Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Menjadi Tuan Atas Diri Sendiri, Ujian Terbesar Indonesia Bukan Kekayaan tapi Kedewasaan Bangsa

Menjadi Tuan Atas Diri Sendiri, Ujian Terbesar Indonesia Bukan Kekayaan tapi Kedewasaan Bangsa

  • calendar_month 4 menit yang lalu

BNews-OPINI-Ada sebuah pertanyaan yang jauh lebih tua daripada republik ini. Pertanyaan yang telah menyertai perjalanan manusia sejak pertama kali mengenal kekuasaan, membangun kota, mengumpulkan kekayaan, hingga membentuk peradaban.

Pertanyaan itu bukan tentang bagaimana menjadi besar. Pertanyaan yang sesungguhnya adalah bagaimana agar tidak hancur ketika kesempatan untuk menjadi besar akhirnya datang.

Sejarah mencatat, banyak bangsa gagal bukan karena miskin. Banyak kerajaan runtuh bukan karena kekurangan sumber daya. Banyak peradaban lenyap bukan karena musuhnya terlalu kuat. Mereka runtuh karena tidak mampu mengelola dirinya sendiri.

Mesir pernah menjadi pusat dunia. Yunani pernah menjadi mercusuar peradaban dan akal manusia. Romawi pernah menguasai wilayah yang nyaris tak berbatas. Abbasiyah menjadi rumah ilmu pengetahuan dunia. Ottoman pernah tampil sebagai kekuatan yang disegani berbagai bangsa.

Namun sejarah memberikan pelajaran yang sama kepada semuanya. Memperoleh kekuasaan ternyata lebih mudah daripada mengendalikan kekuasaan. Mengumpulkan kekayaan lebih mudah daripada menggunakan kekayaan dengan bijaksana. Menjadi besar lebih mudah daripada tetap waras ketika kebesaran itu datang.

Karena itu, ketika menelusuri puing-puing peradaban besar yang pernah berjaya, penyebab keruntuhannya sering kali tidak ditemukan di luar tembok mereka. Penyebab itu justru berada di dalam.

Di dalam keserakahan yang tumbuh tanpa kendali. Di dalam elite yang lebih mencintai pengaruh daripada amanah. Di dalam kelompok yang lebih sibuk mempertahankan keistimewaan daripada memperbesar kemakmuran bersama. Di dalam masyarakat yang perlahan kehilangan kemampuan membedakan kebenaran dan kepentingan.

Keruntuhan sering kali tidak datang seperti badai yang terlihat dari kejauhan. Ia tumbuh perlahan di ruang tengah rumah itu sendiri.

Indonesia dan Kesempatan Sejarah

Mungkin karena itulah pertanyaan terbesar yang dihadapi Indonesia saat ini bukanlah semata persoalan ekonomi, politik, militer, atau sumber daya alam. Semua itu memang penting, tetapi berada di lapisan luar.

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah bangsa ini cukup dewasa untuk mengelola kesempatan sejarah yang sedang berada di hadapannya.

Indonesia memasuki abad ke-21 dengan modal yang tidak dimiliki banyak negara. Di bawah tanahnya tersimpan berbagai sumber daya strategis yang dibutuhkan dunia modern, mulai dari nikel, tembaga, emas, bauksit, gas, hingga berbagai mineral kritis yang menjadi bahan baku teknologi masa depan.

Di lautnya terbentang jalur perdagangan yang menghubungkan dua samudra dan berbagai pusat ekonomi dunia. Di daratannya hidup lebih dari 280 juta manusia yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu kekuatan sosial dan ekonomi terbesar di dunia.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

Dalam perspektif geopolitik, Indonesia bukan negara pinggiran. Indonesia merupakan salah satu simpul penting masa depan dunia.

Namun justru karena itulah Indonesia tidak pernah berada dalam ruang yang sepi dari kepentingan. Sejarah selalu bekerja dengan cara yang sederhana. Di mana terdapat kekayaan, di situ muncul perebutan. Di mana terdapat pengaruh, di situ hadir persaingan. Dan di mana terdapat peluang besar, di situ muncul banyak pihak yang ingin mengambil bagian.

Perubahan Selalu Melahirkan Benturan

Ketika Indonesia melakukan penataan besar dalam sektor ekonomi, sumber daya alam, pangan, energi, pertahanan, birokrasi, kepolisian, intelijen, pendidikan, dan berbagai bidang lainnya, sesungguhnya tidak ada alasan untuk terkejut jika muncul benturan kepentingan, perbedaan pandangan, pertarungan narasi, bahkan upaya-upaya untuk memanfaatkan keadaan.

Yang justru aneh adalah apabila perubahan sebesar itu berlangsung tanpa perlawanan.

Tidak pernah ada bangsa yang berhasil mengubah posisi sejarahnya tanpa mengguncang kenyamanan lama. Jepang mengalaminya saat memasuki era Restorasi Meiji. Korea Selatan mengalaminya ketika keluar dari kemiskinan. Tiongkok mengalaminya melalui reformasi ekonomi. Bahkan negara-negara Barat yang kini dianggap mapan juga pernah melewati pertarungan keras dalam proses transformasinya.

Sebab yang sesungguhnya berubah bukan sekadar kebijakan. Yang berubah adalah distribusi manfaat, distribusi pengaruh, dan distribusi kekuasaan.

Setiap perubahan distribusi kekuasaan selalu melahirkan pihak yang berharap dan pihak yang merasa kehilangan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia menunjukkan keinginan yang semakin kuat untuk keluar dari posisi lamanya. Keinginan untuk berhenti menjadi pemasok bahan mentah. Keinginan membangun nilai tambah. Keinginan memperkuat ketahanan pangan dan energi. Keinginan menata birokrasi. Keinginan memperbaiki tata kelola sumber daya alam. Serta keinginan memperbesar peran negara dalam melindungi rakyat kecil.

Berbagai kebijakan tentu dapat diperdebatkan. Berbagai pelaksanaan dapat dikritik. Berbagai kekurangan juga harus terus diperbaiki.

Namun di balik seluruh perdebatan itu terdapat pertanyaan yang lebih besar: apakah Indonesia sedang berusaha mengubah dirinya dari objek menjadi subjek sejarah?

Menjadi Subjek Sejarah

Jika jawabannya ya, maka bangsa ini harus siap menghadapi seluruh konsekuensinya. Sebab dunia tidak pernah sepenuhnya nyaman melihat lahirnya pemain baru.

Selama puluhan tahun Indonesia sering dipandang sebagai pasar, sumber bahan mentah, wilayah pengaruh, objek investasi, dan tempat berbagai kepentingan bertemu.

Padahal sejarah besar tidak pernah ditulis oleh bangsa yang puas menjadi objek. Sejarah ditulis oleh bangsa yang berani menentukan arah bagi dirinya sendiri.

Di sinilah pilihan besar itu berdiri. Apakah Indonesia akan menjadi geostrategic player yang ikut membentuk arah kawasan dan dunia? Ataukah Indonesia akan tetap menjadi geopolitical object yang arah perjalanannya lebih banyak ditentukan oleh kekuatan di luar dirinya?

Pilihan tersebut tidak ditentukan oleh pidato, slogan, atau keriuhan media sosial. Pilihan itu ditentukan oleh kualitas kesadaran kolektif bangsa.

Sebab negara yang kaya belum tentu berdaulat. Negara yang besar belum tentu berpengaruh. Negara yang kuat pun belum tentu merdeka dalam arti yang sesungguhnya.

Ancaman Terbesar Datang dari Dalam

Banyak orang mengira ancaman terbesar terhadap bangsa selalu datang dari luar. Padahal sejarah justru memperlihatkan hal sebaliknya.

Ancaman terbesar sering kali lahir dari dalam. Bukan dalam bentuk kapal perang, pasukan asing, ancaman fisik, ataupun kudeta kekuasaan.

Ancaman itu hadir dalam bentuk yang jauh lebih halus. Keserakahan yang menyamar sebagai kepentingan. Kebencian yang menyamar sebagai kebenaran. Propaganda yang menyamar sebagai informasi. Kepentingan pribadi yang menyamar sebagai perjuangan publik.

Pada titik itulah bangsa mulai kehilangan kejernihan akalnya. Dan ketika sebuah bangsa kehilangan kejernihan akal sehatnya, bangsa itu menjadi mudah dipimpin oleh ketakutan.

Padahal hampir seluruh tragedi besar dalam sejarah manusia lahir ketika ketakutan mengambil alih akal sehat.

Karena itu, ukuran keberhasilan Indonesia tidak boleh berhenti pada angka pertumbuhan ekonomi, investasi, atau pembangunan fisik semata.

Semua itu penting, tetapi semuanya hanyalah alat. Tujuan akhirnya tetap manusia.

Apakah petani memperoleh harga yang adil? Apakah nelayan mampu melaut dengan tenang? Apakah buruh bekerja dengan martabat? Apakah guru dihormati? Apakah anak-anak memiliki masa depan yang lebih baik daripada orang tuanya? Apakah rakyat kecil merasa negara hadir ketika mereka membutuhkan perlindungan?

Di situlah seluruh teori ekonomi, geopolitik, pertahanan, dan pembangunan diuji.

Sebab negara pada akhirnya tidak dibangun untuk membesarkan negara itu sendiri. Negara dibangun untuk memuliakan manusia yang hidup di dalamnya.

Ujian Kedewasaan Bangsa

Namun bahkan itu belum menyentuh lapisan terdalam. Sebab persoalan terbesar Indonesia sesungguhnya bukan tentang Indonesia, melainkan tentang manusia.

Persoalan yang sama yang pernah dihadapi Mesir, Romawi, Abbasiyah, Ottoman, dan hampir seluruh peradaban besar dalam sejarah.

Apakah manusia mampu menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan dirinya sendiri? Apakah manusia mampu menahan diri ketika memiliki kekuasaan? Apakah manusia mampu tetap adil ketika memiliki kesempatan untuk berlaku sebaliknya? Apakah manusia mampu melihat masa depan ketika keuntungan sesaat berada di depan matanya?

Pada akhirnya, nasib sebuah bangsa selalu menjadi pantulan dari kualitas manusia yang menyusunnya. Negara hanyalah nama. Institusi hanyalah alat. Konstitusi hanyalah teks. Yang menghidupkan semuanya adalah karakter manusia.

Mungkin karena itu, ujian terbesar Indonesia pada abad ini bukanlah ujian kekayaan, teknologi, militer, ataupun geopolitik. Melainkan ujian kedewasaan.

Apakah ketika sejarah akhirnya memberikan kesempatan kepada bangsa ini untuk menjadi besar, kita cukup bijaksana untuk tidak menjadi musuh bagi diri kita sendiri?

Sebab bangsa tidak selalu kalah karena dunia terlalu kuat. Bangsa tidak selalu gagal karena sumber dayanya terlalu sedikit. Bangsa tidak selalu runtuh karena lawannya terlalu besar.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

Sering kali bangsa kalah karena gagal mengalahkan sesuatu yang jauh lebih dekat: keserakahan yang hidup di dalam dirinya, ego yang mengerdilkan akal sehat, ketakutan yang memecah persatuan, serta kepentingan sempit yang mengorbankan masa depan bersama.

Jika itu yang terjadi, Indonesia tidak akan menjadi kacung di rumahnya sendiri karena bangsa lain terlalu kuat. Indonesia akan menjadi kacung di rumahnya sendiri karena gagal menjadi tuan atas dirinya sendiri.

Namun apabila bangsa ini mampu menjaga kejernihan akal, keberanian moral, serta kesediaan menempatkan rakyat sebagai tujuan dari seluruh kekuasaan yang dimilikinya, maka Indonesia tidak hanya akan tumbuh menjadi negara yang berhasil.

Indonesia dapat menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Sebuah peradaban yang membuktikan bahwa kekayaan dapat berjalan bersama keadilan. Bahwa kekuasaan dapat berjalan bersama amanah. Bahwa kemajuan dapat berjalan bersama kemanusiaan.

Dan bahwa kemerdekaan yang sesungguhnya bukanlah ketika bangsa lain berhenti menguasai kita, melainkan ketika kita berhasil menguasai diri kita sendiri.

Penulis Oleh: Azis Subekti-Mahasiswa Program Doktor Hukum UAI, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra.

About The Author

  • Penulis: BNews 2

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less