Cerita di Balik Karya Batik ‘Motif Covid-19’ Magelang yang Laku Terjual Rp 2 Juta

BNews—MAGELANG— Penampakan virus corona sepertinya tak lagi menjadi hal yang menakutkan. Cerita tentang virus ini justru dijadikan ide kreasi baru oleh Ngumriyatul Khasanah (23), Desa Sidorejo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang.

Ngumri, sapaan akrabnya, membubuhkan ‘rekam jejak’ virus di atas kain. Plot telah tersusun secara kronologis, meski akhir cerita masih tiada.

Satu fragmen cerita, dugaan asal muasal virus corona, rampung tergarap bahkan laku terjual Rp2 juta. Dia menyebut, karya batiknya diberi nama motif Covid-19.

Ide bermula pada Januari 2020, kala Ngumri mendapat tugas kuliah membuat motif batik kontemporer yang sesuai isu terkini. Teman-temannya banyak mengangkat tema kebakaran di Australia, tetapi ia lebih tertarik isu corona.

Mahasiswa jurusan Batik dan Fashion program D-3 Institut Seni Yogyakarta ini menggali informasi ihwal sejarah Covid-19. Bak gayung bersambut, dosen pemimbing pun menyetujui pilihan Ngumri pada Februari 2020.

”Proses membatik Covid-19 ini lebih susah dibanding motif klasik atau motif lainnya. Terutama saat proses melorot, yakni melepaskan atau menghilangkan lilin pada kain batik,” ujar dia, belum lama ini.

Pada umumnya, butuh dua sampai tiga kali melorot, tetapi batik Covid-19 ini sampai tujuh kali proses melorot. Pada Mei 2020, akhirnya batik Covid-19 rampung tergarap.

Salah satu dosen bahkan sempat ingin membeli karya batik ini senilai Rp1,5 juta. Namun Ngumri menolak lantaran itu karya pertamanya dan akan disimpan sebagai koleksi. ”Kain batik ini hanya terpajang di rumah selama setahun,” kata Ngrumi.

Download Aplikasi Borobudur News (Klik Disini)

Dia mengaku bahwa dirinya tidak berani mempublikasikannya karena takut dianggap menyepelekan Covid-19. Sempat diunggah di instagram, tapi beberapa kali foto sempat dikunci.

Hingga akhirnya nekat membiarkan unggahannya, dan ternyata tidak ada komentar tak sedap dari warganet.

“Saya takut (anggapan) lagi ada musibah, kok dibikin karya,” ujar Ngumri.

Kemudian, dia iseng berkunjung ke Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UMKM Kabupaten Magelang, sambil membawa kain batik Covid-19.

Ternyata, lembaga ini tertarik denga batik buatannya dan mengajak pameran UMKM dalam acara Serbuan Teritorial TNI Korem 072/Pamungkas di Desa Podosuko, Kecamatan Candimulyo, Sabtu (29/5) yang lalu.

Pada pameran tersebut, batik itu terjual Rp2 juta. Ngumri mengaku asal membanderol harganya lantaran tanpa persiapan dalam pameran.

Dia pun hanya menitipkan kepada salah satu stan, sehingga tidak tahu siapa pembeli karyanya.

“Saya tidak tahu (pembeli batik Covid-19). Tapi dari (keterangan) yang jaga (stan pameran), yang beli serda lita. Kemungkinan Kowad (Korps Wanita Angkatan Darat, red),” terangnya. (mta)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: