Sejarah Panjang Bedol Dusun di Merapi Menuju Ngablak Akibat Erupsi

BNews–NGABLAK– Sebuah dusun di lereng Merbabu ini memilik sejarah panjang yang berhubungan dengan Gunung Merapi. Dimana warganya berasal dari lereng merapi yang dipindahkan karena bencana alam erupsi.

Dusun tersebut bernama Merapi Sari yang berada di Desa Ngablak Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang. Mereka sudah tinggal di dusun baru tersebut itu selama 66 tahun.

Kisah itu bermula dari keganasan erupsi gunung Merapi pada tahun 1954 yang menciptakan peristiwa bersejarah. Sejarah yang tidak pernah akan terlupakan, khususnya warga lereng barat merapi.

Seperti yang dikutip tulisan Albertus Barsito, di laman merapisari.wordpress.com. Pada waktu itu gunung Merapi meletus dengan dahsyatnya. Masyarakat sisi barat Merapi dalam bahaya karena dampak erupsi merapi sangat mengerikan.

Oleh karenanya, mereka diupayakan untuk berpindah ke tempat yang bebas dari bahaya letusan Gunung Merapi. Saat itu daerah yang dinyatakan bahaya adalah Desa Keningar Dukun dan Wonolelo Sawangan. Keningar merupakan bahaya Merapi dari sungai Senowo. Wonolelo merupakan bahaya Merapi dari sungai Apu/Pabelan.

Demi keamaan, saat itu pihak pemerintah menganjurkan supaya kedua daerah itu berpindah ke tempat yang lebih aman.Saat itu warga diberikan dua pilihan tempat yang aman untuk Bedol Desa.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Pilihan pertama ada id wilayah Kecamatan Ngablak dan kedua di daerah Kabupaten Wonosobo. Kedua tempat itu masih satu wilayah Karesidenan Kedu.

Suasana Kampung Merapisari Ngablak di lereng Merababu (Foto: istimewa)
Suasana Kampung Merapisari Ngablak di lereng Merababu (Foto: istimewa)

Tahun 1954 tersebut warga diminta menentukan lokasi yang akan dipilih. Maka dilakukanlah survei kedua lokasi tersebut. Salah seorang yang mengadakan survei adalah seorang bernama Atmodimejo yang kini sudah almarhum.

Saat itu hasil survei, kedua daerah itu merupakan area kebun teh dan tanah subur. Survei untuk daerah Ngablak diadakan dua kali. Berdasarkan hasil survei itu juga, daerah Ngablak lebih subur dibandingkan Wonosobo. Akhirnya diputuskan bersama bahwa daerah Ngablak merupakan tempat pilihannya.

Selama diadakan survei, warga Keningar sudah mengungsi di daerah Ngentak yang jaraknya kurang lebih dua kilo meter sebelah barat Keningar. Selama ada dalam pengungsian, diadakan pendataan.

Dari pendataan dapat diketahui jumlah jiwa warga Keningar yang akan berpindah ke Ngablak. Dari warga Keningar hanya sebagian kecil yang mau berpindah. Mereka yang tidak mau pindah kembali ke tempat asalnya.

Karena pendaftar hanya sedikit, maka ditambah dari daerah bahaya Merapi lainnya yaitu Wonolelo dan sekitarnya, termasuk Paten, Suko dan Wonolelo sendiri. Tepatnya, kedua kelompok ini berasal dari dua kecamatan yaitu kecamatan Dukun dan Kecamatan Sawangan.

Dari pendataan ini akhirnya terbentuklah kelompok Keningar dan Kelompok Wonolelo. Masing-masing kelompok dipimpin oleh seorang ketua kelompok. Kelompok Keningar dipimpim Atmodimejo. Kelompok Wonolelo dipimpin Kartosemito.

Saat itu masing-masing ketua kelompok ditentukan oleh pemerintah dengan kesepakatan warga. Setelah ada kesepakatan kedua kelompok itu berangkat ke Muntilan. Untuk sementara waktu, mereka tinggal di Muntilan, tempatnya di gedung Kawedanan.

Setelah kedua kelompok itu berkumpul di Kawedanan, mereka menjadi satu kelompok yang berjumlah 54 KK dengan total 215 jiwa. Mereka mulai menentukan ketua kelompoknya. Yang menjadi ketua keompok besar ini adalah Atmodimejo.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Saat itu di Muntilan, tepatnya di Kawedanan, mereka mendapat beberapa pengarahan dari pihak pemerintah. Selain diberi pengarahan, mereka juga diberi bekaluntuk modal tinggal dilokasi yang baru di wilayah Kecamatan Ngablak.

Saat itu warga diberi bekal berupa alat-alat pertanian, alat-alat rumah tangga dan beberapa potong pakaian. Alat-alat pertanian itu antara lain cangkul, bendho, sabit, sedangkan alat-alat rumah tangga meliputi ceret, ketel, cangkir dan piring. Beberapa potong pakaian itu terdiri dari selimut dan pakaian pantas pakai.

Untuk memantapkan hati, mereka diberi janji tentang hal-hal yang akan diperoleh di tempat tujuan nanti. Janji-janji itu juga diberikan untuk memberikan gambaran tentang hal-hal yang akan terjadi di daerah yang baru nanti.

Janji itu antara lain setiap Kepala Keluarga akan mendapat sebidang tanah pertanian seluas 0,5 hektare. Selain tanah pertanian, setiap Kepala Keluarga akan memperoleh tanah pekarangan seluas 300 meter persegi.

Dimana di tengah-tengah tanah pekarangan berdiri sebuah rumah dengan ukuran 5 x 6 meter. Rumah itu terdiri dari beberapa ruangan, yaitu ruang dapur, ruang pendopo dan kamar tidur. Rumah itu beratap genting, berdinding bambu. Tiang-tiangnya terbuat dari kayu damar. Itulah beberapa janji yang disampaikan pihak pemerintah kepada para calon transmigran lokal.

Waktu yang ditunggu telah tiba dimana masyarakat tersebut diberangkatkan dari Kantor Kawedanan menuju wilayah Ngablak. Saat itu pemberangkatan dilaksanakan dalam tiga tahap, hingga memakan waktu empat bulan, yaitu mulai bulan April sampai dengan bulan Agustus 1954. Pemberangkatan ini dilakukan secara bertahap karena daerah yang akan ditempati belum siap pakai.

Kala itu kelompok pertama berangkat tanggal 16 April 1954. Kelompok pertama ini terdiri dari 16 Kepala Keluarga.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Beberapa minggu kemudian, kelompok kedua berangkat, tepatnya pada tanggal 1 Mei 1954, disusul kelompok ketiga juga berangkat. Pada bulan Agustus 1954, semua kelompok sudah tiba di tempat yang baru.

Dengan keberangkatan ketiga kelompok itu, maka transmigran lokal berjumlah 54 Kepala Keluarga. Jumlah jiwa ada 215 orang. Dalam proses perpindahan itu mereka menggunakan sarana transportasi berupa bus.

BUS yang dipakai pada waktu itu adalah BUS “ADAM”. Selama proses perpindahan ini, ketua kelompok hilir mudik antara Ngablak – Muntilan untuk memantau anak buahnya.

Dan akhirnya Jumat Kliwon, tanggal 16 April 1954, jam 14.00 WIB, kelompok pertama sampai di tempat yang baru. Karena mereka berasal dari lereng gunung Merapi, maka dusun yang baru itu diberi nama “M E R A P I S A R I”.

Nama itu diberikan oleh pemerintah dengan persetujuan warga. Karena tanggal 16 April itu merupakan hari “jadi dusun” Merapisari, maka setiap tanggal tersebut diadakan pesta Ulang Tahun untuk memperingati hari lahirnya dusun Merapisari. Perayaan pesta ulang tahun ini untuk pertama kalinya diadakan pada tahun 1968. (*/bsn)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: