200 Santri Temanggung Kibarkan Merah Putih, Pesan Pengasuh Pesantren Jadi Sorotan
- calendar_month 52 menit yang lalu

Nasionalisme Santri Al Musthofa, Isi Kemerdekaan dengan Ilmu, Akhlaq dan Cinta Tanah Air
BNews—TEMANGGUNG— Sekitar 200 santri bersama pengurus Pondok Pesantren Tahfidz Al Musthofa Tebuireng 16 Wadas, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung, menunjukkan semangat nasionalisme dan kecintaan terhadap Tanah Air.
Hal tersebut ditunjukkan melalui upacara bendera memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang digelar di halaman kompleks pesantren, Senin (17/8/2026).
Upacara berlangsung khidmat sebagaimana peringatan kemerdekaan pada umumnya. Para santri mengikuti seluruh rangkaian dengan penuh semangat, mulai dari pengibaran Sang Merah Putih, penghormatan kepada bendera hingga pembacaan doa.
Bertindak sebagai inspektur upacara sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz Al Musthofa Tebuireng 16 Temanggung, KH Agus Ahmad Yani menyampaikan amanat bertajuk “Mengisi Kemerdekaan dengan Tholabul Ilmi dan Cinta Tanah Air”.
Ia juga membawa pesan “Menjaga Akhlaq untuk Peradaban, Menjaga Alam agar Lestari, Jaya dan Sentosa.”
Kemerdekaan Harus Diisi dengan Hal Bernilai
Dalam amanatnya, KH Agus Ahmad Yani menegaskan bahwa upacara kemerdekaan bukan sekadar kegiatan seremonial. Menurutnya, momentum tersebut harus menjadi sarana untuk menumbuhkan kesadaran bahwa kemerdekaan merupakan amanah yang harus diisi dengan hal-hal bernilai.
“Hari ini kita tidak sekadar mengibarkan Sang Merah Putih. Hari ini kita sedang mengibarkan semangat perjuangan. Kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan darah, air mata, pengorbanan dan doa para pahlawan harus kita isi dengan sesuatu yang bernilai,” tuturnya.
Menurut KH Agus, bagi seorang santri, kemerdekaan setidaknya harus diisi dengan tiga hal penting, yakni ilmu, akhlaq dan cinta Tanah Air.
Ia mengajak para santri memanfaatkan masa muda untuk menuntut ilmu, membaca dan menghafal Al-Qur’an, mempelajari ilmu agama maupun pengetahuan umum, mengembangkan teknologi, menjaga kesehatan, berorganisasi serta mempersiapkan diri menjadi generasi penerus bangsa.
“Dahulu para pejuang berjuang mengangkat senjata. Hari ini tugas kita adalah mengangkat ilmu, mengangkat akhlaq dan mengangkat martabat bangsa,” katanya.
Santri Diminta Tak Hanya Hafal Al-Qur’an
KH Agus juga mengingatkan pendidikan di pesantren tidak cukup hanya menghasilkan santri yang mampu menghafal Al-Qur’an.
Lebih dari itu, nilai-nilai Al-Qur’an harus tercermin dalam perilaku dan akhlaq sehari-hari.
“Al-Qur’an harus hidup dalam akhlaq santri. Hafalannya kuat, ibadahnya kuat, belajarnya rajin, tetapi juga hormat kepada guru, sayang kepada orang tua, santun kepada sesama, disiplin, jujur, bertanggung jawab dan rendah hati,” tegasnya.
Ia menilai ilmu tanpa akhlaq dapat kehilangan arah. Sebaliknya, ilmu yang dibimbing oleh iman dan akhlaq akan menjadi rahmat bagi manusia maupun alam semesta.
Dalam kesempatan tersebut, KH Agus juga menekankan bahwa menjadi santri dan umat Islam tidak menghilangkan identitas sebagai anak bangsa Indonesia.
Penghormatan terhadap Merah Putih, kata dia, harus diwujudkan melalui kontribusi nyata bagi bangsa.
“Jangan pernah bertanya, apa yang sudah diberikan Indonesia kepada saya. Tetapi mari bertanya, apa yang bisa saya berikan untuk Indonesia?” ujarnya.
Kontribusi tersebut dapat diwujudkan melalui ilmu, akhlaq, prestasi, menjaga persatuan, menjaga lingkungan, menciptakan kedamaian serta menjadi manusia yang bermanfaat.
Nasionalisme Juga Berarti Menjaga Lingkungan
Kecintaan terhadap Tanah Air, lanjut KH Agus, tidak cukup hanya diwujudkan dengan memasang dan menghormati bendera.
Nasionalisme juga berarti menjaga lingkungan sebagai bagian dari amanah.
“Mencintai tanah air bukan hanya dengan memasang bendera, tetapi juga dengan tidak merusak tanah air. Tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak pohon, tidak mencemari sungai, tidak menyia-nyiakan air dan tidak merusak kehidupan sosial dengan kebencian, permusuhan dan perpecahan,” katanya.
Semangat tersebut sejalan dengan konsep Qur’anic Eco School yang dikembangkan di Pesantren Tahfidz Al Musthofa Tebuireng 16 Temanggung.
Konsep tersebut mengusung semangat “Menjaga Alam agar Lestari, Jaya dan Sentosa.”
“Bumi ini bukan warisan yang boleh kita habiskan. Bumi adalah amanah Allah yang harus kita jaga dan kita wariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.
Santri Diminta Berjuang Melalui Ilmu dan Karya
KH Agus kemudian mengajak para santri memaknai perjuangan di era saat ini.
Jika para pahlawan dahulu berjuang menggunakan senjata, maka generasi muda sekarang harus berjuang melalui ilmu, Al-Qur’an, akhlaq, kedisiplinan, karya, prestasi dan doa.
Ia menegaskan, pesantren merupakan tempat untuk mempersiapkan generasi yang kelak dapat mengabdi kepada masyarakat melalui berbagai bidang profesi.
“Apa pun profesinya, semuanya harus memiliki satu ruh: menjadi manusia yang bermanfaat,” ujarnya.
Ia berharap para santri tidak hanya menjadi generasi yang cerdas, tetapi juga memiliki karakter dan integritas.
Para santri diharapkan mampu menguasai teknologi sekaligus mengendalikan diri, mampu berbicara sekaligus menjaga lisan, serta mampu menghafal Al-Qur’an sekaligus mengamalkan nilai-nilainya.
Lima Pesan untuk Santri di HUT ke-81 RI
Pada momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI, KH Agus menitipkan lima pesan kepada para santri.
Kelima pesan tersebut yakni mencintai Al-Qur’an, bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, memuliakan guru dan orang tua, menjaga akhlaq, serta mencintai Indonesia dengan menjaga persatuan, kedamaian, lingkungan dan nama baik pesantren.
“Mari kita isi kemerdekaan ini dengan tholabul ilmi. Kita kuatkan dengan iman dan takwa, kita sempurnakan dengan akhlaqul karimah, kita wujudkan dengan cinta Tanah Air, dan kita wariskan kepada generasi berikutnya dengan menjaga alam dan lingkungan,” pesannya.
Salah seorang santri kelas VII, In’amul Hasan, mengaku senang dan bangga dapat mengikuti upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI di lingkungan pesantren.
Menurutnya, mengikuti upacara menjadi salah satu cara untuk menghargai jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Kegiatan upacara bendera dan doa bersama tersebut sekaligus menjadi wujud nasionalisme para santri serta momentum untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Usai upacara, suasana berubah menjadi penuh kegembiraan. Para santri meluapkan suka cita melalui sorak-sorai dan yel-yel kemerdekaan.
Kegembiraan tersebut menjadi penutup setelah seluruh rangkaian upacara berlangsung dengan lancar.
Melalui peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Pesantren Tahfidz Al Musthofa Tebuireng 16 Temanggung berupaya menanamkan pemahaman bahwa nasionalisme tidak berhenti pada seremoni.
Kemerdekaan diharapkan menjadi momentum bagi para santri untuk terus belajar, berakhlaq, berkarya, menjaga persatuan, berkontribusi bagi bangsa serta turut menjaga kelestarian alam. (ans)
About The Author
- Penulis: BNews 2





Saat ini belum ada komentar