabak nyang Jogja…nek lewat Krasak aluuun sekali. (Sewaktu kecil pernah naik kereta api uap dari Blabak ke Jogjakarta. Kalau lewat Jembatan Krasak itu jalannya pelaaaan sekali),” kenang warga Blabak, Kecamatan Mungkid, Putri Abriantini.

”Bar sempal dalan sepur neng Krasak njuk numpak bis Mustika abang ono monconge. (Karena Jembatan Krasak rusak, lalu turun kereta dan naik Bis Mustika warga merah ada moncongnya di depan,” imbuh dia. (han)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: