Seorang Siswa SMK Menuntut Keadilan atas Tuduhan Pencurian, Aksinya Viral di Media Sosial
- calendar_month Kam, 2 Nov 2023

Seorang Siswa SMK membawa poster menuntut keadilan
BNews-JATENG– Sebuah foto siswa dari SMK Bhakti Mulia yang sedang menuntut keadilan setelah dituduh mencuri selama Praktik Kerja Lapangan (PKL) telah menjadi viral di media sosial. Pelajar ini, yang dikenal dengan inisial MI (18), melakukan aksinya setelah dituduh melakukan tindak pencurian.
Berdasarkan foto yang beredar, terlihat siswa tersebut sedang berjalan di jalan raya dengan memegang sebuah poster. Siswa ini mengenakan seragam sekolah, jas almamater, dan memiliki bendera merah putih yang terikat di tasnya.
Di poster yang dibawanya terdapat tulisan “Demi Allah aku anak yatim, ‘Bukan Pencuri’, tidak seperti yang dituduhkan oleh guru SMK Bhakti Mulia & Apotek Giri Sehat, (nama siswa) – Mencari Keadilan”.
Pihak sekolah juga memberikan tanggapan terkait kasus siswa tersebut. Kepala SMK Bhakti Mulia Wonogiri, Sutardi, mengonfirmasi bahwa siswa yang membawa poster dan menjadi viral di media sosial adalah salah satu siswanya. Siswa laki-laki kelas XII tersebut adalah MI (18), yang berada di jurusan Farmasi.
“Kami sedikit terkejut dengan kejadian ini karena sebenarnya masalahnya sudah selesai. Pihak sekolah, wali murid, dan siswa tersebut telah menyelesaikan permasalahan ini. Namun, tadi pagi terjadi kejadian ini,” kata Sutardi kepada wartawan di ruang kerjanya, Selasa (31/10/2023).
Sutardi menjelaskan bahwa awalnya anak tersebut menjalani PKL di salah satu apotek di Wonogiri. Setiap siswa yang melakukan PKL bertugas melayani di apotek atau melayani pembeli. Pada pertengahan Oktober, terjadi permasalahan terkait selisih keuangan di apotek tersebut.
“Pada tanggal 17 Oktober, siswa tersebut melayani pembeli. Kemudian pada tanggal 19 Oktober, saat melakukan penghitungan administrasi, terdapat selisih sebesar Rp 66.000,” ungkapnya.
DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)
Ketika dimintai keterangan mengenai kejadian tersebut, siswa tersebut memberikan jawaban yang tidak konsisten. Di apotek, ia mengakui perbuatannya (mengambil uang). Namun di rumah atau di sekolah, ia menyangkal.
“Akhirnya, pihak sekolah telah mengganti selisih tersebut (Rp 66.000) ke apotek. Saat itu, pihak apotek menganggap masalah ini sudah selesai. Wali siswa tersebut juga sudah dipanggil dan dimediasi, sehingga semuanya sudah terselesaikan,” jelasnya.
Sutardi menyatakan bahwa saat itu pihak sekolah segera mengambil tindakan dengan menarik siswa tersebut dari apotek. Namun, yang mengejutkan adalah ketika wali dari siswa tersebut menanyakan apakah uang yang diambil merupakan bagian yang lebih dari yang seharusnya.
“Wali siswa itu bahkan mengatakan bahwa ia siap jika anaknya dikeluarkan dari sekolah atas perbuatannya. Namun, sekolah tidak mengeluarkannya karena ia sudah berada di kelas tiga. Sampai sekarang pun, siswa tersebut tidak diberikan disiplin atau sanksi pelanggaran,” terangnya.
Sutardi menjelaskan bahwa pihak sekolah menduga tulisan yang terdapat di poster bukanlah tulisan dari MI sendiri. Hal ini dikarenakan gaya tulisannya berbeda. Kemungkinan ada pihak lain yang terlibat dalam membantu menyusun poster tersebut, dan saat ini pihak sekolah sedang menyelidikinya.
“Saat ditanya siapa yang menulis, siswa tersebut hanya diam saja. Saat ini, siswa tersebut berada di ruang Bimbingan Konseling (BK) dan masih dalam keadaan terkejut. Diketahui bahwa ia berjalan dari rumah hingga ke kantor DPRD Wonogiri,” tambahnya.
Selain itu, lanjut Sutardi, berdasarkan catatan sekolah, MI memiliki masalah utang-piutang di lingkungan sekolah. Selain itu, ia berbeda dari teman-temannya.
Lebih lanjut, Sutardi mengatakan bahwa siswa tersebut tinggal di Wonogiri bersama keluarga besarnya. Ayahnya telah meninggal dunia, dan adiknya yang merawat MI.
“Anak ini memang spesial,” kata Sutardi. (*/detik)
About The Author
- Penulis: Pemela





Saat ini belum ada komentar