Harumnya Khas, Sabun Giricengkih Produksi Ibu-Ibu Di Borobudur

BNews— MAGELANG –– Produk sabun mandi lereng menoreh ini memiliki ciri khas sendiri. Harum clove atau cengkih sangat kuat terhirup dari sabun produksi Ibu-Ibu PKK ini.

Sabun tersebut jika diusapkan ke kulit dan air akan menghasilkan busa yang sedang saja. Bilasan air meninggalkan rasa kesat, tetapi tidak kering.

Perlu ketahui, sabun tersebut bernama Giricengkeh. Sabun buatan tangan dengan bahan penyusun berupa cengkih.

Seorang mahasiswa jurusan Teknik Sipil di Universitas Gajah Mada, Tomi Gunawan,20, adalah inisiator sabun ini. Kisah bermula dari program Kuliah Kerja Nyata (KKN) bersama empat teman kampusnya di Desa Giripurno, Kecamatan Borobudur.

Tomi mendapati komoditas cengkih dijual begitu saja oleh para petaninya. Olahannya pun masih terbatas pada produk minyak atsiri. Setali tiga uang, laju usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) desa setempat belum optimal; ekspansi pasar belum meluas.

Berbekal kegemaran membikin sabun, Tomi lantas menggagas pelatihan membuat sabun dengan bahan cengkih bagi organisasi perempuan PKK Desa Giripurno. Program yang sempat ditentang dosen pembimbingnya lantaran “menyimpang” dengan disiplin ilmunya.

Masa KKN mesti usai lebih dini kala September 2021 tinggal sisa empat hari. Sedangkan sabun belum ada yang pas barang satu batang pun dan antusias anggota PKK sedang tinggi- tingginya. Tomi pun memutuskan cuti satu semester dari Kampus Biru itu demi tetap mendampingi mereka membuat sabun.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

“Saya cuti dari kampus karena melihat sebuah potensi (sabun cengkih), bukan kegagalan waktu itu,” ujarnya di Balkondes Giripurno, belum lama ini.

Sementara keempat temannya tak ikut menyertainya. Alhasil perjalanan ulang-alik Yogyakarta-Magelang dia tempuh sendirian, di tengah pekerjaan lainnya sebagai direktur kreatif di sebuah perusahaan multinasional asal Belanda- Inggris.

Mula-mula sabun melalui uji kandungan di laboratorium kampus UGM. Hasil menyatakan sabun tak memiliki indikasi berbahaya bagi kulit. Tomi lantas mencoba memakai sabun ke wajahnya.

“Saya coba (memakai sabun) ke wajah, bekas bopeng hilang dalam 3 hari,” aku pria asal Riau ini.

Adapun bahan penyusun sabun seperti pada umumnya, seperti soda api, griselin, etda, LABS (Linear Alkyl Benzene Sulphonate), minyak kelapa sawit, minyak kelapa, dan minyak zaitun. Dan, tentu saja cengkih yang diambil intisarinya.

Tomi menyebut keunggulan sabunnya tidak memakai paraben alias bahan kimia yang umum terkandung dalam produk kosmetik terlalu banyak. Sehingga sabun aman bila terusapkan ke wajah, terlebih ke sekujur tubuh.

Selain itu, tanpa kandungan SLS (Sodium Lauryl Sulfate) atau natrium lauret sulfat. Efek panas pada cengkih juga mampu diminimalisir dalam sabun ini.

“Pengolahan sabun cengkih susah. Makanya produksi sabun cengkih tidak banyak,” sambung Ketua PKK Desa Giripurno tersebut.

Bersama 19 anggota PKK, Tomi mampu memproduksi setidaknya 50 sabun batang dalam sehari. Kendati laju pemasaran belum terlalu masif, pesanan cukup banyak berdatangan hanya dalam seminggu sejak perilisan produk.

Setidaknya hingga akhir bulan Oktober 2021, terdapat sekira 600 paket pesanan. Pasalnya, tak hanya sabun batangan saja yang dibuat, tetapi ada penyanitasi tangan dan sabun cuci piring. Namun, sabun batangan mendapat minat lebih banyak. (*/SM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: