Situs Bersejarah Di Grabag ini Dipercaya Jika Dipindah Desa Akan Jadi Rawa

BNews–MAGELANG– Di sebuah wilayah di Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang terdapat sebuah situ bersejarah yang masih tetap terjaga. Dan ternyata banyak masyarakat yang percaya terhadap mitos yang menanungi situs tersebut.

Situs tersebut berupa Yoni dan Lingga yang dkenal oleh masyarakat bernama Watu Lumpang Sekenteng. Lokasinya berada di Dusun Teneran, Desa Pucangsari, Grabag, Kabupaten Magelang.

Dilangsir dari Suara.com, meski belum bisa terungkap dengan pasti, perihal sejarah keberadaan Yoni dan Lingga yang ada di desa itu; namun kesakralan benda tersebut masih dijaga oleh warga setempat. Bahkan mitos yang ada adalah, desa akan tenggelam jika benda itu dipindahkan.

Memelihara mitos Watu Sekenteng diwujudkan melalui sendratari berjudul “Sirnane Angkara Murka”. Pertunjukan tari ini menceritakan apa yang akan terjadi pada desa jika Watu Sekenteng dicuri.

Ketua Panitia Festival Kolaborasa “Menapak Jejak Tradisi di Tanah Teneran”, Deni Anwar mengungkapkan; diangkatnya kembali kesakralan mitos Watu Lumpang Sekenteng dalam bentuk festival adalah untuk menjaga keberadaannya.

“Ceritanya kami angkat mitos itu agar kesakralan dari mitos itu tetap terjaga. Sehingga masyarakat takut untuk mencuri batuan atau peninggalan sejarah itu,” ungkap Deni. Dikutip suara.

Masih menurut Deni, sebelumnya perhatian masyarakat Dusun Teneran untuk menjaga benda purbakala masih minim. Bahkan saat ditemukan kembali oleh warga, kondisi situs Watu Sekenteng terbengkalai dan ditimbuni sampah. Dahulu, di sekitar Dusun Teneran pernah ditemukan arca Ganesha. Namun arca dewa berkepala gajah itu hilang karena dicuri.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

“Bahkan kasus yang kemarin terjadi di situs Sekenteng itu, batunya dikencingi. Dibuat untuk tempat melakukan hal-hal yang nggak-nggak,” keluh Deni.

Prihatin melihat kondisi tersebut, warga kemudian berinisiatif merawat situs dan menggagas Festival Sekenteng untuk menjaga keberadaan Yoni dan Lingga itu.

“Harapan saya festival ini terlaksana setiap tahun. Agar masyarakat sadar akan budaya, menjaga warisan leluhur itu sangat penting,” harap Deni.

Festival ini digelar bekerja sama dengan Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (PSPSR), Sekolah Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada. Pada rangkaian festival juga dibuka diskusi sejarah Yoni dan Lingga di Dusun Teneran.

“Inti kegiatan ini adalah kolaborasi antara mahasiswa secara akademik dengan masyarakat sebagai pelaku (budaya dan seni). Kemudian dikolaborasikan menjadi sebuah pertunjukan atau karya rupa,” kata Ketua Prodi PSPSR Pasca Sarjana UGM, Dr. Paramita Dyah Fitriasari.

Festival Sekenteng digelar 6-7 November 2021. Selain membersihkan situs Watu Sekenteng, warga menggelar workshop batik eco print dan melukis untuk ibu dan anak-anak.

Warga juga menggelar Kirab dan Doa Sekenteng, serta mengadakan ritual pengambilan air dari situs Sekenteng. Bersamaan dengan itu, dibuka pasar jajan lokal yang dikelola oleh warga Dusun Teneran. (*/suara)

1 Comment
  1. Pak Jie Asmoro Bangun says

    Mantap BorNews.con

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: