Mengenal Fenomena Ekuiluks yang akan Terjadi di Indonesia pada Januari-Februari 2022
- calendar_month Ming, 23 Jan 2022

ILUSTRASI: Fenomena Ekuiluks (foto: sehatq)
BNews—NASIONAL— Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional BRIN menginformasikan, bahwa 3 ibukota provinsi di belahan utara Indonesia dan 36 lokasi lainnya akan mengalami fenomena Ekuiluks. Ekuiluks sendiri adalah fenomena astronomis ketika panjang siang tepat sama dengan panjang malam, yakni 12 jam.
Peneliti Pusat Riset Sains Antariksa LAPAN BRIN, Andi Pangerang mengatakan, tanggal terjadinya ekuiluks bergantung dengan lintang geografis pengamat.
“Ekuiluks dapat terjadi beberapa hari, beberapa pekan, bahkan beberapa bulan sebelum atau setelah ekuinoks,” kata Andi, beberapa waktu lalu.
Ekuiluks dapat terjadi ketika solstis, dengan nilai deklinasi Matahari sama dengan kemiringan sumbu Bumi (=23°26′). Dikarenakan deklinasi Matahari tidak mungkin melebihi kemiringan sumbu Bumi, maka kita dapat menentukan koordinat mana sajakah yang tidak memungkinkan terjadi ekuiluks.
Dengan memasukkan d = ±23°26′ ; maka b = ± 2°05,75′ atau ±2,1°. Sehingga, daerah yang terletak di antara 2,1°LU hingga 2,1°LS tidak akan mengalami ekuiluks. Rentang koordinat ini memuat di dalamnya lintang 0° atau garis katulistiwa, sehingga garis katulistiwa tidak akan mengalami ekuiluks.
Untuk daerah yang terletak tepat di lintang 2,1°LU akan mengalami ekuiluks saat Solstis Desember (21 Desember). Sedangkan, daerah yang terletak tepat di lintang 2,1°LS akan mengalami ekuiluks saat Solstis Juni (21 Juni).
“Kita juga dapat mengetahui ekuiluks tidak dapat mungkin terjadi ketika Ekuinoks,” kata dia.
Hal ini dikarenakan nilai ketinggian Matahari harus bernilai nol, agar deklinasi Matahari juga bernilai nol. Dengan kata lain, ekuiluks dapat terjadi ketika ekuinoks dan hanya jika Bumi (ataupun planet lainya) tidak memiliki atmosfer, sehingga tidak membuat ufuk tampak lebih rendah dari ufuk sejati karena pembiasan atmosfer.
Matahari berukuran jauh lebih kecil dibandingkan saat ini secara visual, sehingga tidak memasukkan separuh lebar sudut Matahari untuk penentuan waktu terbit atau terbenam Matahari.
Daftar wilayah yang akan mengalami Ekuiluks 20 Januari – 26 Februari 2022:
- Subulussalam (Aceh), 20 Januari
- Sidikalang (Sumatera Utara), 24 Januari
- Pulau Subi (Kepulauan Riau), 28 Januari
- Pematangsiantar (Sumatera Utara), 29 Januari
- Kisaran (Sumatera Utara), 30 Januari
- Tanjungbalai (Sumatera Utara), 30 Januari
- Anambas (Kepulauan Riau), 31 Januari
- Kabanjahe (Sumatera Utara), 2 Februari
- Berastagi (Sumatera Utara), 4 Februari
- Tapaktuan (Sumatera Utara), 5 Februari
- Tebingtinggi (Sumatera Utara), 6 Februari
- Tarakan (Kalimantan Utara), 6 Februari
- Kutacane (Aceh), 9 Februari
- Deli Serdang (Sumatera Utara), 9 Februari
- Tanjung Morawa (Sumatera Utara), 9 Februari
- Lubukpakam (Sumatera Utara), 9 Februari
- Binjai (Sumatera Utara), 10 Februari
- Tahuna (Sulawesi Utara), 10 Februari
- Blangpidie (Aceh), 12 Februari
- Stabat (Sumatera Utara), 12 Februari
- Pulau Natuna (Kepulauan Riau), 13 Februari
- Pangkalanbrandan (Sumatera Utara), 14 Februari
- Blangkejeren (Aceh), 14 Februari
- Melongguane (Sulawesi Utara), 15 Februari
- Meulaboh (Aceh), 16 Februari
- Nunukan (Kalimantan Utara), 17 Februari
- Langsa (Aceh), 18 Februari
- Takengon (Aceh), 20 Februari
- Dampulis (Sulawesi Utara), 21 Februari
- Benermeriah (Aceh), 21 Februari
- Lhoksumawe (Aceh), 23 Februari
- Bireun (Aceh), 23 Februari
- Sigli (Aceh), 24 Februari
- Jantho (Aceh), 24 Februari
- Miangas (Sulawesi Utara), 25 februari
- Sabang (Aceh), 26 Februari
- Tanjungselor (Kalimantan Utara), 27 Januari
- Medan (Sumatera Utara), 10 Februari
- Banda Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam), 25 Februari
Meskipun mungkin fenomena ini terdengar sedikit asing dan terjadi selama kurang lebih sebulan ke depan, Andi mengatakan, masyarakat tidak perlu khawatir dan panik berlebihan.
“Ekuiluks hanya fenomena astronomis biasa, tidak berdampak apapun ke kehidupan manusia,” kata Andi, dalam laman resminya.
Namun, ketika fenomena ini terjadi maka langit akan mulai tampak terang ketika terjadi dalam beberapa menit sebelum Matahari terbit (sebagai fajar) maupun beberapa menit setelah Matahari terbenam (sebagai senja). Untuk diketahui, Aram terjadi dikarenakan pembiasan sinar Matahari oleh atmosfer Bumi, sehingga saat Matahari terbenam, langit tidak seketika gelap dan menjelang Matahari terbit, langit tidak seketika terang. (*)
Sumber: Kompas.com
About The Author
- Penulis: BNews 7





Saat ini belum ada komentar