Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Menjelajah Wisata Negeri Kahyangan Di Kaki Gunung Merbabu dan Merapi Magelang

Menjelajah Wisata Negeri Kahyangan Di Kaki Gunung Merbabu dan Merapi Magelang

  • calendar_month Sab, 30 Jul 2022

BNews–MAGELANG-– Keindahan lereng Gunung Merapi dan Merbabu di kawasan Kabupaten Magelang tidak pernah ada habisnya. Berbagai jenis, macam ataupun lokasi di kawasan tersebut menjadi sebuah tempat istimewa.

Dan yang terbaru menjadi sorotan banyak wisatawan lokal maupun luar daerah adalah kawasan wisata Negeri Kahyangan yang sebelumnya bernama Tol Kahyangan. Lokasinya  tidak jauh dari jalan utama Magelang-Boyolali via Selo.

Di Lokasi tersebut menyuguhkan kemegahan Gunung  Merapi maupun Merbabu. Keindahan matahari terbit juga dapat disaksikan dari sana saat cuaca cerah.

Tampak jalan yang seolah menuju ke langit melalui punggungan Gunung Merbabu. Kawasan tersebut berada di jalan  penghubung antara Dusun Surodadi, Desa Wonolelo dengan Dusun Candran, Desa Banyuroto, Kecamatan Sawangan.

Kendati bukan satu-satunya akses jalan menuju ke sana, tapi jalan itu terbilang paling layak dilintasi daripada jalan lain. Dan sempat viral beberapa waktu lalu di media sosial.

Pengelola Negeri Kahyangan Supri menuturkan, beberapa tahun lalu, ada program perbaikan jalan dari pemerintah. Adanya program itu tentu memberikan berkah bagi warga sekitar.

Sehingga dia bersama para anggota Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mekar Sembada Mulia Surodadi memanfaatkan kesempatan itu untuk menjadikannya spot wisata alam.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Lantas, mereka memanfaatkan peluang itu dengan menyulapnya menjadi destinasi wisata bernama Tol Kahyangan dan kini bernama Negeri Kahyangan. Dulunya, orang-orang mengira tidak ada dusun setelah Surodadi dan jalannya seakan-akan buntu, padahal tidak.

Tidak hanya itu, kata dia, jalan tersebut  merupakan penghubung antardesa dan jalur evakuasi. “Tapi, karena sering tertutup kabut, makanya saya kasih nama Tol Kahyangan. Jalan itu seakan-akan tembus ke kahyangan,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Jumat (22/7).

Kendati demikian, nama Tol Kahyangan yang disematkan itu menjadi satu hal yang harus dipertimbangkan. Terlebih dengan adanya lapak-lapak milik warga yang tidak beraturan di sepanjang jalan tersebut. Bukannya memperindah pemandangan, justru bakal merusaknya.

Selain itu, karena merupakan fasilitas umum, ketika para pengelola hendak memberlakukan harga tiket masuk (HTM), Supri takut jika warga mengira hal itu termasuk pungutan liar (pungli). Atas beberapa pertimbangan, namanya resmi menjadi Negeri Kahyangan dan baru diberlakukan HTM sekitar empat bulan yang lalu. Dengan menarik Rp 10 ribu per orang.

Objek wisata yang berdiri di atas tanah seluas 1,5 hektare ini diperindah dengan adanya bangunan berupa kastil, beberapa patung kuda sembrani, dan lainnya. Kastil itu memiliki tinggi 9 meter yang dirancang sedemikian rupa dengan kapasitas 40 orang. Bahkan, bangunan itu dibiarkan berlumut agar benar-benar nampak seperti kastil kuno.

Saat cuaca cerah, objek wisata dengan ketinggian 1.350 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini menawarkan pemandangan alam berupa Gunung Merbabu, Merapi, Sindoro, Sumbing, Andong, hingga perbukitan. Jika kabut datang, pengunjung hanya bisa menikmati spot lain seperti kastil dan udara khas pegunungan. “Kalau di kota jarang ada kabut tebal. Itulah yang menjadi daya tarik dari Negeri Kahyangan,” jelasnya yang merangkap sebagai Kepala Dusun Surodadi.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Lantaran tidak memiliki kantong parkir yang layak, lahan pertanian milik warga Desa Surodadi ini lantas diubah menjadi area parkir dan warung-warung. Dengan luas sekutar 1,5 hektare. Supri menyebut, sistemnya dilakukan dengan kontrak per tahun Rp 120 juta. “Tapi, kami pembayaran kepada yang punya lahan per dua tahun jadi Rp 240 juta,” ujarnya.

Dia bersama BUMDes memang berniat untuk memberdayakan warganya. Total ada 19 karyawan yang berasal dusun itu yang ikut mengelola Negeri Kahyangan. Sebelumnya, mereka hanyalah seorang petani sayur. Dengan dibukanya wisata ini, mereka bisa menambah pendapatan lewat berjualan di warung-warung yang telah disediakan BUMDes.

Spot Negeri Kahyangan wisata hits di magelang
Spot Negeri Kahyangan wisata hits di magelang

Satu warung, lanjut dia, dikelola oleh 10 KK untuk ukuran besar dan dua KK ukuran kecil. Bahkan, kebutuhan bahan pokok dari warung itu sudah disediakan oleh desa. Warga hanya melakukan renovasi dan perlengkapan lain yang kurang. Tujuannya agar mereka juga punya rasa memiliki.

Terkait dengan sewa, mereka masih digratiskan. Kecuali jika nantinya mereka benar-benar sudah bisa merasakan manfaatnya, bakal dikenakan retribusi tiap harinya. Yang nantinya digunakan sebagai biaya perawatan warung.

Selain itu, area tersebut juga kerap digunakan pengunjung dengan mendirikan campervan. Harga yang ditawarkan pun terbilang ekonomis, yakni Rp 45 ribu per malam. Ditambah dengan HTM Rp 10 ribu per orang.

Pendapatan yang diperoleh dari HTM itu, kata Supri, disisihkan untuk menggaji 19 karyawan, sewa lahan, dan kompensasi untuk empat dusun yang notabene menjadi akses untuk ke Negeri Kahyangan. Di antaranya Dusun Cadran, Surodasi, Pelem, dan Wonodadi. (*)

About The Author

  • Penulis: BNews 2

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less