Keren! Wayang Relief Borobudur Diresmikan Bupati Magelang, Ini Inovasi Budaya yang Bikin Kagum
- calendar_month 7 jam yang lalu

Wayang Relief Borobudur
BNews–MAGELANG– Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, meresmikan Wayang Relief karya Wito Prasetyo yang ditampilkan di Museum Candi Borobudur (MCB), Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Dalam sambutannya, Bupati Grengseng menyampaikan apresiasi dan kebanggaan atas lahirnya inovasi budaya tersebut yang dinilai mampu menghidupkan kembali nilai-nilai peradaban leluhur dalam bentuk karya seni modern.
“Saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya dan rasa bangga yang luar biasa atas dibukanya ruang inovasi budaya melalui peluncuran wayang relief karya Bapak WitoPrasetyo,” katanya di Magelang, Sabtu.
Relief Candi Borobudur Jadi Inspirasi Wayang Relief
Grengseng menjelaskan, Kabupaten Magelang merupakan wilayah yang kaya akan warisan peradaban besar. Relief-relief yang terpahat di dinding candi, khususnya Candi Borobudur, bukan sekadar karya batu, tetapi merupakan kitab visual yang sarat nilai moral, spiritual, dan kehidupan.
Ia menilai, transformasi relief tiga dimensi menjadi bentuk Wayang Relief merupakan lompatan kreativitas yang patut diapresiasi. Terlebih, karya tersebut telah didaftarkan dan memiliki perlindungan Hak Cipta sebagai bentuk kesadaran hukum atas kekayaan intelektual budaya.
“Hari ini, kita menyaksikan sebuah lompatan kreativitas yang luar biasa. Bapak WitoPrasetyo telah berhasil mentransformasikan relief-relief tiga dimensi tersebut menjadi bentuk Wayang Relief yang dinamis. Lebih dari sekadar karya seni, langkah beliau mendaftarkan dan memegang resmi Hak Cipta atas Wayang Relief ini adalah sebuah edukasi besar bagi kita semua,” katanya.
Dorong Perlindungan Kekayaan Budaya Lokal
Menurut Bupati, langkah tersebut menjadi bukti pentingnya perlindungan hukum terhadap aset budaya dan kekayaan intelektual lokal agar tidak hilang atau bahkan diklaim pihak lain.
Ia menegaskan bahwa inovasi ini merupakan contoh sinergi antara pelestarian tradisi dan pengembangan kreativitas modern, sekaligus diperkuat dengan perlindungan hukum.
“Ini adalah bukti kesadaran hukum yang tinggi bahwa aset budaya dan kekayaan intelektual lokal harus dilindungi secara legal agar tidak hilang atau diklaim oleh pihak lain,” katanya.
Pementasan “Sasa Jataka” Jadi Nilai Edukasi
Dalam kesempatan tersebut, turut digelar pementasan oleh Ki Pamedar yang membawakan cerita “Sasa Jataka” (KelinciBijak). Cerita tersebut mengandung nilai pengorbanan, ketulusan, welas asih, dan kebijaksanaan.
Menurut Bupati, kisah Sasa Jataka menjadi refleksi penting di tengah dinamika zaman yang kerap menggerus nilai kemanusiaan.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
“Melengkapi momentum berharga ini, kita juga akan menyaksikan pementasan dari Ki Pamedar yang akan membawakan cerita “Sasa Jataka” (KelinciBijak). Cerita Jataka ini mengajarkan kita tentang hakikat pengorbanan, ketulusan, welasasih, dan kebijaksanaan yang tinggi,” katanya.
Wayang Relief Didorong Jadi Edukasi dan Wisata Budaya
Bupati Grengseng berharap Wayang Relief tidak hanya menjadi acara seremonial, tetapi dapat dimanfaatkan lebih luas sebagai media edukasi; dan daya tarik wisata budaya di Kabupaten Magelang.
Ia juga menginstruksikan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Pariwisata untuk mengenalkan karya tersebut ke masyarakat luas; termasuk melalui sekolah-sekolah dan sektor pariwisata.
“Saya berharap, wayang relief ini tidak berhenti pada acara seremoni saja. Saya menginstruksikan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Pariwisata; agar karya inovatif ini dapat diperkenalkan lebih luas, baik sebagai sarana edukasi di sekolah-sekolah maupun sebagai daya tarik wisata budaya yang khas dari Kabupaten Magelang,” katanya. (*)
About The Author
- Penulis: BNews 2





Saat ini belum ada komentar