Mengenal Lebih Jauh Wisata Silancur Highland Kaliangkrik Magelang

BNews-KALIANGKRIK– Sebuah destinasi wisata alam di Magelang akhir-akhir ini terdapat yang viral. Selain Telomoyo juga terdapat Silancur Highland yang berada di lereng Gunung Sumbing.

Letaknya yang ada di lereng Gunung Sumbing, tepatnya di Dusun Dadapan, Desa Mangli, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang. Di lokasi tersebut ditawarkan sebuah sensasi wisata alam yang banyak diinginkan oleh wisatawan.

Mulai dari pemandangan indah berlatar belakang Gunung Sumbing dan Kota Magelang. Belum lagi pemandangan empat gunung lain yang tampak dari kejauhan, seperti Merapi, Merbabu, Andong, dan Telomoyo. Termasuk juga gunung-gunung kecil dan perbukitan. 

Semuanya akan nampak indah, eksotis, dan menakjubkan kala sunset maupun sunrise tiba.

Warga, baik dari Magelang maupun daerah sekitar sampai rela menempuh perjalanan jauh demi bisa menikmati hawa segar dan panorama di lokasi tersebut. Pertengahan bulan Juni lalu, saat Silancur Highland buka pertama kali usai pandemi covid-19, ribuan pengunjung bahkan sampai memenuhi jalan hingga perkampungan menuju lokasi wisata.

Saking penuhnya wisatawan yang hendak masuk, video suasana saat itu sampai viral di media sosial. Hal itu membuat pengelola memutuskan kembali menutup sementara Silancur Highland hingga kondisi memungkinkan.

Fenomena ini tentu tidak lepas dari kerja keras serta inovasi dari pengelola Silancur Highland hingga menjadi begitu populer serta terkenal di media sosial dan dunia nyata.

DOWNLOAD MUSIK (KLIK DISINI)

Ada nama Sujarwo di balik keberadaan Silancur Highland. Warga Dusun Dadapan, Desa Mangli, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang tersebut merupakan pencetus ide pertama sampai lahirnya Silancur Highland.

Dahulu, awal dibuka tahun 2017, Silancur berkonsep gardu pandang. Nama bekennya pun menjadi Gardu Pandang Silancur (GPS).

“Akhir tahun 2016 dibangun GPS. Semula, lokasi ini adalah kebun milik keluarga, terus kita lihat potensi disini,” kata pengelola Silancur Highland, Ivan Kurniadi, dikutip tagar.

Dia menyebutkan, lokasi GPS tadinya hanyalah ladang sayuran dengan puncak yang ditumbuhi pepohonan rindang. Ladang tersebut milik keluarga Sujarwo.

GPS muncul bersamaan dengan fenomena gardu-gardu pandang buatan masyarakat di berbagai gunung dan perbukitan. Ketika itu, gardu pandang menjadi spot wisata anyar untuk menikmati pemandangan alam.

Lokasi yang strategis dipadu dengan potensi pemandangan alam yang menarik membuat Sujarwo dan putranya, Riko Sujatmiko sepakat membangun GPS. Saat dibuka perdana, GPS masih berupa bangunan mirip menara dengan bahan dasar bambu.

Bangunan setinggi 10 meter tersebut didirikan di atas bukit sehingga mampu menjangkau pemandangan di kejauhan tanpa terhalang pepohonan atau bangunan lain.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Kabar keberadaan GPS begitu cepat menyebar di media sosial. Apalagi didukung latar belakang foto bak negeri di atas awan. Tak membutuhkan waktu lama, wisatawan dari berbagai daerah langsung mendatangi GPS ketika itu.

“Sekarang gardu pandangnya sudah tidak ada,” ujar Ivan.

Dia menuturkan, seiring berjalannya waktu, pengelola terus mencoba berinovasi dan memberikan sentuhan baru sesuai perkembangan zaman. Tahun 2018, GPS kemudian berganti nama menjadi Silancur Highland.

Perubahan nama tersebut dibarengi dengan penambahan spot-spot menarik di lokasi wisata demi memuaskan hasrat para pengunjung yang mayoritas doyan berfoto. Biasanya, foto-foto yang diambil oleh pengunjung akan langsung diunggah di media sosial masing-masing dan menjadi media promosi gratis.

Ivan mengakui, proses pengembangan sejak tahun 2018 berjalan pelan dan bertahap hingga mampu menjadi seperti saat ini. Apalagi, wisata tersebut dibangun dan dikembangkan dari dana pribadi.

“Ya memang karena milik pribadi jadi bisanya dari sedikit-sedikit. Yang paling senang itu bukan sekarang, tapi prosesnya,” ucap Ivan.

Namun seperti pepatah, proses tidak akan mengkhianati hasil. Silancur Highland yang dulunya hanya berdiri di lahan pribadi seluas sekitar 600 meter persegi, kini telah bertambah menjadi lebih dari 7000 meter persegi.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Meski telah bertambah sedemikian luasnya, namun konsep tetap seperti awal, yakni menawarkan view alam pegunungan.

Ivan menceritakan, pengembangan Silancur Highland selama ini ternyata berkiblat pada wisata Dieng.

“Kita lihat media sosial banyak wisata bagus, tapi kita paling sering lihatnya di Dieng. Memang kita tidak bisa menyaingi Dieng, tapi kita tetap berusaha untuk mengembangkan sebaik mungkin agar pengunjungnya tetap senang dan tidak bosan untuk kembali,” tuturnya.

Dan nyatanya, banyak pengunjung yang memang kedapatan kembali berwisata ke Silancur Highland setelah berkesempatan menikmati alam disana.

“Banyak yang mengatakan, nggak rugi loh bangun pagi-pagi, sampai sini dikasih rejeki. Rejekinya adalah keindahan alam waktu sunrise. Kan biasanya kalau sedang musim hujan atau waktu-waktu tertentu nampak lautan awan atau samudra awan dari sini,” ujar Ivan.

Saking populernya, jumlah wisatawan terus mengalami peningkatan. Jika tidak dalam kondisi pandemi covid-19, jumlahnya bisa mencapai ribuan. Namun, karena mentaati himbauan pemerintah tentang protokol kesehatan, pengelola kemudian membatasi jumlah pengunjung.

Saat ini, angka kunjungan Silancur Highland tercatat mencapai 500an orang di hari biasa. Sedangkan di akhir pekan mencapai angka 1000 orang.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

“Selama masa pandemi, kita menerapkan sistem buka tutup gerbang. Jadi pengunjung kita cek yang keluar masuk, jika dirasa di dalam lokasi penuh, kita tutup dulu, kita minta gantian pengunjung lain, sehingga tidak bertumpuk,” kata Ivan.

Bagi wisatawan yang berasal dari luar daerah, tidak usah khawatir. Karena di Silancur Highland, kini terdapat camping ground dan homestay. Pengelola menyediakan tenda lengkap dengan perangkat lainnya sehingga siap dipergunakan.

Sementara untuk homestay, saat ini baru tersedia dua bangunan. Yakni untuk kapasitas dua orang dan empat orang. Dengan catatan, homestay hanya diperuntukkan bagi keluarga dan pasangan yang sudah resmi menikah.

“Kepada pasangan yang belum menikah, kita tidak mengijinkan selagi itu berdua,” ujar Ivan.

Untuk masalah biaya, masih tergolong terjangkau. Mulai dari tiket masuk wisata yang dibanderol Rp 10 ribu, kemudian tiket camping Rp 15 ribu.

Adapun biaya inap satu malam di homestay kapasita empat orang Rp 350 ribu, kapasitas dua orang Rp 250 ribu. Apabila ada tambahan jumlah penginap di homestay, akan ditambahi cas Rp 15 ribu seperti biaya camping.

Sedangkan biaya menginap di tenda camping ukuran 4×6 dengan fasilitas legkap matras dan sleeping bag, yakni sebesar Rp 120 ribu. Tenda tersebut berkapasitas empat orang.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Nah, bagi traveller yang penasaran, bisa kunjungi Silancur Highland yang terletak di ujung Kabupaten Magelang ini. Untuk yang berasal dari luar daerah, bisa langsung menuju arah Kota Magelang.

Sampai jantung Kota Magelang, traveller bisa mengikuti jalan ke Barat atau arah Kecamatan Bandongan dan mengambil jalur menuju Desa Kalegen. Naik saja terus hingga sampai Desa Mangli yang ditandai tugu kembar setinggi 4 meter. Dari sana, akan ada penunjuk arah sampai lokasi Silancur Highland. Akses bisa dijangkau menggunakan mobil dan sepeda motor.  (*/bsn)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: