Pemkab Sleman Siapkan 35 Barak Pengungsian Merapi

BNews—SLEMAN—Kepala BPPTKG Yogyakarta Hanik Humaida mengungkapkan bahwa belakangan ini aktivitas vulkanik Merapi meningkat. Sementara untuk menaikkan statusnya dari level II atau ‘Waspada’ saat ini mesti berdasarkan data.

Dia menyatakan dalam pengambilan keputusan atas status Gunung Merapi jauh lebih berat karena saat ini masih dalam situasi pandemi Covid-19. Salah satunya, saat evakuasi terhadap warga berpotensi menimbulkan kerumunan.

”Kami harus memikirkan kondisi masyarakat kita. Jadi saat kami harus menaikkan aktivitas atau mengevaluasi kenaikan aktivitas, dengan kondisi sekarang (pandemi), membuat jauh lebih berat,” kata Hanik dalam webinar ‘Mitigasi dan Rencana Kontingensi Merapi di Masa Pandemi’ gelaran BPTTKG, Rabu (4/11). Dikutip dari Gatra.com.  

”Pandemi ini harus menjaga jarak, tidak ada kerumunan. Sekarang ini, pada saat krisis akan ada evakuasi ini, kan akan ada kerumunan. Kami benar-benar harus tepat pada saat mengambil keputusan, kapan evakuasi harus dilakukan,” ucapnya.

Dia menyebut, warga dan BPBD di daerah lingkar Merapi, seperti Sleman, Klaten, Boyolali, dan Magelang, sudah siap jika sewaktu-waktu status Merapi dinaikkan. Barak pengungsian dan jalur evakuasi pun telah siap. 

Download Aplikasi Borobudur News (Klik Disini)

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Makwan, mengatakan, pihaknya tela menyiapkan sekitar 35 barak pengungsian beserta jalur evakuasi saat warga harus mengungsi. Menurutnya, penerapan protokol kesehatan di pengungsian pun telah disiapkan secara matang.

Loading...

”Setiap barak pengungsian kami batasi, yang kapasitasnya 300 orang nanti maksimal 150 orang. Setiap barak juga telah kami tambah wastafel untuk cuci tangan. Jadi protokol kesehatan tetap diterapkan,” ucapnya.

Sebagai informasi, BPPTKG Yogyakarta menaikkan status Gunung Merapi dari status waspada ke siaga. Keputusan itu mulai Kamis (5/11/2020) per pukul 12.00 wib. Berdasarkan surat yang dikeluarkan BPPTKG nomor 523/45/BGV.KG/2020.

BPPTKG juga melakukan pemetaan sektoral terkait prakiraan daerah bahaya meliputi 12 desa yang tersebar di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Provinsi Jawa Tengah.  Wilayah administrasi desa yang masuk di dalam prakiraan daerah bahaya di DIY yaitu Glagaharjo, Kepuharjo dan Umbulharjo yang berada di Kecamatan Cangkringan, Sleman.

Sedangkan di Provinsi Jawa Tengah, tiga kabupaten teridentifikasi memiliki wilayah-wilayah desa yang masuk dalam prakiraan daerah bahaya, yaitu Magelang, Boyolali dan Klaten. Berikut ini wilayah di tingkat desa dan kecamatan yang masuk dalam tiga kabupaten tersebut, Ngargomulyo, Krinjing dan Paten di Dukun, Magelang, Tlogolele, Klakah dan Jrakah di Selo, Boyolali dan Tegal Mulyo, Sidorejo dan Balerante di Kemalang, Klaten. (*/mta)

Kaos Deglang

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: