Jamu Deka, Ramuan Herbal di Magelang yang Laris Manis Saat Pandemi

BNews—MAGELANG— Meskipun zaman semakin canggih, namun eksistensi jamu tak lekang oleh waktu. Apalagi di tengah masa pandemi Covid-19, obat tradisional ini semakin digemari.

Seorang warga Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Dwi Kuntari (28) mengatakan, dirinya mulai menggeluti produksi jamu sejak tahun 2016. Dengan membuat jamu untuk memenuhi pesanan teman-teman dekatnya.

Dia menyebut, membuat jamu dari bahan-bahan alami, diantaranya, jahe, kunir, temulawak, serai, kapulaga, cabai dan kayu manis. Sedangkan untuk pemanis, menggunakan gula kelapa asli.

”Kalau orang Jawa, pitu (tujuh) kan artinya pitulungan (pertolongan). Jadi saya menggunakan tujuh bahan empon-empon,” ujarnya, Jumat (24/9/2021).

Perempuan yang berprofesi sebagai bidan ini menceritakan, serius menjual jamu pada tahun 2019 lalu. Dimulai dengan meletakkan produk jamunya di pet shop milik kenalannya.

”Mulanya dia (kenalan) menawari untuk jamunya dititipkan di pet shop. Kebetulan yang datang dari kalangan menengah ke atas. Alhamdulillah mereka suka. Jadi setiap lima atau tujuh hari nyetok disana,” katanya.

Dia menjelaskan, produk jamunya diberi label dagang ‘Jamu Deka’. Beragam jenis jamu yang dijualnya, seperti Aserehe (asem, lemon, sereh, jahe), JAC (jamu anti Corona), Barley Senja (sereh, jahe), Belovera (beras kencur alovera) dan lain sebagainya.

Bahkan ada produk jamu Asi Booster (penambah asi untuk menyusui), Lemonberry (penambah nafsu makan anak), hingga paket jamu program hamil.

Download Aplikasi Borobudur News (Klik Disini)

Lanjut Dwi, penjualan paling banyak di tengah situasi pandemi saat ini adalah JAC. Dia mengaku, bila sebelumnya, produknya terjual sekitar 300 botol dalam sebulan.

”Pertengahan tahun 2020 jumlah permintaan JAC melonjak menjadi sekitar 1.200 botol,” ujarnya.

Kemudian pada bulan Juni-Juli 2021, permintaan JAC kembali melonjak 100 hingga 150 persen. “Sekarang kan sudah banyak suplemen jadi nggak kaya waktu awal dulu. Tapi (tetap) ada kenaikan,” ujar Dwi.

Papar Dwi, harga Jamu Deka yang dijualnya tersebut bervariasi. Yakni untuk kemasan 350 mililiter dijual Rp 9 ribu dan kemasan 1 liter seharga Rp 25 ribu.

”Saya lebih  (promosi) di Instagram. (Juga) di WhatsApp atau dari teman-teman endorse juga,” paparnya.

Tambah Dwi, pada awal pandemi Covid-19, dirinya memproduksi jamu untuk membantu meningkatkan imun para tenaga kesehatan (nakes).

”Waktu itu memang semuanya susah. Saya punyanya cuman jamu, barengan sama teman ngasih botol, terus ada yang ngasih gula pasir. Jadi 150 botol, kami berikan ke nakes di RSU Muntilan, RS Tidar, dan RST dr Soedjono,” pungkasnya. (mta)

2 Comments
  1. Deka says

    Matursuwun sudah diliput 😊

    1. wijaya says

      mantab.. semangat utk lbh maju

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: