Bendera Belanda Berkibar Setengah Tiang di Semarang, Ada Makna di Balik Peringatan Perang Dunia II
- calendar_month 12 menit yang lalu

Bendera Belanda Setengah Tiang Berkibar di Ereveld Kalibanteng Semarang
BNews—JATENG— Bendera Belanda berkibar setengah tiang di Kompleks Pemakaman Ereveld Kalibanteng, Kota Semarang, Sabtu (15/8/2026). Pengibaran tersebut menjadi simbol penghormatan dalam peringatan 81 tahun berakhirnya Perang Dunia II yang rutin diperingati setiap 15 Agustus.
Puluhan orang berkumpul di bawah tenda bercorak bendera Belanda. Pejabat Pemerintah Kota Semarang, perwakilan Kerajaan Belanda, hingga keluarga korban perang mengikuti rangkaian upacara penghormatan.
Prosesi tersebut diisi dengan mengheningkan cipta hingga penaburan bunga untuk mengenang para korban perang.
Suasana khidmat semakin terasa ketika peserta upacara berada di antara deretan nisan. Kompleks Ereveld Kalibanteng menjadi pengingat bahwa perang bukan sekadar catatan sejarah, tetapi meninggalkan korban dan trauma bagi banyak keluarga.
Pemakaman tersebut menjadi tempat peristirahatan terakhir perempuan dan anak-anak yang menjadi korban Perang Dunia II.
Mengenang Korban Perang untuk Belajar tentang Perdamaian
Lead in Communication, Public Relations Oorlogsgravenstichting (OGS) Indonesia, Siti Juwindasari, mengatakan rangkaian prosesi penghormatan digelar untuk mengenang berakhirnya Perang Dunia II yang diperingati setiap 15 Agustus.
Menurutnya, peringatan tersebut bukan untuk meratapi masa lalu, melainkan menjadi momentum untuk memahami dampak perang dan mendorong upaya menjaga perdamaian.
“Kami ingin kembali mengenang cerita-cerita korban perang dan cerita-cerita terkait perang bukan untuk meratapi apa yang terjadi di masa lalu, tetapi kita jadikan kesempatan untuk belajar. Sehingga di masa kini kita bisa melakukan berbagai hal untuk pencegahan dan terus memperjuangkan perdamaian,” ujar Siti kepada Espos, Sabtu.
Selain mengenang korban, peringatan tersebut juga menjadi ruang pertemuan berbagai generasi dan masyarakat dari sejumlah negara.
Siti mengatakan, perbedaan latar belakang maupun keyakinan tidak seharusnya menjadi penghalang untuk hidup berdampingan.
“Bukan berarti kita memaksa semuanya untuk memiliki kepercayaan atau keyakinan yang sama. Tetapi bagaimana kita bisa hidup berdampingan dengan perbedaan,” paparnya.
Mengapa Bendera Belanda Dikibarkan di Indonesia?
Pengibaran bendera Belanda di kompleks Ereveld Kalibanteng juga memiliki dasar aturan.
Siti menjelaskan, hal tersebut merupakan bagian dari kesepakatan antara pemerintah Indonesia dan Belanda berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 30 Tahun 1971.
Menurutnya, terdapat tiga momentum resmi ketika Belanda diperbolehkan mengibarkan bendera negaranya di Indonesia, khususnya di kompleks makam kehormatan Belanda.
“Jadi ada tiga tanggal-tanggal khusus Belanda bisa menaikkan benderanya. Pertama di tanggal 27 Februari untuk memperingati Pertempuran Laut Jawa. Kemudian 4 Mei menjadi Hari Berkabungnya Belanda dan 15 Agustus untuk memperingati berakhirnya Perang Dunia II di Asia,” ungkap Siti.
Ereveld Kalibanteng Berdiri Sejak 1949
Kompleks Pemakaman Ereveld Kalibanteng berdiri sejak 22 April 1949 dan dikelola oleh Yayasan Makam Kehormatan Belanda atau Oorlogsgravenstichting (OGS).
Pemakaman yang berada di samping Jalan Siliwangi, Kota Semarang, tersebut dikenal sebagai tempat peristirahatan terakhir perempuan dan anak-anak korban perang.
Salah satu kisah yang diangkat dalam peringatan tersebut adalah perjalanan kehidupan warga Belanda bernama Gerrit van der Meulen bersama istrinya.
Gerrit dan istrinya datang ke Jakarta sekitar dekade 1930-an. Gerrit kemudian bekerja di sebuah lembaga pemerintahan. Sekitar 10 tahun kemudian, keluarga tersebut dikaruniai tiga orang anak.
Kehidupan keluarga yang semula berjalan harmonis berubah ketika Perang Dunia II berkecamuk.
Gerrit ditangkap dan dibawa ke kamp interniran. Ia kemudian dipaksa bekerja dalam pembangunan jalur kereta api Pekanbaru bersama para romusha dari kalangan warga pribumi.
Gerrit akhirnya tidak mampu bertahan.
Kenangan terakhir sang istri tentang suaminya adalah ketika melihat Gerrit berjalan dalam barisan tawanan. Setelah perang berakhir, sang istri kembali ke Belanda bersama tiga anak mereka tanpa pernah bertemu kembali dengan Gerrit.
Peristiwa tersebut meninggalkan trauma mendalam bagi keluarga.
Perang Meninggalkan Luka hingga Lintas Generasi
Perwakilan Kerajaan Belanda dan Kantor Atase Pertahanan, Commander Patrick Stähli, mengatakan kisah Gerrit dan keluarganya menggambarkan besarnya dampak perang yang tetap dirasakan setelah suara senjata berhenti.
“Mereka kehilangan pasangan, ayah, ibu, anak perempuan, anak laki-laki, kakek, nenek, saudara, keluarga besar, dan sahabat. Pada akhirnya, mereka kehilangan sebagian dari diri mereka sendiri. Kita kehilangan sebagian dari diri kita sendiri,” ungkap Patrick.
Menurut Patrick, trauma akibat perang dapat berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa disadari.
Karena itu, mengenang korban perang bukan hanya tentang mengingat peristiwa masa lalu. Lebih jauh, hal tersebut menjadi upaya memahami penderitaan manusia yang berada di balik berbagai catatan mengenai pengeboman, serangan, dan peperangan.
“Saya merasa sedih berdiri di hadapan Anda semua dan berbicara mengenai berakhirnya sebuah perang, sementara perang dan konflik lainnya terus terjadi di berbagai belahan dunia seperti yang terjadi di Gaza dan Ukraina,” paparnya.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Patrick kemudian mengutip pesan Raja Belanda Willem-Alexander mengenai pentingnya menjaga perdamaian.
Menurutnya, perdamaian dimulai dari kemampuan manusia untuk mengakui dan merangkul perbedaan, baik latar belakang, keyakinan, cita-cita, pemikiran maupun tindakan.
“Masyarakat yang damai bukanlah masyarakat yang mengharuskan kita semua menjadi sama. Perdamaian bergantung pada kemampuan kita untuk hidup bersama dengan orang-orang yang berbeda dari kita,” imbuhnya.
Lebih dari 3.000 Korban Dimakamkan di Ereveld Kalibanteng
Di Indonesia, terdapat tujuh makam kehormatan perang Belanda. Salah satunya adalah Ereveld Kalibanteng di Kota Semarang.
Kompleks pemakaman tersebut kini menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi lebih dari 3.000 korban perang.
Mereka mayoritas merupakan warga sipil Belanda, anggota militer, serta masyarakat Indonesia yang menjadi korban berbagai peristiwa pada masa perang.
Peringatan 81 tahun berakhirnya Perang Dunia II di Ereveld Kalibanteng pun menjadi momentum untuk kembali mengingat bahwa di balik sejarah peperangan terdapat manusia, keluarga, kehilangan, dan luka yang dapat diwariskan lintas generasi.
Pesan yang disampaikan dalam peringatan tersebut sederhana, tetapi penting: mengenang masa lalu bukan untuk menghidupkan kembali kebencian, melainkan belajar agar tragedi serupa tidak kembali terjadi dan perdamaian dapat terus dijaga. (*)
About The Author
- Penulis: BNews 2





Saat ini belum ada komentar