Festival Bhumi Atsanti V 2026 Digelar di Borobudur Magelang, Hadirkan 18 Kelompok Seni
- calendar_month 22 jam yang lalu

Festival Bhumi Atsanti V 2026 Digelar di Borobudur
BNews—MAGELANG— Festival Bhumi Atsanti (FBA) kembali digelar untuk kelima kalinya di Bhumi Atsanti, Dusun Bhumi Segoro, Desa Borobudur, Kabupaten Magelang.
Festival yang diselenggarakan Yayasan Atma Nusvantara Jati atau ATSANTI Foundation tersebut berlangsung selama tiga hari, 21-23 Agustus 2026, dengan mengusung tema “Rahayuning Jagad”.
FBA V menghadirkan beragam kegiatan yang mempertemukan seni, budaya, komunitas, dan masyarakat. Selama festival berlangsung, pengunjung dapat menikmati seni pertunjukan, sarasehan budaya, workshop, ArtLab, dolanan tradisional, lomba melukis gerabah, Senam Kreasi Budaya, hingga pop-up market yang melibatkan pelaku UMKM di kawasan Borobudur dan sekitarnya.
Ketua Yayasan Atsanti, M.F. Nilo Wardhani, mengatakan tema “Rahayuning Jagad” dipilih sebagai bentuk doa sekaligus refleksi atas berbagai dinamika yang terjadi dalam kehidupan masyarakat maupun dunia.
“Berbagai peristiwa yang terjadi belakangan ini, mulai dari konflik kemanusiaan, tantangan ekonomi, perubahan sosial, hingga berbagai bencana alam, mengingatkan kita bahwa kehidupan bersama membutuhkan kepedulian dan rasa saling menjaga. Dalam situasi seperti ini, kita perlu bercermin ke dalam diri, saling berbela rasa, dan memohon kepada Sang Ilahi agar kita semua senantiasa diberi keselamatan dan rahayu,” ujar Dhani.
Bagi FBA, Rahayuning Jagad bukan sekadar doa, tetapi juga ajakan untuk merawat kehidupan melalui hal-hal yang dekat dengan keseharian. Mulai dari berkesenian, menjaga kebudayaan, membangun perjumpaan, hingga memperkuat hubungan antarsesama.
Semangat tersebut menjadi benang merah dalam penyelenggaraan FBA V. Seniman dari berbagai daerah akan bertemu di Borobudur, komunitas lokal mengambil peran, masyarakat turut terlibat, sementara pelaku UMKM mendapatkan ruang untuk memperkenalkan produk dan karya mereka.
Libatkan Seniman dari Berbagai Daerah
Ketua Penyelenggara FBA sekaligus Manager Bhumi Atsanti, Luisa Gita, berharap Festival Bhumi Atsanti yang rutin digelar sejak 2023 dapat terus menjadi ruang pertemuan bagi seniman, budayawan, serta komunitas seni dan budaya.
“FBA kami harapkan dapat menjadi ajang bagi para seniman, budayawan, dan berbagai komunitas seni budaya untuk menampilkan karya, bertemu, dan membangun jejaring satu sama lain. Selain itu, FBA juga menjadi wadah bagi kami untuk terus menjaga dan mengembangkan berbagai budaya Nusantara melalui cara-cara yang inovatif dan kreatif,” ucap Gita.
Semangat kebersamaan juga terlihat dari meningkatnya keterlibatan relawan dalam penyelenggaraan FBA V. Volunteer dari berbagai daerah turut mengambil bagian mulai dari proses persiapan hingga pelaksanaan festival.
“Animo volunteer FBA tahun ini meningkat lebih dari 500 persen. Bagi kami, hal ini menunjukkan bahwa semangat untuk terlibat dan bergotong royong dalam kegiatan kebudayaan masih sangat besar,” ujar Gita.
Keterlibatan para relawan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan FBA. Festival tidak hanya dibangun oleh penyelenggara, tetapi juga oleh banyak pihak yang menyumbangkan waktu, tenaga, gagasan, karya, maupun sumber daya untuk menciptakan ruang kebudayaan bersama.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Art Director Festival Bhumi Atsanti V, Putri Maharani, mengatakan open call FBA tahun ini mendapatkan respons dari berbagai daerah.
Para penampil datang dari Deli Serdang, Sumatera Utara, Banyuwangi, Malang, Indramayu, Yogyakarta, Magelang, serta sejumlah daerah lainnya.
“Saya merasa terharu melihat antusiasme dan upaya para penampil untuk dapat hadir dan berpartisipasi dalam FBA V. Semangat serta karya-karya para seniman, khususnya para pelaku seni tradisi, tahun ini sangat membanggakan dan patut diapresiasi,” ujar Putri.
“Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi dalam penyelenggaraan kegiatan kebudayaan, mereka tetap memilih untuk hadir, berkarya, dan bertemu. Bagi saya, semangat seperti inilah yang perlu terus dirawat. Semoga FBA dapat menjadi ruang kreasi, perjumpaan, dan apresiasi bagi para pelaku seni ,” lanjutnya.
Salah satu penampil dari luar Jawa adalah kelompok dari Deli Serdang, Sumatera Utara, yang akan membawa Ketoprak Dor.
Kesenian tersebut merupakan warisan budaya tak benda yang merekam perjalanan dan perkembangan kesenian ketoprak dari tanah Jawa ke tanah Deli melalui sejarah masyarakat Jawa di Sumatera.
Ketoprak Dor juga akan menjadi salah satu topik khusus dalam sarasehan budaya yang digelar pada Sabtu, 22 Agustus 2026.
Selain itu, FBA V menghadirkan Damar Art dari Banyuwangi serta berbagai kelompok seni dari sejumlah daerah yang akan menampilkan musik tradisi, tari, teater, dan bentuk seni pertunjukan lainnya.
Libatkan Komunitas Budaya Borobudur
Pada penyelenggaraan FBA V, peran komunitas penggerak budaya lokal di Borobudur semakin terlihat.
Aksaya Budaya Mbuduran, yang merupakan transformasi dari Daya Desa Borobudur, terlibat sejak tahap awal persiapan festival.
Aksaya Budaya Mbuduran merupakan wadah yang mempertemukan pegiat desa dan perwakilan masyarakat dari 20 desa di Kecamatan Borobudur. Wadah tersebut hadir dengan semangat menjaga, mengembangkan, dan memajukan kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat Borobudur.

Wakil Ketua Aksaya Budaya Mbuduran, Anang, mengatakan keterlibatan dalam Festival Bhumi Atsanti menjadi pengalaman penting untuk srawung, memperluas jaringan, berbagi gagasan, sekaligus melihat kembali peran kebudayaan dalam kehidupan bersama.
“Bagi Aksaya Budaya Mbuduran, keterlibatan dalam Festival Bhumi Atsanti meneguhkan kembali tujuan kami, yaitu menjadikan kebudayaan sebagai salah satu kekuatan masyarakat desa,” ujarnya.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Bersama Aksaya Budaya Mbuduran, FBA V juga menghadirkan sejumlah program baru. Di antaranya lomba melukis gerabah dan permainan tradisional yang dikemas menarik untuk mengenalkan kembali permainan tradisional kepada generasi sekarang.
Festival juga menghadirkan Workshop Pakaian Adat Jawa sebagai upaya mengenalkan sekaligus menjaga keberadaan pakaian adat sebagai bagian dari identitas budaya.
Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya FBA menghadirkan kebudayaan dalam bentuk yang dekat, partisipatif, serta dapat dinikmati lintas generasi.
Bagi masyarakat Borobudur, pementasan Jathilan pada Minggu menjadi salah satu hiburan yang dinantikan. Kehadiran kesenian tersebut sekaligus menunjukkan bahwa FBA memberikan ruang bagi kesenian yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat sekitar.
Semangat partisipasi masyarakat juga hadir melalui Senam Kreasi Budaya pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Kegiatan yang melibatkan ibu-ibu dari Magelang ini kembali menjadi bagian dari festival setelah pada penyelenggaraan sebelumnya berlangsung meriah dan diikuti lebih dari 300 peserta.
Hadirkan 18 Kelompok Seni
Festival Bhumi Atsanti V dibuka pada Jumat, 21 Agustus 2026.
Selama tiga hari penyelenggaraan, FBA V menghadirkan 18 kelompok seni dari berbagai daerah dengan beragam bentuk ekspresi seni dan tradisi.
Selain Ketoprak Dor dari Deli Serdang dan Damar Art dari Banyuwangi, festival juga menghadirkan wayang krucil dari Malang serta berbagai pertunjukan musik tradisi, tari, teater, dan seni pertunjukan lainnya dari Yogyakarta, Magelang, dan daerah sekitarnya.
Pada Jumat, FBA juga menghadirkan ArtLab bersama Nanang Garuda, seniman sekaligus akademisi ISI Yogyakarta.
ArtLab tersebut mengangkat topik “Musyawarah Bunyi: Eksplorasi & Penciptaan Musik Kolektif” dan terbuka bagi masyarakat yang ingin belajar maupun berdiskusi mengenai eksplorasi bunyi dari berbagai benda untuk dikembangkan menjadi karya musik.
Sementara pada Minggu, 23 Agustus 2026, rangkaian program partisipatif dan edukatif dilanjutkan melalui Workshop Pakaian Adat Jawa.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Pengunjung juga dapat menikmati beragam kuliner dan kerajinan dari UMKM lokal di area Pasar Bhumi, yang dibuka setiap hari mulai pukul 15.00 WIB.
Festival Terbuka dan Gratis
Festival Bhumi Atsanti V terselenggara melalui dukungan dan kolaborasi berbagai pihak. Bakti Budaya Djarum Foundation menjadi salah satu mitra pendukung yang secara konsisten memberikan dukungan sejak penyelenggaraan pertama hingga kelima.
Dukungan tersebut menjadi bagian dari ekosistem kolaborasi yang memungkinkan festival terus tumbuh bersama kontribusi berbagai pihak lainnya.
Selain dukungan lembaga, FBA juga mendapat dukungan dari komunitas lokal dan masyarakat secara individu, baik dalam bentuk dana, produk, tenaga, gagasan, maupun sumber daya lainnya.
Bagi penyelenggara, keberlanjutan FBA merupakan hasil dari semangat bersama untuk menjaga ruang kebudayaan.
Karena itu, dukungan dari berbagai pihak tidak ditempatkan sebagai satu-satunya sumber kehidupan festival, melainkan menjadi bagian dari; jejaring kolaborasi yang memungkinkan FBA terus hadir dari tahun ke tahun.
Semangat gotong royong tersebut pula yang memungkinkan seluruh rangkaian kegiatan dan pertunjukan di FBA V dapat dinikmati masyarakat secara terbuka dan gratis.
Pada akhirnya, Festival Bhumi Atsanti V bukan sekadar rangkaian pertunjukan selama tiga hari. Festival ini menjadi upaya untuk terus merawat ruang perjumpaan antara seniman dan masyarakat, tradisi dan gagasan baru,;serta komunitas lokal dengan jejaring dari berbagai daerah.
Melalui tema “Rahayuning Jagad”, FBA V mengajak siapa pun yang hadir untuk kembali mengingat bahwa merawat kehidupan dapat dimulai dari hal-hal sederhana; saling bertemu, saling mendengar, berbagi ruang, menjaga kebudayaan, dan bergotong royong. (bsn)
About The Author
- Penulis: BNews 2





Saat ini belum ada komentar