Tak Sekadar Jepret Foto! Juru Foto Borobudur dan Prambanan Dapat Pelatihan Khusus dari InJourney
- calendar_month 25 menit yang lalu

108 Fotografer Wisata Borobudur dan Prambanan Ikuti Pelatihan InJourney Community Care
BNews-MAGELANG – InJourney Destination Management (IDM) melalui program InJourney Community Care menggelar pelatihan fotografi bagi para juru foto; yang beroperasi di kawasan Taman Wisata Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Keraton Ratu Boko.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) pariwisata sekaligus memperkuat kualitas pelayanan di destinasi warisan budaya dunia.
Pelatihan diikuti oleh 76 anggota Koperasi Pariwisata (Kopari) Borobudur dan 32 anggota Koperasi Pariwisata Fotografer Prambanan (Kopapra). Para peserta merupakan bagian penting dari ekosistem pelayanan wisata yang setiap hari berinteraksi langsung dengan wisatawan di kawasan taman wisata candi.
General Manager Prambanan dan Ratu Boko, Leonardus Adityo Nugroho, mengatakan fotografi memiliki peran strategis dalam industri pariwisata modern. Menurutnya, fotografi tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi, tetapi juga menjadi media yang mampu menghadirkan pengalaman dan cerita bagi wisatawan.
“Fotografi tidak sekadar menghasilkan dokumentasi, tetapi merupakan media yang mampu menghadirkan cerita, membangun citra destinasi, serta memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia. Setiap foto yang dihasilkan dapat menjadi jendela yang menghubungkan wisatawan dengan nilai-nilai sejarah, budaya, dan keindahan yang dimiliki Candi Prambanan,” ujarnya, Rabu (18/6/2026).
Dalam pelaksanaannya, pelatihan fotografi untuk juru foto Prambanan menghadirkan fotografer Harian Kompas, Ferganata Indra, sebagai narasumber. Sementara pelatihan bagi juru foto Borobudur menghadirkan fotografer Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA, Anis Efizudin.
Selain materi teknik fotografi, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai pelayanan prima (hospitality) yang sangat relevan dengan tugas para fotografer wisata saat berinteraksi dengan pengunjung.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Materi pelatihan mencakup komunikasi dengan wisatawan, standar pelayanan destinasi kelas dunia, hingga kemampuan membangun narasi visual yang mampu memperkuat citra destinasi wisata.
Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh kesempatan untuk memperbarui pengetahuan, berdiskusi, serta berbagi pengalaman mengenai perkembangan dunia fotografi wisata dan pelayanan kepada wisatawan.
Menurut Leonardus, keberadaan fotografer wisata memiliki peran penting dalam membentuk pengalaman pengunjung selama berada di kawasan destinasi.
“Candi Prambanan membutuhkan dukungan para fotografer yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis dalam menghasilkan gambar yang baik, tetapi juga memiliki pemahaman mengenai narasi yang ingin disampaikan melalui setiap karya visual. Melalui pelatihan ini, kami berharap para fotografer dapat semakin memahami bagaimana mengabadikan momen sekaligus menghadirkan cerita yang memperkuat daya tarik destinasi,” tambahnya.
Sementara itu, Commercial Group Head PT Taman Wisata Borobudur, AY Suhartanto, mendorong seluruh peserta untuk aktif berdiskusi selama pelatihan agar dapat saling bertukar pengalaman dan memperkaya wawasan mengenai pelayanan wisata yang berkualitas.
“Selain kemampuan fotografi, aspek hospitality juga menjadi hal yang sangat penting. kami berharap para juru foto wisata dapat kembali me-refresh dan mengingat peran serta fungsinya di Borobudur, yaitu menghadirkan kenangan yang berkesan bagi wisatawan. Foto yang dihasilkan bukan sekadar dokumentasi, tetapi menjadi bagian dari pengalaman dan nilai yang dibawa pulang oleh setiap pengunjung,” jelas Suhartanto.
Tingkatkan Profesionalisme Fotografer Wisata
Salah satu anggota Koperasi Pariwisata Fotografer Prambanan (Kopapra), Budaya, mengaku pelatihan tersebut memberikan wawasan baru yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus profesionalisme para fotografer wisata.
“Melalui pelatihan ini kami mendapatkan banyak pengetahuan baru yang dapat menunjang kinerja kami dalam melayani wisatawan; yang datang ke Candi Prambanan. Kami ingin memberikan pelayanan terbaik sehingga pengunjung merasa puas dan memiliki pengalaman yang menyenangkan selama berada di sini,” katanya.
Menurutnya, salah satu tantangan yang dihadapi fotografer wisata saat ini adalah meningkatnya ekspektasi wisatawan terhadap kualitas pelayanan; dan hasil foto yang diterima.
“Pelatihan ini membantu kami memahami kelebihan dan kekurangan yang ada. Evaluasi tersebut menjadi bekal untuk meningkatkan kualitas pelayanan; mulai dari cara menyambut wisatawan, berkomunikasi, bersikap sopan, hingga memberikan informasi yang jelas mengenai layanan fotografi. Harapannya, wisatawan merasa nyaman, betah, dan ingin kembali berkunjung ke Candi Prambanan,” ujarnya.
Ketua Kopapra, R. Jarot Wuryanto, menjelaskan bahwa profesi fotografer wisata di kawasan Prambanan telah berkembang lebih dari tiga dekade dan; terus beradaptasi mengikuti perkembangan teknologi.
“Fotografer wisata di Prambanan sudah ada sejak tahun 1994. Saat itu kami masih menggunakan kamera analog dan polaroid. Perkembangan teknologi kemudian mendorong kami beralih ke sistem digital sejak akhir 1990-an. Setiap perubahan teknologi selalu kami ikuti melalui berbagai pelatihan agar para anggota dapat terus berkembang,” jelasnya.
Saat ini, Kopapra memiliki 32 anggota yang bertugas di dua zona pelayanan wisata. Rentang usia anggota juga cukup beragam, mulai dari 19 tahun hingga sekitar 70 tahun.
“Regenerasi menjadi salah satu fokus kami. Anggota termuda saat ini berusia 19 tahun, sementara yang paling senior sekitar 70 tahun. Tantangan terbesar yang kami hadapi adalah mengikuti perkembangan teknologi, tren fotografi, dan gaya visual yang terus berubah. Karena itu peningkatan kompetensi menjadi kebutuhan yang sangat penting,” katanya.
Komunitas Fotografer Borobudur Terus Berkembang
Anggota Koperasi Pariwisata (Kopari) Borobudur, Aan Suyitno, menyambut baik pelatihan yang diselenggarakan InJourney Destination Management. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para narasumber yang telah berbagi ilmu dan pengalaman.
“Kami sangat berterima kasih kepada InJourney dan para tutor yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk berdiskusi mengenai fotografi; maupun pelayanan kepada wisatawan. Mudah-mudahan ilmu yang kami peroleh dapat bermanfaat dan meningkatkan kualitas kerja kami di lapangan,” kata Aan.
Aan menjelaskan, komunitas fotografer wisata di Borobudur telah berkembang selama puluhan tahun. Awalnya para fotografer tergabung dalam paguyuban Bina Sejahtera sebelum kemudian bergabung dengan KUD Borobudur. Seiring perkembangan organisasi, para fotografer kemudian mendirikan koperasi sendiri pada tahun 1996 dengan nama Koperasi Pariwisata Catra Gemilang Borobudur.
“Saat ini unit fotografer di bawah Koperasi Pariwisata Catra Gemilang Borobudur berjumlah 76 orang dengan empat anggota cadangan. Regenerasi terus berjalan, bahkan sebagian profesi ini telah diteruskan hingga generasi ketiga. Beberapa perintis masih aktif dan tetap eksis hingga sekarang,” ungkapnya.
Melalui program InJourney Community Care, InJourney Destination Management berkomitmen untuk terus memberdayakan komunitas; di sekitar destinasi wisata melalui berbagai pelatihan dan pengembangan kapasitas masyarakat.
Diharapkan, peningkatan kompetensi para juru foto wisata ini tidak hanya menghasilkan layanan yang semakin profesional, tetapi juga memperkuat; pengalaman wisatawan serta mendukung citra positif kawasan Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko sebagai; destinasi warisan budaya dunia yang berkualitas. (bsn)
About The Author
- Penulis: BNews 2





Saat ini belum ada komentar