Di Magelang Terjadi Cuaca Ekstrem, Panen Petani Sayur Terancam Turun
- calendar_month Sel, 11 Okt 2022

ilustrasi petani sayuran
BNews–MAGELANG-– Beberapa hari belakangan ini cuaca ekstrem terjadi di wilayah Kabupaten Magelang. Hujan lebat disertai angin sering terjadi di sejumlah wilayah.
Tentunya dengan cuaca ini, akan berdampang dengan pertanian yang ada di wilayah Kabupaten Magelang. Hasil panen biasanya akan menurun.
Ketua Asosiasi Pasar Tani (Aspartan), Sudarno mengatakan hasil panen produk pertanian hortikultura tidak maksimal.
“Biasanya selalu terjadi kerusakan hasil panen. Ya lebih dari 3 persen dari luas tanaman untuk setiap komoditas,” katanya saat pembagian sayur gratis di Sawitan (10/10/2022).
Sejumlah hasil pertanian yang mudah busuk karena cuaca, katanya seperti kol dan sejenisnya.
Menurut Sudarno, untuk saat ini beberapa jenis sayur mayur yang harganya jatuh yakni, tomat dan kubis. Di tingkat petani, dua macam sayuran hanya laku Rp1.000-1.500 per kilogram.
“Ketika ada kelompok tani melaporkan terkait harga panen jatuh, segera kami sampaikan ke dinas, yang kemudian membeli dengan harga pantas,” ujarnya.
DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)
Sebelumnya diberitakan, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau kepada masyarakat untuk waspada potensi cuaca ekstrem periode sepekan ke depan atau 9-15 Oktober.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyebut bahwa saat ini wilayah perairan Indonesia sedang terjadi fenomena La Nina.
Fenomena La Nina merupakan situasi yang udara lebih dingin dengan curah hujan yang tinggi.
“La nina masih terjadi hingga akhir tahun nanti, meskipun intensitasnya lemah. Namun, cukup signifikan menambah uap air di Indonesia,” jelas Dwikorita dalam konferensi pers, Sabtu (8/10/2022).
Dalam hal ini, BMKG pun memberikan beberapa rekomendasi selama menghadapi potensi cuaca ekstrem dalam seminggu ke depan.
Pertama, memastikan infrastruktur dan sistem tata kelola sumber daya air siap untuk mengantisipasi peningkatan curah hujan.
Kedua, melakukan penataan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan, dan tidak memotong pohon di lereng. Selain itu tidak menebang pohon secara sembarangan, dan melakukan penghijauan secara masif.
Ketiga, melakukan pemangkasan dahan dan ranting pohon yang rapuh. Serta menguatkan tegakan atau tiang agar tidak roboh saat tertiup angin kencang.
Keempat, menggencarkan sosialisasi dan edukasi secara masif untuk meningkatkan kepedulian masyarakat serta pihak terkait dalam mencegah risiko bencana hidrometeorologi. Misalnya banjir bandang, puting beliung, longsor dan gelombang tinggi.
Kelima, mengintensifkan koordinasi sinergi dan komunikasi antar pihak terkait kesiapsiagaan antisipasi bencana hidrometeorologi.
Keenam, terus memonitor informasi perkembangan cuaca dan peringatan dini cuaca ekstrem dari BMKG, secara lebih rinci dan detail untuk tiap kecamatan di seluruh wilayah Indonesia. (bsn)
IKUTI KAMI BOROBUDUR NEWS DI GOOGLE NEWS (KLIK DISINI)
About The Author
- Penulis: BNews 2



Saat ini belum ada komentar