Korupsi Dana Desa Kades di Secang Dituntut Penjara 5 tahun Enam Bulan

BNews—SEMARANG— Korupsi dana desa Donomulyo Kecamatan Secang Kabupaten Magelang telah memasuki tahap penuntutan di Pengadilan Tipikor Semarang. Terdakwa kepala desa perioede 2014-2018 Anwari divonis hukuman lima tahun penjara.

Selain itu, Jaksa Penuntut Umum dari Kejari Kabupaten Magelang juga menjatuhkan denda Rp 200 juta. Jika tidak mampu membayar denda diganti kurungan 4 bulan.

Dalam amarnya, jaksa penuntut umum menilai terbukti bersalah melakukan korupsi. Ada beberapa hal yang diselewengkan mulai dari dana desa, bantuan keuangan khusus, hingga bantuan gubernur.

Selain menuntut pidana penjara dan denda, jaksa juga menuntut terdakwa untuk membayar uang pengganti sesuai dengan kerugian negara yang timbul akibat perbuatannya.

“Menjatuhkan pidana tambahan, membayar uang pengganti sebesar Rp 419.116.652 subsider 3 tahun kurungan,” ucap jaksa Oki Bogitama di hadapan majelis hakim Tipikor Semarang.

Selanjutnya jaksa menuntut agar seluruh masa penahanan yang telah dijalani terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan. Rentetan kasus yang menjerat terdakwa Anwari, pertama soal korupsi dana desa. Pada tahun 2017-2018 lalu, Desa Donomulyo membangun gedung yang anggarannya dialokasikan dari Dana Desa.

Pencairan dana pembangunan dilakukan dalam 3 tahap. Tahap pertama di tahun 2017, terdakwa mengambil Rp 208,7 juta. Kemudian tahap kedua di tahun yang sama mengambil Rp 196,2 juta. Serta tahap ketiga pada 2018 ambil Rp 140 juta. Sehingga totalnya mencapai Rp 405 juta.

Seharusnya dengan dana sejumlah itu pembangunan sudah selesai, tetapi kenyataannya belum. Hingga akhirnya masyarakat setempat ada yang melaporkan ke Bupati Magelang melalui Camat Secang.

Selain korupsi uang pembangunan gedung, terdakwa juga disebut menyelewengkan Bantuan Keuangan Khusus (BKK) dari Bupati dan dewan. BKK sedianya diperuntukkan bagi pembangunan jalan usaha tani, totalnya mencapai Rp 100 juta, terdiri dari bantuan Bupati Rp 50 juta dan dewan Rp 50 juta.

Tak hanya itu, terdakwa juga diduga menyelewengkan bantuan Gubernur Jateng untuk pembangunan pipa air bersih. Bantuan tersebut dalam bentuk hibah. Total bantuan mencapai Rp 30 juta.

Uang tersebut sudah dibelanjakan untuk membeli pipa paralon. Namun, saat akan digunakan untuk membangun, ternyata materialnya tidak ada. (jar/wan)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: