72,8 Persen Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau, BMKG: Waspada Cuaca Panas dan Karhutla
- calendar_month Sen, 27 Jul 2026

ilustrasi cuaca cerah berawan. (foto: mta)
BNews–NASIONAL– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia saat ini telah memasuki musim kemarau. Berdasarkan analisis perkembangan pada Dasarian II Juli 2026, tercatat sebanyak 72,8 persen wilayah di Indonesia atau 509 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau.
Dilansir dari laman BMKG pada Senin (27/7/2026), meluasnya musim kemarau ini berbanding lurus dengan meningkatnya jumlah titik pengamatan yang mencatat Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan durasi panjang hingga ekstrem panjang.
Pemantauan BMKG menunjukkan kategori HTH panjang (21–30 hari) terjadi di 1.366 titik. Sedangkan kategori sangat panjang (31–60 hari) terdeteksi di 943 titik.
Adapun HTH kategori ekstrem panjang atau lebih dari 60 hari tercatat di 70 titik pengamatan yang tersebar di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Rekor durasi HTH terpanjang mencapai 80 hari, terukur di Pos Hujan RPH Katerban, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.
Menanggapi meluasnya cakupan kemarau ini, BMKG memberikan peringatan kepada masyarakat untuk mengantisipasi dampak cuaca panas berlebih dan kondisi udara yang kian mengering.
BMKG mengimbau masyarakat untuk selalu waspada saat beraktivitas di luar rumah.
“BMKG mengimbau masyarakat untuk menggunakan pelindung atau tabir surya guna mengurangi paparan langsung sinar matahari. Serta menjaga kecukupan cairan tubuh, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari. Agar terhindar dari dehidrasi dan kelelahan,” tulis BMKG dalam keterangan.
IKUTI BOROBUDUR NEWS DI GOOGLE NEWS (KLIK DISINI)
Selain menjaga kesehatan fisik, BMKG menekankan agar masyarakat dan pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan tinggi terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Seiring kemunculan titik panas (hotspot).
“Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran secara sembarangan. Baik untuk membuka atau membersihkan lahan maupun membakar sampah. Terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, hutan, dan lahan kering,” terangnya.
BMKG juga meminta partisipasi aktif masyarakat untuk segera melapor kepada pihak berwenang jika menemukan titik api atau indikasi kebakaran di sekitarnya. Sehingga upaya penanganan awal dapat segera dilakukan sebelum api meluas.
Meskipun musim kemarau semakin dominan, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang masih berpotensi terjadi secara lokal.
“Oleh karena itu, masyarakat dan para pemangku kepentingan perlu tetap mewaspadai potensi pohon atau dahan tumbang. Baliho roboh, genangan, dan sambaran petir. Serta menghindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, atau bangunan rapuh saat cuaca buruk,” imbau BMKG. (*)
About The Author
- Penulis: BNews 7





Saat ini belum ada komentar