RRB: Borobudur Kehilangan Esensi Spiritual Akibat Komersialisasi Pariwisata
- calendar_month Sab, 22 Nov 2025

Lomba Cipta Karya Camel Magelang digelar di Café Layar Sarero dan menghadirkan tujuh finalis terbaik. Intan keluar sebagai juara 1
BNEWS—NASIONAL— Yayasan Ruwat Rawat Borobudur bersama Pusat Riset Masyarakat dan Budaya Badan Riset dan Inovasi Nasional (PRMB-BRIN); menggelar diskusi seri ke-95 bertema Exploring the cultural and spiritual dimension through Ruwat Rawat Borobudur for national identity atau Menjelajahi dimensi budaya dan spiritual melalui Ruwat Rawat Borobudur untuk identitas nasional.
Diskusi yang berlangsung di Jakarta pada Senin (17/11/2025) itu membahas revitalisasi Candi Borobudur melalui pendekatan budaya dan spiritualitas.
Budayawan Yayasan Ruwat Rawat Borobudur, Sucoro Setrodiharjo, menyebut kegiatan tersebut digelar untuk mengkaji praktik budaya “Ruwat Rawat Borobudur (RRB)” yang telah berlangsung sejak 2003.
Menurutnya, diskusi ini menjadi respon atas krisis spiritualitas yang muncul di tengah komersialisasi pariwisata Candi Borobudur.
Ia menilai ego sektoral antar pemangku kepentingan dengan kepentingan berbeda-beda menjadi tantangan besar hingga masyarakat sering menjadi korban.
Lebih lanjut, Sucoro memaparkan bahwa pengembangan pariwisata Borobudur selama ini menuai banyak kritik.
“Karena dinilai lebih berfokus pada aspek komersial tentu mengancam esensi monumen yang dibangun untuk tujuan spiritual leluhur,” kata Sucoro ditemui Sabtu (22/11).
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Diskusi itu menghadirkan pembicara inti Novita Siswayanti (BRIN), dengan narasumber Prof Dundin Zaenuddin, Prof Dwi Purwoko, Sucoro Setrodiharjo, dan moderator Dr Budiana Setiawan.
Sejumlah undangan juga hadir, seperti Kepala PRMB BRIN Aulia Hadi, Ir Firman Napitupulu dari PUPR, Direktur Taman Wisata Borobudur Mardiyanto Nugroho, serta peneliti senior BRIN Dedi Adhuri PhD.
Sucoro menambahkan bahwa dalam diskusi itu juga disinggung ironi pengelolaan kawasan Borobudur, terutama ancaman kerusakan akibat kunjungan wisata berlebihan.
Selama ini, menurutnya, TWC lebih memprioritaskan pemanfaatan pariwisata demi kesejahteraan ekonomi namun mengabaikan fungsi utama Borobudur sebagai warisan budaya yang sarat nilai spiritual universal.
Ia menilai ketidakseimbangan pengelolaan tersebut selama ini hanya diselesaikan lewat kompromi politik terbatas, sementara dampaknya terus berkembang dan menyentuh aspek kemanusiaan.
“Kondisi itu terjadi setelah dipercayakan kepada PT Taman Wisata Candi Borobudur dan Prambanan (TWC) sejak 1980,” ungkapnya.
Sucoro mengaku diskusi bersama BRIN itu menjadi kilas balik perjalanan hidupnya, karena ia telah mendokumentasikan berbagai peristiwa sejak proses perubahan fungsi Borobudur pada 1980. Melalui Yayasan RRB, ia menggerakkan budaya selama lebih dari 24 tahun.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Ia menjelaskan bahwa gerakan budaya rakyat Ruwat Rawat Borobudur mengusung konsep Kiblat Papat Lima Pancer sebagai model penyeimbang pengelolaan komersial.
Filosofi kosmologi Jawa tersebut menekankan empat arah mata angin sebagai dimensi duniawi dan satu pusat (pancer); yang melambangkan pencerahan serta orientasi pada nilai transendental.
Sucoro menegaskan Yayasan RRB berupaya melakukan rekonstruksi nilai dan terus mengingatkan pengelola Borobudur; terkait pentingnya keseimbangan antara pelestarian, perlindungan, dan pemanfaatan.
Diskusi itu juga menyimpulkan bahwa kegiatan budaya RRB dinilai berhasil sebagai revolusi konservasi non-formal. Gerakan tersebut mampu menjembatani dikotomi spiritualitas dan ekonomi serta memosisikan Borobudur sebagai pusaka leluhur.
“RRB juga dinilai sukses menguatkan rasa kepemilikan, melalui wadah pertemuan lintas keyakinan,” ungkap; salah satu pembicara dari BRIN Novita Siswayanti dalam pesan singkatnya.
Ia menambahkan, RRB menawarkan model alternatif keterlibatan masyarakat sipil (civil society engagement) dan membuktikan bahwa integritas Borobudur; hanya dapat dijaga melalui sinergi holistik antara manajemen korporat BUMN dan konservasi nilai spiritual-budaya.
“Studi etnografi BRIN menemukan bahwa peran saya dan Ruwat Rawat Borobudur merupakan fenomena gerakan moral penguatan spiritualitas yang vital dan sukses menjadi revolusi konservasi non-formal; yang efektif,” katanya. (bsn)
About The Author
- Penulis: BNews 2


Saat ini belum ada komentar