Ini Pengakuan Warga Jogja Miliki Satwa Langka: Mulai Lucu Hingga Tak Tahu Jika Dilindungi

BNews—JOGJAKARTA— Enam tersangka yang terlibat kasus memelihara dan memperniagakan satwa air yang dilindungi diamankan petugas. Subdit Gakkum Ditpolairud Polda Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi DIJ menangkap tersangka di rumahnya masing-masing.

Wakil Direktur (Wadir) Polairud Polda DIJ, AKBP Azhari Juanda mengatakan, keenam tersangka tersebut berhasil diamanakan setelah adanya laporan dari warga. ”Keenam tersangka kami amankan setelah ada laporan dari warga,” jelas Azhari saat jumpa pers, Selasa, (16/2).

Tersangka pertama adalah, RRL, 17, warga Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul. Tersangka ini diamankan atas perbuatan memperniagakan satwa dilindungi yaitu kepemilikan berupa satu ekor buaya muara dengan panjang 110 sentimeter.

Perkara tersangka RRL ini selesai melalui sidang diversi di tingkat penyidikan. Namun karena tersangka masih di bawah umur maka sudah dimintakan penetapan kepada ketua Pengadilan Negeri Bantul untuk sesuai dengan sistem peradilan anak.

Tersangka kedua, RCH, 25 tahun warga Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul. Tersangka diamankan atas memperniagakan satwa dilindungi dengan barang bukti satu ekor buaya dengan panjang 120 sentimeter.

Lalu tersangka ketiga RJS, 24, warga Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman. RJS diamankan karena perbuatannya memperjualbelikan satwa berupa satu ekor buaya muara dengan panjang 113 sentimeter.

Tersangka kempat, RR, 17, warga Sabdodadi, Kabupaten Bantul. Tersangka ini ditangkap lantar memiliki satu ekor buaya muara dengan panjang 178 sentimeter.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DI SINI)

Kemudian tersangka kelima EKS, 28, warga Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul. EKS diamankan setelah memperniagakan satwa liar berupa buaya muara dengan panjang 138 sentimeter.

Tersangka keenam, RYS, 28, warga Triharjo, Kabupaten Sleman. Tersangka RYS ditangkap dengan barang bukti kepemilikan 14 labi-labi moncong babi, masing-masing berukaran enam karapaks.

Disinggung dari mana pelaku memperoleh hewan dilindungi itu, beberapa diantaranya membeli buaya muara secara online dan memposting foto buaya di media sosial. Namun hanya untuk dipelihara. Sementara labi-labi moncong babi dibeli secara online dan diperdagangkan oleh tersangka melalui Facebook.

”Dari Pengakuan tersangka untuk satu buaya muara dibeli seharga Rp700-Rp 1,3 juta. Sementara labi-labi dibeli dengan harga Rp240 ribu per ekor,” ujarnya.

Di hadapan petugas dan awak media, seorang pelaku berinisial RYS mengaku tidak tahu jika hewan labi-labi termasuk dilindungi. Awalnya dia melihat bentuk labi-labi moncong babi sangat unik dan dia beli.

”Saya beli karena lucu, lalu setelah tahu menghasilkan uang saya jual lagi,” jelasnya. (han)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: