Sosok Perempuan Dalam Belenggu Sejarah, Kalian Harus Tahu !!!

BNews–NASIONAL– Seorang perempuan terkadang dipandang sebelah mata. Mereka sering diidentifikasikan sebagai objek kecantikan atau sekadar tokoh kedua dalam kehidupan.

Namun,  sejak gerakan emansipasi wanita dipelopori oleh Raden Ajeng Kartini dan Dewi Sartika pada awal abad ke-20, kebebasan perempuan Indonesia dalam mengurusi hal-hal nondomestik semakin terbuka.

Meski begitu, ternyata jauh sebelum itu, budaya kita memiliki kecenderungan lain terhadap perempuan, terutama pada masa kerajaan klasik.

Titi Surti Nastiti, arkeolog dari Arkeologi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam penelitiannya, menyampaikan bahwa perempuan abad 8 hingga 15 memiliki peran dan kesempatan yang sama dengan laki-laki.

Pada sektor politik pun, perempuan memiliki kesetaraan dalam memimpin kerajaan.

“Kedudukan laki-laki dan perempuan itu sejajar, tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan,” kata Nastiti.

“Jadi, di istana, seorang putri mahkota atau putra mahkota itu ditunjuk karena dia lahir dari seorang raja dan permaisuri dan kemudian akan dilanjutkan menjadi penguasa di masa depan,” paparnya.

Loading...
DOWNLOAD MUSIK KEREN (KLIK DISINI)

Sebagai contoh, nama-nama perempuan ditemukan sebagai pemimpin kerajaan pada era klasik, atau Hindu-Buddha. Beberapa diantaranya seperti Ratu Sima, Tribhuwana Wijayatunggadewi, dan Dyah Suhita.

Selain itu, kalaupun tidak menjabat sebagai raja, perempuan memiliki peran besar dalam politik. Salah satu contohnya adalah Sri Rajapatni Gayatri. Sepeninggal suaminya, Raden Wijaya, Gayatri memiliki peran sangat penting bagi kerajaan terutama pada masa pemberontakan yang dipimpin Ra Kuti.

Namun, pemberontakan itu dapat dikendalikan berkat keberadaan Gayatri di istana, saat raja kedua Majapahit, Jayanegara, diungsikan.

Tidak hanya dalam susunan tertinggi di Kerajaan, Nastiti menjelaskan bahwa pada watak atau tingkat kabupaten kerajaan, wanwa atau desa, dan kerajaan vassal juga berlaku kesempatan bagi perempuan untuk memimpin.

“Kalau yang di bawah ini, laki-laki dan perempuan itu sama. Jadi, pejabat desa itu bisa laki-laki atau perempuan. Mereka ini bukan keturunan kerajaan dan dipilih berdasarkan achievement,” katanya.

Nastiti menambahkan, achievement atau pencapaian yang dimaksud adalah dari segi  sosial, ekonomi, kebudayaan, kesenian, dan lainnya. Ia menyimpulkan bahwa di masa lalu, perempuan bisa juga berprestasi dalam sektor-sektor tersebut.

“Perempuan ada juga yang sebagai hulu air (pekerjaan yang mengurusi agaria, sawah dan air). Hampir di semua lini ada, kecuali bidang keagamaan,” jelas Nastiti. (*/Lubis)

Kaos Deglang

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: