Sosok Mbah Mangli, Wali Sederhana Di Magelang Tahun 1980-an
- calendar_month Sab, 25 Jun 2022

Mbah Mangli Magelang
BNews–MAGELANG– Di daerah Magelang pada era tahun 1980-an, ada seorang kiai yang amat terkenal. Namanya Kiai Hasan Asyari, dan masyarakat menyebutnya Mbah Mangli.
Sebutan Mbah Mangli kepda Kiai Hasan Asyari karena sang kiai tinggal di desa Mangli, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Pengajian Mbah Mangli dihadiri oleh ribuan orang dari mana-mana. Menariknya, Mbah Mangli selalu menyediakan konsumsi gratis untuk orang yang datang ke pengajiannya.
Bahkan, jika jamaah pengajian itu kehabisan uang, tanpa diminta Mbah Mangli akan memberi sangu (uang).
Almarhum KH Saifudin Zuhri (Menteri Agama era Bung Karno), Ayah Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, suatu ketika pernah bertemu dengan Mbah Mangli di bandara Ahmad Yani Semarang.
Tanpa diduga Mbah Mangli memberi uang cukup besar kepada KH Saifuddin. Jumlahnya bisa membuat melongo saat itu.
Uang tersebut, kata Kiai Haji Saifuddin, saat itu cukup untuk tiket pesawat Garuda bolak-balik Jakarta Semarang.
DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)
Sampai di rumah, Kiai Haji Saifuddin bercerita kepada istrinya bahwa dia disangoni (dikasih uang) sama Mbah Mangli Semarang.
Beliau sempat berkata kepada istrinya, Mbah Mangli punya banyak uang dari mana ya? kerjanya apa?
Seminggu kemudian Mbah Mangli mampir ke rumah Kiai Haji Saifuddin Zuhri di Jakarta.
Mbah Mangli pun langsung membuka kantong yang dia bawa. Di dalam kantong itu berisi banyak sekali berlian.
“Ini harganya sekian juta. Yang ini sekian juta. ini Bisnis saya, jualan berlian,” jelas Mbah Mangli seperti menjawab pertanyaan KH Saifuddin Zuhri.
“Jadi kalau saya memberi sangu segitu, kecil,” kata Mbah Mangli kepada Saifuddin Zuhri.
Merasa “ngrasaninya” (menggosipin) ketahuan, Saifuddin pun langsung minta maaf kepada Mbah Mangli.
“Maaf Mbah, saya kemarin ngrasani Mbah soal uang itu,” kata Saifuddin Zuhri.
Demikian itulah keramat seorang kekasih Allah yang bernama Mbah Mangli yang selama hidupnya dihabiskan untuk mengajar ngaji.
Sosoknya yang sangat sederhana, tapi keramat yang dimilikinya sungguh sangat luar biasa.
Masyarakat mengenangnya sebagai sosok kiai yang dermawan, tanpa pernah membedakan yang datang kepadanya. Wallahu a’lam bishawab. (*)
About The Author
- Penulis: BNews 2



Saat ini belum ada komentar