IKLAN PARTAI HUT DEMOKRAT

Anak 9 Tahun Dicabuli Tetangganya di Sleman, Kasus Berjalan Lambat

BNews–JOGJA– Tangis pilu tak tertahan oelh seorang ibu berinisial Y, warga Jambon Trhanggo Sleman. Ia menangis sejadi-jadinya saat berada di selasar Poli Kejiwaan RSUP Dr Sardjito, Senin (07/09/2020).

Saat itu Ia, menemani putrinya D, 9 untuk melakukan pemeriksaan psikologis karena trauma psikis yang dialami.

Sesekali Y menyeka air mata yang jatuh dari matanya, masuk ke bagian dalam masker putih yang dikenakan. Ia menceritakan sebuah peristiwa pelecehan seksual yang dialami putrinya pada 11 Juli lalu, menjelang petang hari.

Peristiwa yang begitu mengagetkan itu terjadi di rumah tetangga sebelahnya sendiri, saat anaknya hendak meminjam sepeda milik terduga pelaku. Menurut Y berdasarkan penuturan sang putri, pelaku yang merupakan laki-laki berusia 40 tahun ketika itu dalam posisi sendirian di rumah karena anak dan istrinya berjualan.

“Dia memang biasa pinjam sepeda untuk main di kampung. Tapi saat kejadian itu, adik cerita pintunya dikunci lalu dia digendong masuk ke kamar anaknya yang sulung. Nah di situ pelecehan dilakukan. Adik bilang tidak mau dan sempat diancam pelaku kalau cerita orangtuamu, maka mereka akan mati,” ungkapnya dikutip dari KR.

Menurut Y, anaknya baru berani bercerita dua hari setelah kejadian, sembari meminta maaf karena baru berani jujur bicara. Sontak saja kedua orangtuanya terpukul dan langsung melaporkan kejadian pada pihak kepolisian.

Namun sayang, polisi diakui Y kesulitan memproses tindak pelecehan seksual yang dialami anaknya. Hal ini karena prosedur perundangan. Penanganan kasus yang dilakukan Polres Sleman tersebut pun menurut pihak keluarga sangat lambat hingga hampir menginjak dua bulan.

Loading...
DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

“Polisi bilang dari visumnya negatif terus kesulitan untuk memproses, hampir dua bulan masih penyelidikan terus. Kami bingung sekali karena pelaku masih santai saja berkeliaran tanpa merasa bersalah. Anak kami ketakutan dan siapa yang menjamin tindakan seperti itu tidak terjadi lagi,” imbuhnya.

Sementara di sisi lain, sanksi sosial sudah harus diterima Y dan keluarga di kampung. Status keluarga Y yang merupakan pendatang (2 tahun menetap) menambah pelik permasalahan karena adanya warga pro dan kontra dengan peristiwa pelecehan yang dialami anakhya.

“Saya sudah mengungsi sejak kejadian itu, adik takut ketika bertemu pelaku dan keluarganya. Sementara warga, ada yang justru menilai putri kami mengarang cerita, memfitnah pelaku ini. Kami benar-benar merasa sendirian. Kami berharap polisi segera bergerak cepat untuk menangani kasus anak saya,” tambah Y sembari tersedu.

Y dan keluarga berharap polisi segera melakukan upaya hukum untuk memproses pelaku pelecehan seksual pada putrinya. “Kami berharap ada keadilan bagi kami, karena kami korban tapi dua bulan ini justru merasa sendirian dan bingung,” pungkas dia.

Sementara secara terpisah, Divisi Humas Jogja Police Watch (JPW) Baharuddin Kamba meminta kepolisian untuk bekerja lebih keras mengurai kasus-kasus pelecehan seksual yang terjadi. Polisi disebut sudah memiliki alat-alat canggih yang bisa digunakan untuk mencari alat bukti kasus-kasus semacam itu.

“Memang dalam KUHAPidana yakni polisi harus menemukan minimal dua alat bukti untuk menjerat pelaku kejahatan. Keterangan pelaku dapat diperdalam, polisi sudah memiliki kemampuan dan alat canggih untuk mengetahui apakah pelaku berbohong atau tidak. Kasus ini harus diusut tuntas agar tidak ada lagi korban pelecehan seksual dan pelaku diberikan efek jera dengan hukuman setimpal dengan perbuatannya, jika nantinya terbukti,” tegas Kamba. (*/islh)

Kaos Deglang

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: