Aksesori Gaun Viral JFP 2025 Ternyata Dibuat dari Limbah Plastik oleh Perajin Magelang
- calendar_month Sel, 29 Jul 2025

Hadi Prayitno, Perajin Otodidak Magelang yang Edukasi Anak Lewat Limbah Plastik
BNews–MAGELANG — Di tengah rimbunnya pepohonan dan suasana pedesaan Tegalarum, Borobudur, seorang pria paruh baya tampak sibuk memilah lembaran plastik bekas.
Tangannya cekatan, matanya teliti. Di bengkel kecil yang sekaligus menjadi art shop-nya, Hadi Prayitno (51) memberi kehidupan baru pada sampah yang bagi banyak orang mungkin hanya layak dibuang.
Tak banyak yang tahu, aksesori gaun pesta merah maroon yang viral di panggung Jogja Fashion Parade (JFP) 2025 Sleman itu, lahir dari tangan-tangan kreatif Pak Hadi — begitu ia biasa disapa warga sekitar.
“Awalnya saya diminta Mbak Caca buat bikin pernak-pernik dari plastik bekas. Bahannya dari sisa orderan sebelumnya, jadi saya maksimalkan semua yang ada,” kenangnya, tersenyum tipis saat ditemui Selasa (29/7/2025).
Gaun tersebut adalah karya Caca Candrika, desainer muda asal Grabag, Magelang.
Penonton di Sleman City Hall pun berdecak kagum melihat bagaimana limbah bisa menjelma menjadi keindahan yang elegan — sekaligus menyuarakan pesan lingkungan.
Bukan Seniman, Tapi Perajin
Sejak 2017, Pak Hadi menjalankan Bostik Saga Craft, sebuah bengkel seni sekaligus toko kecil yang menjual kerajinan berbahan daur ulang. Awalnya ia menggunakan limbah pralon, lalu merambah ke plastik bekas. Namun kini, bahan pun semakin sulit didapat.
“Bukan tidak ada, tapi sekarang cari bahan yang bersih itu susah. Saya ambil dari pengepul atau pemulung yang sudah bersih sampai sini. Harga bisa sampai sepuluh ribu per kilo,” ujarnya.
Meski kerap disebut seniman oleh orang luar, Hadi menolak julukan itu. Ia merasa hanya perajin yang ingin memaksimalkan barang tak terpakai agar tidak kembali mencemari lingkungan.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
“Saya enggak butuh support dana, tapi perhatian itu penting. Banyak yang anggap ini seni, padahal ini juga produk. Bisa dipakai, bisa dijual,” katanya sambil menunjuk salah satu koleksi aksesori kepala banteng yang pernah dipesan untuk Ganjar Pranowo.
Otodidak dan Penuh Semangat
Semuanya ia pelajari secara otodidak. Dari pelatihan-pelatihan kecil yang pernah ia ikuti, ide-ide muncul begitu saja dan langsung diimplementasikan dalam bentuk karya.
Tak terhitung berapa banyak produk yang sudah ia buat, dari bros hingga ornamen besar kepala naga — meski yang terakhir itu sempat batal karena terlalu rumit dan mendekati tenggat waktu.
“Saya pengin kalau dapat order luar negeri itu aman kayak dulu. Jepang, London, Amerika. Tapi sekarang makin susah, terutama karena pajak 19 persen di sana bikin klien jadi mikir dua kali,” ujarnya.
Namun ia tetap bertahan. Dalam senyap, ia juga turut membina dan melibatkan teman-teman disabilitas dalam proses produksi.
Ia percaya, kreativitas bukan hak eksklusif. Semua bisa berkarya, asal diberi ruang.
Edukasi dan Harapan Kecil
Di sela waktu, ia juga membuka ruang edukasi. Anak-anak PAUD hingga kelas tiga SD diajak mewarnai produk seperti kupu-kupu.
Untuk siswa kelas empat ke atas, mereka mulai belajar membuat karya sendiri. Semua cukup dengan Rp25 ribu per anak.
“Sampai sekarang belum ada paket wisata yang masuk ke sini. Tapi kalau ada yang minat, saya siap buka,” ujarnya pelan, seolah menyimpan harapan kecil yang belum padam.
Di musim Agustusan ini, biasanya permintaan aksesori dan properti karnaval meningkat. Tapi tahun ini belum ada pesanan yang masuk. Ia tetap menunggu, sembari mengolah sisa plastik yang tersisa — agar tidak menjadi sampah baru.
Dari balik tumpukan limbah, Hadi Prayitno tak sekadar membentuk kerajinan. Ia membentuk cara pandang baru: bahwa sampah bisa bernilai, bahwa karya bisa lahir dari kesederhanaan, dan bahwa keindahan tak selalu harus dimulai dari yang mewah. (bsn)
VIDEO GAUNNYA DIBAWAH INI :
About The Author
- Penulis: BNews 2



Saat ini belum ada komentar