Dibalik Konsep Desa Bersaudara Dalam Pengungsian Merapi di Magelang

BNews–MUNGKID-– Konsep penanganan bencana cukup bagus diperlihatkan Pemkab Magelang saat status siaga Gunung Merapi. Bahkan sampai dipuji oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo saat berkunjung ke salah satu lokasi pengungsian.

Dalam hal ini tidak lepas peran dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang. Melalui Kepala Pelaksana BPBD, Edi Susanto menceritakan tentang rahasia keberhasilan Kabupaten Magelang dalam menghadapi bencana tersebut. Khususnya dalam penanggulangan bencana alam erupsi gunung berapi (Merapi).

Terkait tentang erupsi Gunung Merapi, katanya itu bukanlah suatu hal yang baru. Pasalnya, Gunung Merapi sendiri sudah menjadi salah satu bagian dari masyarakat di Kabupaten Magelang. Tentunya pernah erupsi beberapa kali, paling terakhir pada tahun 2010 yang lalu.

“Belajar dari setiap erupsi yang telah terjadi, maka dibentuklah suatu sistem yang sangat efektif yakni “Sister village” (Desa Bersaudara). Dimana apabila suatu desa terdampak dengan erupsi merapi, maka desa tersebut akan mengungsi ke desa saudaranya. Dimana yang sebelumnya sudah ada perjanjian terlebih dahulu,” katanya (8/11/2020).

Namun, menurutnya terdapat kendala baru saat penerapannya kali ini yaitu Pandemi Covid-19. Dimana hal tersebut membuat sistem sister village ini agak sedikit kerepotan untuk dilakukan.

Dimana suatu desa harus mengungsi ke desa saudaranya dengan tetap mengedepankan protokol Covid-19 salah satunya yaitu harus menjaga jarak. “Hal inilah yang mengakibatkan nantinya tempat penampungan menjadi kurang. Hal ini karena harus mengedepankan social distancing (jaga jarak) yang akan memakan tempat,” kata, Edi.

Namun demikian, tiba-tiba Edi mengingat pada saat melakukan semacam studi banding di negeri sakura (Jepang) beberapa waktu lalu. Ia menceritakan bahwa di Jepang teknologi kebencanaannya sangatlah maju, selain itu kepatuhan masyarakatnya juga sangat tinggi.

Loading...
DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

“Pada saat saya kesana, saya melihat ada suatu seperti tempat pengungsian tetapi tidak tahu bencananya apa. Tempat pengungsian itu ditata sedemikian rupa dan terbagi dengan sekat-sekat sesuai dengan kuantitas atau jumlah KK-nya,” jelas, Edi.

Lanjut Edi, sontak Ia langsung teringat dengan pengalamannya pada saat melakukan studi banding di Jepang itu untuk segera diterapkan pada kondisi saat ini di wilayah Kabupaten Magelang. Dimana kondisi Gunung Merapi sudah pada status siaga level III.

Status tersebut yang memaksa masyarakat pada jarak 5 Km dari puncak harus segera mengungsi, di tambah lagi dengan kondisi Pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. “Tidak berpikir panjang saya langsung perintahkan untuk membuat tempat penampungan. Tentunya dengan dilengkapi sekat-sekat dengan tujuan membagi per kelompok/per KK untuk mengurangi dampak Covid-19,” pungkasnya. (bsn)

Kaos Deglang

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: