Mengenal Batik Khas Lereng Menoreh Bermotif Unik

BNews—SALAMAN—Lereng Perbukitan Menoreh dikenal menyimpan segudang potensi menawan. Mulai dari keindahan panorama alamnya hingga produk unggulan kain batik tulis yang khas. Keunikan batik tersebut terlihat pada pola mencanting dan motif yang terinspirasi alam Menoreh yang belum ada di daerah lain di Indonesia.

Tidak banyak yang menyangka bila Widiharto, pemuda asal Dusun Karangsari 1, Desa Ngargoretno, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang itu memiliki kemampuan membatik. Maklum, pria 33 itu merupakan lulusan kampus pariwisata jurusan perhotelan di Jogjakarta.

Widi, sapaan karibnya mengaku, mulai menggeluti batik sejak dirinya masuk tahun pertama kuliah. Tepatnya tahun 2005. Keinginan mulai timbul setelah banyak melihat para pembatik mayoritas merupakan kaum ibu-ibu dan orang tua.

”Saya pikir, kenapa tidak ada pembatik muda. Lalu saya penasaran dengan motif yang beragam, harga bisa mahal hingga apakah saya mampu membuatnya?” kenang pria yang sempat menjadi koki di hotel Jogjakarta hingga Jakarta itu, Rabu (2/10).

Sejak saat itu, Widi mulai belajar menggores canting di atas kain primisima. Potensi keindahan disekitar rumahnya menjadi inspirasi dirinya dalam membuat motif batik. Mulai dari daun bambu dan pepaya, lereng Menoreh hingga bukit marmer merah yang langka.

”Kalau saya lebih banyak mendapat ide dari lingkungan sekitar rumah. Kadang kalau ada inspiasi yang datang tiba-tiba langsung saya desain,” ucapnya saat ditemui borobudurnews.com di rumahnya.

Awal berdiri, anak kedua pasangan Ponco Wiyono dan Suparni mencoba membranding batik karyanya dengan sebutan ’Batik Kere’. Nama itu diambil lantaran saat awal menekuni membatik dirinya tidak memiliki modal untuk memulai dalam membatik. Pasca kelahiran buah hati pertama, Ni Luh Gendis Chandra, brandingnya lantas berganti menjadi ’Batik Kere Blirik Gendis’

Loading...

”Blirik adalah teknik mencanting secara zig zag. Bukan garis lurus seperti kebanyakan dan hanya ada pada batik buatan saya. Tidak ada di daerah lain,” klaim pria yang selalu mengenakan ikat kepala ’iket ndeso’ ungu dan sarung batik itu.

Widi menjelaskan, Gendis yang diambil dari nama anaknya itu juga tak kalah unik. Bentuk gambarnya presisi dan simetris empat sisi satu titik. Orang Jawa menyebutnya ’sedulur papat lima pancer’.

Hingga suatu hari ada seseorang yang datang kepada dirinya kemudian untuk meminta segera mematenkan Blirik. Namun terkendala ketidaktahuan mulai tata cara hingga kantor untuk mengajukan hak paten.

Beberapa pejabat, tokoh agama hingga orang parlente terbukti kepincut membeli karyanya lantaran motif Blirik yang dianggap prestis. Seperti Ibu Walikota di Jakarta, kiai NU hingga rider Harley Davidson Club Indonesia (HDCI). Bahkan, rumah sekaligus galerinya ’Jerambah Gubug Latar Mbah Ponco’ beberapa bulan kemarin sempat dikunjungi Ketua DPRD Kabupaten Magelang, Saryan Adiyanto.

”Kebetulan yang menemui ayah saya karena saya sedang bekerja di Jakarta. Saya sangat senang bapak Ketua DPRD malam-malam dan tiba-tiba datang ke rumah. Bagi saya ini merupakan bentuk apresiasi,” bangga dia.

Bicara dukungan, Widi mengaku nyaris tidak ada. Sejak berkarya mulai 2005-2019 dirinya belum pernah digaet Pemerintah Kabupaten Magelang seperti mengikuti pameran, workshop hingga pelatihan membatik. Bahkan, hingga kini ia mengaku kesulitan mempromosikan batiknya.

”Dulu sempat promosi lewat media sosial Instagram dan Facebook tapi tidak lama. Sekarang hanya promosi lewat WhatsApp dan getuk tular saja,” terangnya. Imbuh dia, jaringan seluler di rumahnya yang cukup buruk menjadi kendala lantaran letaknya di lereng menoreh.

Lanjut widi, antusias warga sekitar untuk membatik juga masih kurang. Sebab, warga masih melihat dari segi ekonomi. Mereka lebih memilih bekerja disektor lain yang lebih menjanjikan daripada harus membatik.

”Padahal kalau ditekuni akan menjadi potensi pariwisata luar biasa. Dan saat ini, saya kerjakan sendiri semua pesanan batik dari dalam dan luar kota,” ujar dia.

Dia berharap, di Hari Batik Nasional 2019 mampu menjadi pelecut untuk bagaimana masyarakat semakin mencintai batik sebagai warisan leluhur bangsa Indonesia.

”Selain itu, stigma batik sebagai busana tradisional bisa dirubah karena batik dewasa ini semakin kreatif dan kekinian serta tidak kalah keren dari pakaian modern,” pungkas dia. (han)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: