Kasus Pembunuhan Gadis Berseragam Pramuka Terungkap, Pelaku Sakit Hati

BNews–SEMARANG– Pembunuhan sadis dilakukan oleh seorang penjual cimol terhadap seorang pelajar berseragam pramuka di Semarang. Kasus ini terungkap setelah pelaku yang bernama Dicky Ramandany, 19, bergelagat aneh setelah pembunuhan tersebut.

Keluarga asuh pelaku mengungkap gelagat aneh si pelaku Dicky Ramandany selama dua bulan belakangan ini.

Ayah asuh pelaku, Khalimi menceritakan sebelum diketahui melakukan pembunuhan, Dicky memang pernah berperilaku kasar. Dicky, kata Khalimi, dulu kerap mengajak putrinya keluar usai magrib. Hingga akhirnya dia mengetahui ternyata Dicky pernah menyiksa anaknya itu hingga mengalami luka memar.

“Sebelumnya, usai anak saya disiksa Dicky sudah saya marahi di Surabaya, lama. Dia hanya diam, mungkin juga merasa bersalah,” tutur Khalii (19/11/2020).

Buntut persoalan Dicky itu terus berlanjut. Hingga sering menjadi pemicu pertengkaran di keluarga Khalimi. Karena kondisi tak kunjung membaik, Khalimi akhirnya menyerahkan Dicky kepada ayah kandungnya di Surabaya.

Khalimi mengatakan, ayah kandung Dicky yang juga temannya itu bisa menerima keputusan itu. “Saya sudah komunikasi dengan ayah (kandung) Dicky melalui WhatsApp. Tanggal 8 November Dicky sudah pamit semuanya, ya baik-baik. Katanya langsung ke Surabaya,” jelasnya.

Sebagai teman yang sudah seperti keluarga sendiri, Khalimi menerima permintaan itu. Bahkan Dicky sempat masuk pesantren di dekat kediaman Khalimi.

Loading...
DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

“Kata ayahnya, Dicky kalau melihat wajah saya bersinar. Lalu saya usulkan mondok di dekat rumah saya, dengan harapan bisa cocok saat itu. Otomatis sebagai perantara Dicky mondok, saya yang menjadi ayah pembimbing Dicky di Demak,” ujar Khalimi sambil menunjukkan surat resmi penyerahan asuh anak.

Namun baru empat bulan mondok, Dicky dikeluarkan dari pesantren karena berkelahi dengan santri lainnya. Setelah keluar dari pondok pesantren, Dicky mengatakan tetap ingin tinggal di rumah Khalimi. Keinginan Dicky saat itu disetujui keluarga.

Dicky sempat ke Semarang untuk kerja didampingi kakak angkatnya yang kuliah di sana. Namun sejak pandemi virus Corona, keduanya pulang ke Demak. Dicky kemudian ikut membantu jualan cimol kakak angkatnya di Demak.

“Jualan cimol di deretan Kali Tuntang,” ujar Khalimi.

“Anaknya kalau di rumah baik, sopan, berbahasa krama, duduk bareng, ngomong-ngomong, ikut salat berjamaah. Memang dua bulan terakhir ini sudah saya rasakan perbedaanya,” tuturnya.

Dicky ditangkap atas kasus pembunuhan seorang gadis berusia 17 tahun. Polisi mengungkap hubungan antara Dicky dan korban yakni berpacaran.

Kepada polisi, Dicky mengaku tega membunuh korban karena sakit hati sering dihina. Dicky mengaku dihina korban lantaran pekerjaannya sebagai penjual cimol.

Pembunuhan itu terjadi dalam kamar sebuah hotel di Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Mayat korban ditemukan dalam kondisi penuh bekas kekerasan, salah satunya bekas bekapan di wajah. Selain itu, mayat korban juga masih mengenakan seragam Pramuka.

Atas perbuatannya, Dicky pun terancam hukuman mati. Ia diancam pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana juncto 365 ayat 3 KUHP juncto pasal 80 ayat 3 pasal 76c UU No 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak. (*)

Kaos Deglang

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: