Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Makna dan Arti Tradisi Saparan, Warisan Budaya Jawa yang Sarat Nilai Kebersamaan

Makna dan Arti Tradisi Saparan, Warisan Budaya Jawa yang Sarat Nilai Kebersamaan

  • calendar_month 1 jam yang lalu

BNews-MAGELANG — Bulan Sapar dalam penanggalan Jawa memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan sebagian masyarakat Jawa. Pada bulan ini, berbagai daerah menggelar tradisi yang dikenal dengan sebutan Saparan.

Tradisi tersebut dapat hadir dalam berbagai bentuk. Ada yang dilaksanakan sebagai selamatan atau syukuran desa, kirab budaya, pembagian apem, ziarah, doa bersama, hingga pertunjukan kesenian tradisional.

Meski bentuknya berbeda-beda, tradisi Saparan umumnya memiliki satu benang merah, yakni menjadi ruang bagi masyarakat untuk bersyukur, mempererat silaturahmi, menjaga kebersamaan, dan melestarikan warisan budaya leluhur.

Lantas, apa sebenarnya makna dan arti tradisi Saparan?

Apa Arti Saparan?

Secara sederhana, istilah Saparan berkaitan dengan kata Sapar, yaitu nama bulan kedua dalam sistem penanggalan Jawa.

Dalam kajian tentang tradisi Saparan di Tegalrejo, Salatiga, Saparan dijelaskan berasal dari kata “Sapar” dan dilaksanakan pada bulan Sapar. Tradisi tersebut juga memiliki keterkaitan erat dengan merti desa, sehingga dalam konteks tertentu Saparan dimaknai sebagai bagian dari upaya “memelihara desa” atau menjaga kehidupan bersama masyarakat.

Namun, penting dipahami bahwa Saparan bukanlah satu tradisi yang memiliki bentuk seragam di seluruh Jawa.

Setiap daerah dapat memiliki sejarah, tata cara, simbol, dan makna yang berbeda. Karena itu, Saparan di satu wilayah belum tentu sama dengan Saparan di daerah lainnya.

Saparan dan Tradisi Merti Desa

Di sejumlah daerah, Saparan erat kaitannya dengan tradisi merti desa atau bersih desa.

Merti desa pada hakikatnya merupakan kegiatan yang menjadi simbol rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas berbagai karunia yang diterima, seperti rezeki, keselamatan, ketenteraman, dan keselarasan kehidupan.

Badan Pelestarian Kebudayaan yang berada di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga menjelaskan bahwa merti desa menjadi ruang bagi masyarakat untuk mempererat tali silaturahmi, saling menghormati, dan membangun sikap tepa selira. Tradisi ini sekaligus menjadi bentuk kebersamaan serta kearifan lokal masyarakat.

Karena itu, dalam tradisi Saparan yang berhubungan dengan merti desa, maknanya tidak hanya terletak pada ritual yang dilakukan.

Ada pesan yang lebih luas tentang bagaimana masyarakat menjaga hubungan baik antarsesama dan membangun kehidupan desa secara bersama-sama.

Makna Tradisi Saparan sebagai Ungkapan Syukur

Salah satu makna utama yang dapat ditemukan dalam tradisi Saparan adalah ungkapan rasa syukur.

Masyarakat berkumpul, berdoa, dan mengadakan selamatan sebagai bentuk rasa terima kasih atas keselamatan, kesehatan, rezeki, serta keberlangsungan kehidupan masyarakat.

Dalam penelitian mengenai tradisi Saparan di Desa Ditotrunan, Lumajang, Saparan dijelaskan sebagai bentuk slametan atau syukuran desa dengan harapan masyarakat memperoleh keberkahan, kebahagiaan, dan limpahan rezeki.

Makna tersebut menunjukkan bahwa tradisi Saparan tidak sekadar kegiatan seremonial. Di dalamnya terdapat harapan masyarakat agar kehidupan bersama tetap berjalan dalam keadaan aman, tenteram, dan penuh keberkahan.

Makna Saparan sebagai Sarana Mempererat Persaudaraan

Tradisi Saparan juga memiliki fungsi sosial yang sangat kuat.

Ketika sebuah tradisi dilaksanakan, masyarakat dari berbagai latar belakang berkumpul dalam satu kegiatan. Mereka bekerja sama mempersiapkan acara, membersihkan lingkungan, menyiapkan makanan, menggelar doa bersama, hingga mengikuti rangkaian kegiatan budaya.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

Dalam tradisi Saparan Sebaran Apem Keong Emas di Pengging, Boyolali, misalnya, pemerintah menetapkan tradisi tersebut sebagai warisan budaya takbenda. Salah satu fungsi sosial budayanya adalah merekatkan warga, membangun gotong royong, serta memperkuat persatuan dan kesatuan.

Nilai inilah yang membuat tradisi Saparan tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis, tradisi semacam ini menjadi ruang perjumpaan masyarakat.

Saparan sebagai Bentuk Gotong Royong

Makna lain yang tidak kalah penting adalah gotong royong.

Sebuah tradisi desa tidak mungkin berjalan tanpa keterlibatan masyarakat. Ada warga yang menyiapkan tempat, memasak makanan, mengatur acara, membersihkan lingkungan, hingga menjadi bagian dari prosesi budaya.

Dengan demikian, Saparan menjadi sarana untuk menghidupkan kembali semangat kerja bersama.

Nilai gotong royong tersebut juga tercermin dalam tradisi Saparan Sebaran Apem Keong Emas di Pengging. Pemerintah mencatat bahwa tradisi tersebut memiliki fungsi sosial untuk merekatkan masyarakat dan memperkuat kebersamaan.

Mengapa Ada Apem dalam Tradisi Saparan?

Salah satu hal yang sering muncul dalam tradisi Saparan di sejumlah daerah adalah kue apem.

Namun, penggunaan apem tidak selalu memiliki makna yang sama di setiap tempat.

Dalam Saparan Wonolelo di Kabupaten Sleman, misalnya, rangkaian tradisi mencakup kirab pusaka, bregodo atau prajurit Jawa, ziarah, kegiatan bernuansa keagamaan, serta sedekah yang diwujudkan melalui pembagian kue apem. Tradisi tersebut telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2018.

Sementara itu, di Pengging, Boyolali, terdapat tradisi Sebaran Apem Kukus Keong Mas yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Sapar. Sebelum apem disebarkan, rangkaian kegiatan diawali dengan tirakatan, tahlil, dan doa.

Hal ini menunjukkan bahwa apem dalam tradisi Saparan dapat menjadi bagian dari simbol sedekah, kebersamaan, dan ungkapan syukur. Makna spesifiknya tetap perlu dilihat berdasarkan sejarah dan tradisi masing-masing daerah.

Saparan sebagai Bentuk Pelestarian Budaya

Di tengah perkembangan zaman, tradisi Saparan juga memiliki peran sebagai media untuk mempertahankan identitas budaya masyarakat.

Tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi membuat masyarakat memiliki kesempatan untuk mengenalkan kembali sejarah dan kebudayaan lokal kepada generasi muda.

Salah satu contohnya adalah Saparan di Tegalrejo, Salatiga. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Jantra mencatat bahwa tradisi tersebut menjadi bagian dari rangkaian merti desa dan tetap mempertahankan kesenian tayuban sebagai salah satu puncak kegiatan. Tradisi tersebut diwariskan secara turun-temurun dan terus dijaga oleh masyarakat setempat.

Dengan demikian, Saparan tidak hanya menjadi kegiatan tahunan, tetapi juga menjadi ruang untuk menjaga kesinambungan kebudayaan lokal.

Saparan dan Akulturasi Budaya

Dalam sejarah perkembangan masyarakat Jawa, tradisi lokal sering mengalami perjumpaan dengan berbagai pengaruh budaya dan agama.

Hal tersebut juga terlihat dalam sejumlah tradisi merti desa dan Saparan.

Penelitian mengenai akulturasi tradisi merti dusun di Dusun Doplang menunjukkan bahwa tradisi tersebut telah ada sebelum masuknya Islam, kemudian mengalami proses akulturasi dengan budaya Islam. Tradisi tersebut tetap dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil alam dan kesejahteraan yang diterima masyarakat, sekaligus mengandung nilai moral, sosial, dan spiritual.

Karena itu, Saparan di berbagai wilayah dapat memiliki unsur yang berbeda-beda. Ada daerah yang menonjolkan doa dan selamatan, ada yang menggelar kirab pusaka, ada yang membagikan apem, dan ada pula yang menghadirkan kesenian tradisional.

Perbedaan tersebut justru menjadi bagian dari kekayaan budaya Jawa.

Apakah Saparan di Semua Daerah Sama?

Jawabannya, tidak.

Saparan merupakan istilah yang digunakan untuk berbagai tradisi yang dilaksanakan pada bulan Sapar, tetapi bentuk dan sejarahnya sangat beragam.

Di Wonolelo, misalnya, Saparan dikaitkan dengan Ki Ageng Wonolelo dan rangkaian kirab pusaka serta pembagian apem. Di Pengging, Boyolali, ada tradisi sebaran apem Keong Mas. Sementara di Tegalrejo, Salatiga, Saparan menjadi bagian dari rangkaian merti desa yang diwarnai pertunjukan tayuban.

Oleh sebab itu, tidak tepat jika seluruh tradisi Saparan dianggap memiliki ritual dan makna yang persis sama.

Setiap daerah memiliki konteks sejarah dan kearifan lokalnya sendiri.

Makna Saparan bagi Masyarakat Jawa Saat Ini

Di era modern, tradisi Saparan menghadapi tantangan. Perubahan gaya hidup dan perkembangan teknologi membuat sebagian generasi muda semakin jauh dari tradisi lokal.

Namun, Saparan tetap memiliki nilai yang relevan.

Tradisi ini mengajarkan pentingnya:

  • Bersyukur atas kehidupan dan rezeki yang diterima.
  • Gotong royong dalam menyelesaikan pekerjaan bersama.
  • Silaturahmi dan menjaga hubungan sosial.
  • Menghormati leluhur serta sejarah masyarakat.
  • Melestarikan kebudayaan lokal agar tidak hilang.
  • Menjaga keharmonisan antara manusia, lingkungan, dan masyarakat.
  • Mewariskan nilai budaya kepada generasi berikutnya.

Di tengah kehidupan yang semakin modern, nilai-nilai tersebut tetap penting.

Saparan Bukan Sekadar Tradisi Tahunan

Pada akhirnya, tradisi Saparan dapat dipahami sebagai cermin kehidupan masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi kebersamaan.

Di balik kirab, selamatan, apem, doa bersama, hingga pertunjukan kesenian, terdapat pesan tentang rasa syukur dan pentingnya menjaga hubungan antarmanusia.

Saparan juga menjadi bukti bahwa kebudayaan tidak selalu hadir dalam bentuk benda. Ia hidup dalam ingatan, kebiasaan, ritual, gotong royong, dan hubungan sosial masyarakat.

Karena itu, ketika masyarakat kembali berkumpul pada bulan Sapar, yang dirayakan sesungguhnya bukan hanya sebuah tradisi.

Ada rasa syukur yang diwariskan, kebersamaan yang dirawat, serta identitas budaya yang terus dijaga.

Dan mungkin, di situlah makna terdalam Saparan: mengajarkan masyarakat untuk tidak melupakan akar budayanya, sekaligus terus menjaga kehidupan bersama agar tetap rukun dan harmonis.

Sumber Referensi “

  • Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya / Data Warisan Budaya Takbenda Indonesia, Saparan Wonolelo, SK Penetapan No. 264/M/2018.
  • Warisan Budaya Kemendikbud, Sebaran Apem Kukus Keong Mas, SK Penetapan No. 1044/P/2020.
  • Jantra: Jurnal Sejarah dan Budaya, Fandy Aprianto Rohman, Tayuban dalam Tradisi Saparan di Kelurahan Tegalrejo, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga.
  • Jurnal Kajian Islam dan Budaya, Tutuk Ningsih, Tradisi Saparan dalam Budaya Masyarakat Jawa di Lumajang.
  • BPSMP Sangiran, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Upacara Tradisional: Bersih Desa.
  • Sabda: Jurnal Kajian Kebudayaan, Universitas Diponegoro, kajian Akulturasi Tradisi Merti Dusun terhadap Nilai Hukum Positif, Islam dan Adat.

About The Author

  • Penulis: BNews 2

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less