Separoh Mukanya Tertutup Tumor Siswa Ini Pingin Sembuh

BNews-KAJORAN— Achmad Romadhon, tak akan perah lupa peristiwa empat tahun silam. Dia begitu marah. Emosinya meninggi. (Tumor)

 

Suatu siang saat sekolah dia dibully temannya. Kalimat yang keluar begitu menyakitkan hatinya. Karena kekurangannya dihina.

Pelajar berusia 16 tahun itu awalnya seketika naik darah. Dia emosi dan hendak memukul rekannya itu. ”Saya diejek dan saya ajak dia berkelahi,” kenangnya kepada borobudurnews.com, di sekolahnya MTS Syalafiah Desa/Kecamatan Kajoran, siang tadi.

Romadhon memang berbeda dengan yang lainnya. Terutama secara fisik. Terlebih saat tumor di wajahnya terus membesar.

Kini separoh wajahnya tak terlihat. Tumor yang melekat ditubuhnya terus tumbuh. Semakin besar dan menggelantung di wajah.

Dia begitu sedih. Dalam hatinya dia sering berkata kenapa penyakit ini menimpanya. Dia sendiri tak pernah tau dan tak pernah ingin.

Tumor ini menggelantung hampir menutupi separo wajahnya sebelah kanan hingga menutup matanya. Anak kelima dari pasangan Suparman dan Umi warga Dusun Pucungsari Desa Kajoran Kecamatan Kajoran ini belum bisa mengobati penyakitnya itu. Tentu karena biaya.

Romadhon bercerita awal mula penyakitnya itu. Katanya, itu mulai tumbuh ketika dia berusia satu bulan. Aawalnya benjolan kecil. Dikira orang tuanya bentol di bagian atas mata kananya karena tergigit nyamuk. Namun bentolan tersebut tidak sembuh-sembuh palah semakin membesar dan hingga menggelantung hampir separo wajahnya.

Saat dia kelas dua SD peyakitnya itu diketahui. Saat itu dia sedang menjalani perawatan karena tertabrak sepeda motor dan mengalami luka di bagian muka.

“Dulu saat luka sobek dokter sempat memeriksa ini dan di katakan sebuah tumor jinak, sempat juga ditawarkan untuk mengoperasi tumor ini namun orang tua belum setuju karena tidak memiliki biaya untuk operasi,” ungkap Achmad saat diketemui di Sekolahannya.

“Kadang kadang tumor ini terasa gatal dan nyeri kalau saat badan saya demam, dan kalau tersenggol terasa gatal,” imbuhnya.

Romadhon ingin sembuh. “Ya kalau harapan pingin sembuh bisa seperti teman-teman yang lain,” tuturnya lirih.

Tapi apa dikata, meski memiliki BPJS tak semua biaya bisa tercover. Orang tuanya yang hanya buruh tani hanya bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Hidupnya begitu nelangsa. Tapi dia punya mimpi untuk sembuh. Entah atas bantuan atau pertolongan siapa dia tak tahu.

Kepala Sekola Salfiyah Ibnu Malig menambahkan bahwa banyak upaya pernah dilakukan untuk anak ini namun hasilnya nihil.”Saya berharap ada pihak yang melihat situasi ini dan berkenan membantunya,” katanya. (bsn)

 

Baca Juga Klik :

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: