Mengenang Jasa Kemanusiaan Johannes van der Steur, Ini yang Dilakukan Komunitas Kota Toea Magelang

BNews—MAGELANG— Komunitas Kota Toea Magelang membersihkan kompleks Makam Kerkhof di Jalan Ikhlas, Kelurahan Magersari, Kota Magelang, Senin (1/7/2024). Kegiatan ini rutin dilakukan setiap awal Juli karena tanggal 10 Juli merupakan peringatan hari lahir seorang tokoh kemanusiaan asal Belanda bernama Johannes van der Steur.

Selain makam Johannes van der Steur, ada puluhan makam lain, seperti istri van der Steur hingga anak asuhnya. Johannes van der Steur merupakan pejuang kemanusiaan yang lahir pada 10 Juli 1865 di Belanda dan meninggal 16 September 1945.

Johannes van der Steur yang merupakan penyebar agama Kristen Protestan tertarik datang ke Hindia Belanda setelah mendengar kabar nasib tentara Belanda di wilayah tersebut. Alih-alih mendengar kabar bahagia, Van der Steur justru mendapat narasi tragis tentang nasib para serdadu.

”Van der Steur datang ke Magelang karena terpanggil oleh sebuah cerita dari seorang tentara yang pulang ke Belanda. Tentara itu mengabarkan bahwa banyak tentara Belanda di Magelang (saat itu) mengalami depresi akibat adanya perang di Lombok dan Aceh,” kata Koordinator Komunitas Kota Toea Magelang, Bagus Priyana, Senin (1/7/2024).

Van der Steur mengawali misinya dengan bekerja sebagai pembantu di dalam tangsi militer. Ia bertugas membagikan kertas yang berisi renungan nukilan ayat-ayat injil. 

“Suatu ketika, dia menemui tentara yang mabuk dan mengatakan bahwa di luar ada anak-anak telantar yang bapaknya sudah meninggal. Anak terlantar berjumlah empat ini lantas diasuh oleh Beliau di sebuah rumah di Menowo,” kata Bagus.

Anak asuhnya semakin banyak hingga akhirnya van der Steur menjual seluruh aset berharga di kampung halamannya. Kemudian, ia kembali lagi ke Magelang bersama istrinya. Dia pun membeli lahan di Kampung Meteseh untuk mendirikan panti asuhan yang bisa menampung anak-anak telantar pada 1892.

IKUTI BOROBUDUR NEWS di GOOGLE NEWS (KLIK DISINI)

Bagus menyebut, anak asuhnya lambat laun semakin banyak hingga ribuan. Mereka berasal dari berbagai suku dan daerah. Seperti Maluku, Ambon, Manado, dan sebagainya.

“Anak-anak itu bukan hanya sekadar diasuh. Tapi juga diberi keterampilan. Kalau perempuan, bisa menjahit, memasak, dan lainnya,” ujarnya.

Untuk laki-laki, lanjut Bagus, diajarkan soal pertukangan, membuat sepatu, hingga disekolahkan dengan baik. Harapan van der Steur, anak-anak yang kurang beruntung itu bisa memiliki derajat dan mengenyam pendidikan yang layak. Yang muaranya menjadi anak yang mandiri.

Namun, saat Jepang datang ke Magelang, van der Steur dibawa menuju Cimahi pada 1942. Hal itu membawa dampak yang luar biasa karena kondisi panti asuhan menjadi tidak keruan hingga 1945.

”Ketika Jepang menyerah, van der Steur kembali ke Magelang dan dinyatakan meninggal pada 16 September 1945,” imbuhnya.

Bagus menambahkan, semasa hidupnya, van der Steur dan sang istri memang tidak memiliki anak. Bagi mereka, ribuan anak-anak asuh itu merupakan anak kandungnya.

“Anak-anak asuhnya maupun generasi kedua dan ketiga, beberapa kali berziarah ke makam van der Steur, baik yang tinggal di Belanda maupun Indonesia,” sebutnya.

Lebih lanjut, Bagus mengungkap bahwa bebersih makam ini memang menjadi agenda rutin Komunitas Kota Toea Magelang. Sebagai bagian dari rangkaian festival Johannes van der Steur.

Ada sejumlah kegiatan yang dilakukan, mulai dari pameran foto dan arsip, bedah sejarah, hingga jelajah kota. “Kami bukan orang yang terlalu mengagungkan Belanda. Tapi, nilai-nilai luhur di balik cerita sejarah dari tokoh kemanusiaan Johannes van der Steur karena pesannya relevan sepanjang masa,” pungkasnya. (mta)

About The Author

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!