Mengenal Sanggar Seni Budaya Warangan Merbabu Magelang

BNews—MAGELANG— Bicara soal Magelang, selain kaya akan tempat wisata ternyata juga kental soal seni dan budayanya. Ratusan jenis kesenian daerah masih terus dilestarikan oleh para seniman atau masyarakat pada umumnya.

Salah satunya dengan adanya ratusan sanggar seni dan budaya yang tersebar di beberapa Kecamatan di wilayah Kabupaten Magelang. Dimana sanggar tersebut sering melakukan pelatihan kesenian ataupun pentas.

Dari ratusan sanggar tersebut, adalah Sanggar kesenian yang berada di Dusun Warangan, Desa Munengwarangan, Kecamatan Pakis. Konon, sanggar ini sudah ada sejak tahun 1970-an, namun baru muncul di media sejak 1999-an.

“Terus makin dikenal. Ada tamu dari mana-mana datang,” ujar Pimpinan Sanggar Warangan Handoko.

Handoko mengaku Sanggar Warangan Merbabu sudah sudah pentas keliling Indonesia. Mulai dari Jakarta, Bali, hingga Kalimantan.

Termasuk pentas di event besar, seperti pembukaan kompetisi sepak bola. Namun, belum sampai pentas ke mancanegara karena terkendala biaya.

Minggu (10/10) kemarin, Sanggar Warangan Merbabu menampilan ragam seni tari dalam satu tarikan pentas. Membawa narasi tentang gugur gunung. Menggambarkan kondisi masyarakat di masa pandemi Covid-19.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

“Masyarakat yang semul aman, tentram, damai, tiba-tiba datang marabahaya yang digambarkan dengan tarian buto tadi,” tutur pria berambut gondrong ini.

Selanjutnya ditampilkan tari Soreng, yang berarti prajurit. Maksudnya untuk menata ulang kampung yang terkena bencana tersebut. Setelah itu disusul penampilan tari Topeng Ireng. Menceritakan bahwa kondisi sudah hampir kembali normal. Kemudian muncul Dewi Kemakmuran yang ditampilkan dengan satu perempuan.

“Itu menunjukan kembalinya situasi yang tidak karuan menjadi stabil seperti semula. Dari ekonomi, pertanian, dari semua aspek. Intinya pandemi ya begitu,” jelas Handoko.

“Jadi nanti semoga cepat pulih. Tarian tadi juga jadi semacam doa,” imbuhnya.

Dalam pertunjukan berdurasi kurang lebih 30 menit ini, Handoko membawa 30-an personel. Hebatnya, mereka hanya berlatih sekali Jumat (8/10) kemarin.

Handoko juga mengatakan pentas seni virtua ini bukan kali pertama yang dilakoni Sanggar Warangan Merbabu. Selama pandemi ini, mereka sudah pentas sekitar 60 kali. Meskipun sensasi yang dirasakan berbeda dengan pentas luring sebelum pandemi. Sebab kini mereka tidak tampil di hadapan wajah penonton langsung.

Meski terbatas, Handoko mengaku senang. Setidaknya, masih bisa berekspresi. Toh, mau di hadapan penonton atau tidak, seniman Sanggar Warangan Merbabu sama-sama gembira saat menari.

“Penari kan puasnya ketika ditonton lansgung. Tapi karena situasi belum memungkinan, ya kami puas-puas saja,” tutur Handoko.

Dia juga menceritakan, beberapa waktu lalu sempat tampil di Hotel Amanjiwo. Membawa 60 personel. Namun hanya ditonton dua orang. “Ketika mereka kencing ya nggak ada yang menonton,” ucapnya terkekeh. “Tapi ya tetap gembira,” tambahnya.

Handoko juga menilai pandemic Covid-19 bukan berarti menjadikan kreativitas menjadi terbatas. Para seniman, khususnya penari, tetap bisa menjaga eksistensi diri. Terlebih saat ini sudah ada media sosial.

“Bisa di rumah, didokumentasi sendiri terus di-upload,” ujarnya.

Selain itu yang tidak kalah penting, seniman harus terus menggali ide. terus. Dengan demikian, pentas-pentas yang ditampilkan selalu membawa narasi. “Biar penonton juga nggak bosan,” pungkasnya. (bsn)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: