Tidak Hanya Petugas Medis, Ini Sosok yang Berperan Penting dalam Penanganan Corona

BNews—SLEMAN— Petugas kesehatan seperti dokter dan perawat menjadi garda terdepan penanganan virus Corona (Covid-19). Namun, ternyata ada profesi lain yang bertugas sama namun jarang terekspos.

Mereka juga memiliki peran besar dalam prosedur kesehatan di masa pandemi Covid-19 ini. Ada sosok-sosok yang tampaknya bergerak dalam senyap namun punya perjuangan yang tak bisa dikesampingkan begitu saja yakni para Relawan dan PMI.

Betapa tidak, selama masa tanggap darurat, tim relawan dan PMI Sleman yang berjumlah 11 orang menjadi pasukan ‘sapu jagad’. Mereka bertempur mulai pembersihan rumah kediaman pasien positif.

Dan ternyata mereka juga memakamkan orang-orang dengan status Pasien Dalam Pengawasan (PDP), pasien positif maupun Orang Dalam Pemantauan (ODP) di Kabupaten Sleman. Mereka juga harus bersiaga 24 jam, dengan berbagai konsekuensi yang dihadapi.

Septiyadi Pityanta, Humas Satgas Covid-19 PMI Sleman salah satu yang turun langsung ke lapangan dalam semua proses yang dihadapi. Ia menceritakan pengalaman luar biasa yang dijalani bersama rekan-rekannya selama masa tanggap darurat seperti yang dikutip KR Jogja.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Jam mendebarkan dimulai tepat pukul 19.00 WIB, saat telpon satgas mulai berdering. ‘Adakah pasien meninggal hari ini, atau ada tambahan pasien positif di kecamatan mana, desa mana yang harus disemprot disinfektan.’

Loading...

Delapan kali sudah tim bekerja, memakamkan pasien di beberapa lokasi berbeda, dengan standar prosedur ketat penanganan Covid-19. Tujuh kali pemakaman dilakukan di malam hari, tengah malam bahkan dini hari. Lalu sisanya satu pada siang hari yang ternyata baru dijalani tim tepat Sabtu (25/4/2020).

Mereka mulai dengan koordinasi dilakukan dengan juru kunci desa asal pasien meninggal dunia. Masyarakat yang mempersiapkan liang lahat, dan beruntungnya tak pernah ada penolakan, bahkan warga begitu ‘nyengkuyung’ dengan penuh kesadaran.

“Biasanya liang lahat makam siap dalam waktu tiga jam dan kami akan menjemput jenazah dengan pakaian APD lengkap, dan tim yang punya tugas masing-masing. Tim hanya menurunkan jenazah, menutup 2/3 dari makam selanjutnya di teruskan oleh masyarakat. Setiap melakukan tugas tim di dampingi oleh 1 spraying yang berfungsi untuk mendekontaminasi crew setelah dan sebelum bertugas,” ungkapnya.

Pada pemakaman siang hari, protokol akan berubah karena tim berkejaran dengan waktu. Personil yang mengenakan APD lengkap hanya memiliki waktu 90 menit saja berada di luar dengan cuaca panas karena memiliki resiko hipoksida dan dehidrasi.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

“Sabtu 25 April 2020 siang, kami hanya punya waktu 30 menit untuk memakamkan. Hal ini karena sebelumnya harus menanti penyiapan jenazah lalu dihitung juga perjalanan pulang untuk dekontaminasi. Karena tak boleh melepas satupun alat sebelum didekontaminasi. Kami harus berkejaran dengan waktu. Saya yang sempat puasa, akhirnya tidak bisa melanjutkan karena sempat terserang dehidrasi ringan,” lanjut dia.

Resiko pada pasien meninggal memang jauh lebih kecil karena para ahli menilai virus akan mati jika inang (manusia) meninggal dunia. Namun, rasa was-was tetap menghinggapi para relawan yang harus berhadapan langsung dengan situasi di lapangan.

“Kami juga punya kewajiban melakukan disinfeksi ke rumah pasien positif, kami menyadari betul ada resiko yang dihadapi. Kami berinteraksi langsung dan jelas punya kemungkinan tertular lebih besar. Tapi, ini panggilan hati kami. Kami harus laksanakan sebagai karena sudah berkomitmen demi kemanusiaan,” pungkasnya. (*/Lubis)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: