Dampak Tol Jogja–YIA: Lahan Sawah Menyusut, Produksi Gabah Kulonprogo Terancam
- calendar_month Sen, 28 Jul 2025

Pembangunan Jalan Tol Jogja Bawen Seksi 1
BNews–JOGJA– Pembangunan Jalan Tol Jogja–Yogyakarta International Airport (YIA) diperkirakan akan berdampak signifikan terhadap berkurangnya lahan pertanian produktif di Kabupaten Kulonprogo.
Salah satu konsekuensi utama dari alih fungsi lahan ini adalah terjadinya penurunan hasil produksi pertanian; terutama di sektor tanaman padi yang selama ini menjadi andalan pertanian di wilayah tersebut.
Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapa) Kulonprogo menyatakan telah mulai melakukan langkah-langkah antisipatif guna mengatasi dampak negatif dari pembangunan jalan tol tersebut.
Staf Bidang Produksi dan Perlindungan Dispertapa Kulonprogo, Heri Sugiyanto, menyebut bahwa potensi penurunan produksi padi; akibat alih fungsi lahan sawah bisa mencapai angka yang cukup besar.
“Diperkirakan angka penurunannya khusus pertanian padi bisa mencapai 485 ton GKG,” ujarnya saat dihubungi pada Minggu (27/7/2025).
Heri menjelaskan bahwa angka 485 ton gabah kering giling (GKG) itu merupakan estimasi dari potensi kehilangan produksi selama satu tahun akibat konversi lahan pertanian menjadi jalur tol.
Menurutnya, perhitungan dilakukan berdasarkan asumsi dua kali masa tanam dalam setahun, dengan rata-rata hasil panen mencapai 65,56 kuintal per hektare.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Adapun total luas lahan sawah yang berpotensi terdampak pembangunan tol diperkirakan mencapai 37 hektare, yang jika dikalkulasikan menghasilkan prediksi penurunan produksi sebesar 485 ton GKG per tahun.
“Sehingga ketemu angka produksi 485 ton GKG dalam setahun yang menurun imbas alih fungsi lahan menjadi jalan tol,” tambah Heri Sugiyanto.
Saat ini, total luas lahan baku sawah di Kulonprogo tercatat mencapai 11.047 hektare, namun jumlah pasti lahan yang akan terdampak pembangunan jalan tol masih menunggu proses finalisasi dari pihak Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kulonprogo.
Heri mengaku belum dapat menyebutkan data konkret terkait luas sawah yang sudah resmi beralih fungsi karena proses pengadaan lahan masih berjalan.
Sebagai bentuk antisipasi, Dispertapa Kulonprogo tengah menyiapkan beberapa program strategis seperti cetak sawah baru serta optimalisasi lahan yang sudah ada.
“Membuat sawah baru di sekitar sawah yang sudah ada. Lahan yang dulunya ditanami tanaman keras seperti kayu, kemudian dijadikan sawah untuk menanam padi,” jelas Heri.
Langkah optimalisasi lahan juga dilakukan melalui perbaikan metode pengelolaan, mulai dari proses persemaian; pemupukan, perawatan tanaman, hingga panen agar hasil produksi bisa lebih maksimal.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Kulonprogo, Saryono, menegaskan bahwa penyusutan luas lahan sawah; memang tidak bisa dihindari jika pembangunan jalan tol Jogja-YIA berjalan.
“Sedangkan untuk lahan pertanian pangan berkelanjutan [LP2B] potensinya cukup banyak yang beralih fungsi untuk tol dengan asumsi 100 meter dikalikan sekian kilometer,” jelasnya.
Ia menyebutkan bahwa potensi alih fungsi lahan sawah dilindungi (LSD) bisa mencapai hingga 50 hektare; sementara LP2B yang terdampak tersebar di wilayah seperti Kapanewon Nanggulan dan Pengasih.
Namun, karena pembangunan jalan tol Jogja-YIA termasuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN), maka penanganan dan kebijakan pengalihan LSD berada di tangan Pemerintah Pusat.
Dengan berbagai dampak yang ditimbulkan, pemerintah daerah berharap ada sinergi antara pusat dan daerah; untuk meminimalkan risiko terhadap ketahanan pangan lokal akibat pembangunan infrastruktur tersebut. (*/Harian Jogja)
About The Author
- Penulis: Borobudur News



Saat ini belum ada komentar