Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Kisah Pria Lereng Merapi Magelang Sukses Usaha Kotoran Kambing Jadi Pupuk

Kisah Pria Lereng Merapi Magelang Sukses Usaha Kotoran Kambing Jadi Pupuk

  • calendar_month Sab, 19 Nov 2022

BNews–MAGELANG-– Setelah lulus kuliah, Aziz Budi bingung mau kerja apa. Setelah berpikir panjang, pria asal Desa Sewukan, Kecamatan Dukun, Magelang berniat untuk membuka usaha sendiri yang kiranya bisa membantu petani di tempatnya.

Pada akhirnya Aziz melihat peluang pada pengolahan kotoran kambing menjadi pupuk. Sebelumnya, para petani di desa tempat Aziz tinggal menggunakan pupuk kimia dalam bertani. Namun seiring waktu, harga pupuk kimia naik sehingga harga produksi petani pun ikut naik. Dengan mengolah kotoran kambing jadi pupuk, ia berharap bisa membantu mengurangi biaya produksi petani.

Dalam perjalanannya, Aziz mengakui dia bukanlah orang yang memiliki latar belakang pendidikan dari sektor pertanian. Oleh karena itu sebelum memulai usaha, ia harus belajar dulu bagaimana cara melakukan pengolahan itu.

Lalu bagaimana kisah sukses Aziz mengelola kotoran kambing jadi pupuk? Berikut selengkapnya:

Pada awalnya, Aziz melihat tata cara pengolahan itu melalui YouTube. Setelah itu, ia memulai belajar dari teman-temannya dan juga bertanya dengan dinas pertanian. Dari sana Aziz banyak belajar bagaimana cara mengolah pupuk yang benar.

Setelah dirasa cukup ilmu, Aziz mulai membeli bahan-bahan untuk modal awal, di antaranya mesin giling, dan juga bahan baku berupa kotoran kambing.

“Untuk bahan baku kotoran kambing ini saya tanya-tanya ke Purworejo untuk nyari-nyari kambing etawa, kebetulan yang saya olah ini dari kotoran etawa,” kata Aziz dikutip dari kanal YouTube Cap Capung.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Bagi Aziz, kotoran kambing lebih baik dibandingkan dari kotoran-kotoran lain untuk diolah sebagai pupuk. Namun dari semua kotoran kambing, Aziz memilih kotoran kambing etawa. Menurutnya kambing etawa kotorannya cenderung lebih besar, sementara untuk kotoran kambing lain masih menggumpal-gumpal.

“Kalau bahan untuk proses itu seratus persen saya dari kotoran kambing, terus saya tambahkan dolomit, kapur itu, terus saya kasih cairan untuk pengurainya,” kata Aziz.

Dalam pengolahan pupuk organik itu, Aziz menghadapi berbagai kendala. Salah satunya adalah pengolahan pupuk itu cenderung sulit saat musim hujan karena pada musim itu kondisi kotoran cenderung basah. Selain itu, transportasi untuk mengirim pupuk ke luar daerah cenderung sulit. Apalagi belakangan ini banyak konsumen yang tertarik pupuk olahan itu berasal dari luar daerah.

“Kalau harga yang khusus wilayah Magelang Rp35 ribu per karung, terus yang kecil Rp15 ribu per karung. Kalau mau kirim ke luar Magelang kita juga butuh ongkir. Nanti harganya dinaikkan, tapi sudah free ongkir,” kata Aziz dikutip dari kanal YouTube Cap Capung.

Aziz mengatakan, dalam sebulan, usaha produksi pupuknya bisa mencapai ribuan karung. Harapannya ke depan produksi pupuknya bisa meningkat hingga 1.500-2.000 karung.

Ia pun membuka kesempatan bagi para petani lain untuk membangun kerja sama. Baginya, usaha pupuk dari kotoran kambing ini memiliki prospek yang bagus ke depannya.

“Kadang-kadang ada orang yang mengatakan kalau kotoran kambing ini menjijikkan, tapi bagi kami untuk jangka panjangnya itu prospek,” kata Aziz dikutip dari kanal YouTube Cap Capung. (*)

About The Author

  • Penulis: BNews 2

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less