Pulang Kampung ke Magelang, Yvone Temukan Rumah Masa Kecilnya Setelah 76 Tahun Pencarian

BNews—MAGELANG— Pada saat Jepang masuk ke Indonesia tahun 1942, banyak warga Belanda ditawan. Mereka beserta keluarga harus meninggalkan rumah mereka untuk menjalani penawanan itu.

Pada saat setelah pengakuan Belanda atas kedaulatan Indonesia pada tahun 1949, banyak warga Belanda yang kemudian memilih angkat kaki dan pulang ke negara asalnya. Hal itu pula yang harus dialami Yvone Sonja ten Hoor-Heintz.

Dilansir dari kanal YouTube Bagus Priyana Magelang, Selasa (19/10), Yvone terlahir dari Ayahnya yang merupakan keturunan Belanda dan Ibunya yang merupakan orang Jawa. Pada tahun 1949, usia Yvone masih 14 tahun.

Ia punya dua adik yang masing-masing berusia sebelas dan sembilan tahun. Namun pada tahun itu, Yvone mengikuti ayahnya kembali ke Belanda, meninggalkan kampung halamannya di Magelang beserta Ibu dan kedua adiknya.

Setelah sekian lama berpisah, pada tahun 1988 Yvone dapat bertemu kembali dengan adik-adiknya di Magelang. Setelah itu, ia sempat mengunjungi kota kelahirannya sebanyak tujuh kali.

Namun tak pernah sama sekali ia menelusuri rumah masa kecil bule Belanda ini di Magelang. Baru pada tahun 2018, dengan bantuan Bagus Priyana dari komunitas Kota Toea Magelang ia melacak rumah masa kecilnya yang telah ia tinggalkan 76 tahun lamanya.

Saat menyusuri Jalan Merpati yang diduga menjadi lokasi rumah masa kecilnya, Yvone melihat sudah banyak perubahan. Ia mengatakan, dulunya jalan sempit itu bernama Gang Botton Nambangan. Tapi saat berjalan kaki menyusuri tempat itu, ia sudah tak mampu mengingat lagi di mana rumah yang pernah ia tinggali 76 tahun silam.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DI SINI)

Bagus Priyana kemudian mengajaknya ke rumah Tante Mary (86 tahun) yang berada di ujung jalan itu. Pada Tante Mary, Yvone menceritakan kisahnya saat masih tinggal di kawasan itu pada tahun 1935-1942.

Mendengar cerita Yvone, Tante Mary mengatakan bahwa orang-orang yang tinggal di sekitar situ kebanyakan berasal dari Indonesia Timur, khususnya daerah Flores dan Timor. Tante Mary pun tidak kenal dengan oma Cristhine Heintz yang merupakan oma-nya Yvone. Karena merasa jawabannya tak memuaskan, Tante Mary meminta Yvone berkunjung ke rumah Oma Martha yang berada di Botton Tengah

Rumah Oma Martha sebenarnya tak jauh dari rumah Tante Mary. Sekitar sepuluh menit berjalan kaki. Hujan gerimis mengiringi perjalanannya hari itu.

Bagi Yvone, perjalanan itu menjadi semacam nostalgia. Dalam perjalanan itu, ia melihat Kali Bening, lokasi ia bermain saat masa kecilnya dulu. Lalu ada pula saluran air selebar lima meter yang dulunya juga menjadi tempat Yvone bermain. Setelah melewati gang sempit, sampailah ia di rumah Oma Martha.

Saat bertemu Oma Martha, Yvone terkejut mengetahui perempuan baya itu ternyata masih sanggup berbahasa Belanda. Walau usianya telah 89 tahun, ia tampak bugar dan ingatannya masih terjaga dengan baik. Yvone menceritakan kisah masa kecilnya di Botton Nambangan pada Oma Martha.

Oma Martha membenarkan bahwa dulu banyak tinggal warga keturunan Belanda atau orang Indo di gang sebelah barat rumahnya. Bahkan saat Yvone menyebut nama-nama tetangganya dulu, Oma Martha masih mengingatnya dengan baik.

Setelah hujan mulai reda, Yvone pamit dan bergegas menuju rumah yang ditunjukkan oleh Oma Martha. Di tengah gerimis, ia berjalan begitu cepat melintasi sebuah gang beraspal selebar 1,5 meter. Saking cepatnya, Yvone sampai melewatkan rumah bercat putih yang selama ini ia cari.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DI SINI)

Rumah itu bergaya tradisional dengan dinding tembok menghadap ke selatan. Rumah itu tertutup rapat karena penghuninya tidak ada di rumah. Di depan rumah itu, Yvone terdiam cukup lama. Saat itu pula ia teringat kembali tentang kenangan masa kecilnya saat masih tinggal di rumah itu.

Sewaktu ia kecil, oma Yvone mengasuhnya di rumah itu. Ia menyewa rumah itu dari seorang wanita bernama Groen.

Tak hanya Yvone dan omanya, di rumah itu tinggal pula keluarga Leifheit dan Wals. Masing-masing keluarga itu punya anak kecil yang sepantaran dengan Yvone.

Hari-hari masa kecil ia habiskan dengan bermain bersama mereka. Selain itu, ada Lien anak dari Groen, serta anak-anak dari keluarga Portier, Boshard dan Huwaij.

Tak cukup lama menatap rumah masa kecilnya, Yvone harus mengakhiri perjalanan nostalgianya. Sepanjang perjalanan pulang, ia masih bisa mengenal beberapa rumah tetangganya yang masih terjaga keasliannya.

Hari beranjak sore. Namun gerimis tipis masih mengiringi perjalanan pulang Yvone seolah mengerti perasaannya. (ifa/han)

Sumber: Merdeka

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: