Getaran Bumi Berkurang, Langit Makin Cerah Merupakan Efek Positif Covid-19

BNews—NASIONAL— Pandemi covid-19 yang tak berkesudahan menimbulkan kerugian besar. Mulai sosial, pemerintahan, ekonomi, tradisi hingga nyawa manusia. Namun dibalik dampak negatif tersebut, keberadaan corona membuat langit terlihat terang dan getaran kerak Bumi menurun.

Hal ini diungkapkan oleh para ilmuwan di Royal Observatory of Belgium. Para ahli tersebut merupakan yang pertama memperhatikan penurunan tersebut.

Dalam penelitian disebutkan, pembatasan aktivitas keluar rumah yang diberlakukan untuk melawan covid-19 di sejumlah negara sangat menguntungkan bagi Bumi. Ketika semakin sedikit orang bepergian hingga pabrik berhenti beroperasi, maka cara planet Bumi bergerak juga berubah.

Bahkan, fakta menyebut getaran pada kerak bumi menurun. Gerakan tanah pada frekuensi 1-20 Hz (lebih dalam daripada suara bass ganda, mirip dengan organ besar) jauh lebih rendah sejak pemerintah-pemerintah melakukan pembatasan pergerakan masyarakat.

Dampak positif lain dari adanya covid-19 ialah udara yang lebih bersih dan laut lebih tenang. Satelit telah mendeteksi penurunan nitrogen dioksida dari gas yang berpolusi yang dipancarkan oleh mobil, truk, bus, dan pembangkit listrik. Sementara kapal pesiar memilih merapat di pelabuhan sehingga lalu lintas di laut berkurang.

Bersihnya udara juga terlihat di Jakarta. Beberapa hari belakangan langit di Jakarta tampak biru. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut fenomena langit biru Jakarta ini memang ada kaitannya dengan kebijakan pencegahan covid-19.

”Terkait langit biru, kalau sedang keadaan cuaca cerah memang warna langit biru. Terkait dampak pembatasan pergerakan orang dan kendaraan (WFH) untuk mencegah, memang ada pengaruhnya,” kata Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG Dodo Gunawan, Sabtu (11/4).

Loading...

Menurut hasil pengamatan BMKG, konsentrasi partikel debu (polusi) memang rendah bila dibandingkan dengan tahun lalu. Data ini dibandingkan dengan data Maret 2019.

”Kami punya pengamatan di beberapa lokasi di Jakarta tentang partikel/ debu (SPM=Suspended Particulate Matter), konsentrasinya lebih rendah di banding bulan yang sama Maret 2019,” jelas Dodo.

Imbuh Dodo, secara kualitatif, konsentrasi partikel debu ini juga rendah. Padahal curah hujan pada Maret 2020 lebih kecil dibanding Maret 2019. Dirinya menduga, hal ini disebabkan pergerakan orang dan kendaraan yang rendah selama pandemic corona.

”Tapi secara kualitatif lebih rendah, padahal curah hujan di Maret 2020 lebih kecil daripada di Maret 2019. Jadi kami menduga rendahnya SPM (polutan) di Maret 2020 karena sumbernya rendah, karena tidak banyak pergerakan orang dan kendaraan,” pungkasnya. (han)

Kaos Deglang

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: