Kehancuran “JIWA” Akibat Online Class yang Berkepanjangan

BNews–OPINI– Betapa menariknya keputusan terakhir yang dilontarkan oleh KEMENDIKBUD perihal sistem pendidikan di Indonesia pada masa pandemi COVID-19. Tahun ajaran baru 2020/2021 telah dimulai sejak awal bulan Juli ini dengan catatan pembelajaran tatap muka hanya diselenggarakan oleh daerah yang berzona hijau.

Sedangkan KEMENDIKBUD sendiri menyatakan jika hanya ada 6% dari total peserta didik di Indonesia yang berada di zona hijau.

Hal ini berarti 94% pelajar di Indonesia akan melakukan sistem pembelajaran daring ataupun online class.

Tidak hanya terkenal dengan keanekaragaman budayanya, Indonesia juga mempunyai keanekaragaman pada tingkat ekonomi rakyat. Ini menunjukkan jika tidak semua pelajar Indonesia bisa dikatakan pelajar yang “mampu” dalam segi ekonomi sebagai penunjang pendidikan.

Mungkin peribahasa “Sudah Jatuh Tertimpa Tangga” sangat cocok menggambarkan keadaan pelajar yang “kurang mampu” saat ini. Bagaimana tidak? Mereka harus menjaga diri dari serangan virus korona, disisi lain mereka juga dihadapkan dengan sistem pendidikan online class yang banyak gejolaknya.

Psikologis pelajar kurang mampu di daerah yang belum berzona hijau akan menjadi taruhannya ketika sistem Online class ini terus berlanjut di tahun ajaran baru 2020/2021.

Pergolakan Psikologis Pelajar
Loading...

Masalah ekonomi menjadi pemicu utama terjadinya gangguan psikologis bagi para pelajar miskin akibat penerapan sistem pembelajaran online class yang terlalu lama ini.

Berdasarkan data dari Badan Statistik Kota Yogyakarta, ada lebih dari 2.500 pelajar dari tingkat dasar hingga tingkat atas yang tergolong menjadi pelajar miskin. Bisa dibayangkan berapa banyak pelajar “Tidak Mampu” di Indonesia jika di satu daerah saja mempunyai angka yang tidak bisa dibilang sedikit.

Teknologi sebagai media pembelajaran dan akses internet yang dibutuhkan sebagai penunjang sistem pembelajaran tidak bisa mereka dapatkan. Tertekan dan stress lah yang akan mereka rasakan disaat pendidikan yang seharusnya menjadi haknya tidak terpenuhi.

Online class mengharuskan para pelajar berdiam diri dirumah dan mendengarkan penjelasan yang disampaikan oleh guru nya. Namun seringkali keadaan dan kondisi rumah mereka tidak mendukung untuk melakukan kegiatan belajar mengajar. Masih banyak para orang tua yang belum paham jika anak nya merupakan seorang pelajar

dengan status belajar di rumah. Gangguan suara, permintaan bantuan, hingga tidak adanya bantuan belajar dirumah mengakibatkan tekanan tersendiri bagi pelajar.

Secara otomatis, hal ini akan membuat mereka merasa tidak nyaman. Membandingkan keadaan dirinya dengan keadaan orang lain adalah hal yang mungkin saja mereka lakukan. Tentu saja ini sangat membahayakan mental mereka nantinya.

Dilansir dari kompas.com, pelajar yang mendapat tekanan besar terus-menerus lebih mudah gelisah dan cemas. Belajar di bawah tekanan membuat anak mengalami kesulitan belajar, stres, dan depresi.

Hal yang seharusnya tidak akan menjadi masalah ketika belajar di sekolah, saat ini berakibat fatal. Karena bukan hanya sarana dan prasarana yang dibutuhkan pelajar, dukungan dan dorongan semangatlah yang mereka nantikan.

DOWNLOAD MUSIK KEREN (KLIK DISINI)

Berdasarkan data dari KPAI sudah ada 51 pengaduan dari berbagai wilayah, termasuk Jakarta, Bekasi, Cirebon, Tegal, sampai Pontianak perihal beratnya penugasan dari guru yang harus dikerjakan dengan tenggat waktu yang sempit dan tidak hanya satu guru yang memberikan tugas banyak seperti ini.

Pandemi COVID-19 ini mampu membuat psikologis semua orang terancam. Namun para pelajar malah dibebankan dengan tugas yang meningkat dua kali lipat dibandingkan ketika sekolah tatap muka. Hal ini tentu saja meningkatkan tekanan psikologis pelajar. Ekonomi yang tidak terpenuhi, kondisi belajar yang tidak stabil, ditambah beban tugas sekolah yang membludak mampu membuat para pelajar “kurang mampu” mengalami kehancuran jiwa.

Bagaimana tidak, dalam kondisi normal saja pendidikan layak sangat sulit mereka dapatkan. Bisa dibayangkan bagaimana usaha mereka di tengah kemerosotan ekonomi dan lain sebagainya akibat pandemi.  Tidak hanya kesehatan badan yang perlu diperhatikan, kesehatan mental juga harus diperhitungkan.

Pergerakan Pembasmian

Bantuan Operasional Sekolah (BOS) pagi pelajar kurang mampu memang sudah diberikan oleh pemerintah, dan sudah ada kebijakan baru selama pandemi COVID-19 ini.

Berdasarkan Permendikbud no.19 tahun 2020, di masa kedaruratan COVID-19 ini dana BOS yang diberikan dapat digunakan untuk pembelian pulsa, paket data, dan/atau layanan pendidikan daring berbayar bagi pendidik dan /atau peserta didik dalam rangka pelaksanaan pembelajaran dari rumah.

Ini sebagai wujud nyata jika keputusan penerapan sistem pembelajaran ditengah pandemi ini sudah dipikirkan dengan memperhatikan berbagai aspek.

Jika dari pemerintah sebagai penyokong ekonomi rakyat sudah memberikan aksi nya, keluarga sebagai aspek utama keberhasilan para pelajar juga harus ikut serta berupaya agar para pelajar yang notabennya tidak mampu dalam segi ekonomi tetap mendapatkan hak pendidikannya dan terhindar dari gangguan psikologis ini nantinya. 

Sistem pembelajaran online class ini berpotensi besar dalam mempengaruhi psikologis pelajar. Sehingga masalah ekonomi yang tercukupi, keadaan belajar yang menyenangkan, dan saling mengerti kondisi satu sama lain harus kita lakukan agar para pelajar tetap bisa mendapatkan hak pendidikannya dan terhindar dari masalah psikologis yang kacau.

Pandemi berakhir, ekonomi kembali naik, pendidikan normal, psikologis pelajar kembali tenang. (*)

Penulis : Anita Hikma Dwi Artawati

Mahasiswi Sampoerna University

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: