Tinggalkan Kesuksesan Kota Setelah Tinggal di Desa Daerah Magelang, Menyepi Jadi Petani
- calendar_month Rab, 8 Nov 2023

tangkapan layar video kisah seorang pria jadi petani tinggalkan pekerjaan di Kota
BNews-MAGELANG- Sebelum memutuskan untuk tinggal di desa, Alvius sebelumnya bekerja sebagai karyawan bank di Jakarta.
Seiring dengan menjalani rutinitasnya, ia memutuskan untuk hidup di desa dan mengabdikan diri sebagai petani sehari-hari. Inspirasi ini berasal dari game Harvest Moon yang sering dimainkannya saat kecil.
“Saya semakin jatuh cinta dengan kehidupan desa ketika saya mengikuti program KKN di Muntilan,” ujar Alvius, dikutip dari YouTube Cap Capung.
Sebelum benar-benar pindah ke desa, Alvius menyatakan telah merencanakan dan menyiapkan peta jalan serta rencana keuangan yang matang. Setelah merasa yakin, ia kemudian mengundurkan diri dari pekerjaannya di bank.
Ketika tinggal di desa, Alvius mengaku mengagumi kehidupan para petani yang tetap memiliki semangat walaupun sudah memasuki usia senja. Ia pun berusaha untuk mempelajari dan belajar dari mereka.
Dari para petani, Alvius mendapatkan banyak pengetahuan tentang ilmu pertanian. Ia mencoba menanam berbagai jenis tanaman seperti padi, pisang, kelapa, bayam, sawi, terong, tomat, cabai, dan lain sebagainya.
Selain itu, Alvius juga mencoba beternak ikan, ayam, dan domba.
DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)
“Salah satu tips yang paling penting bagi kita sebagai penduduk kota yang ingin hidup di desa adalah kita harus meninggalkan sikap egois sebagai orang kota. Kita sebagai penduduk kota sering merasa lebih maju, lebih tahu, dan lebih modern. Kita harus melepaskan sikap itu, mengamati sekitar kita, dan belajar dari mereka yang telah lama tinggal di desa sejak kecil,” ungkap Alvius saat berbagi tips memulai kehidupan di desa.
Bagi Alvius, desa adalah tempat yang sarat dengan nilai-nilai kearifan. Salah satu nilai yang paling ditekankan adalah empati.
Dengan adanya empati, Alvius berharap bahwa apa yang telah dia usahakan selama ini dapat diterima oleh masyarakat desa tempat tinggalnya.
Alvius menyatakan bahwa sebagai pendatang di desa, ia menghadapi tantangan sosial di mana masyarakat setempat belum mengenal konsep “homestay”.
Mereka masih berpikir bahwa homestay merupakan tempat untuk pacaran dan melakukan pergaulan bebas.
“Oleh karena itu, kita menjelaskan bahwa kami menggunakan ruang yang ada dengan bijak, sehingga kami menciptakan konsep rumah yang produktif dan tidak sembarang orang dapat masuk. Salah satu syarat umum adalah pasangan tersebut harus sudah menikah,” jelas Alvius, dikutip dari kanal YouTube Cap Capung.
Homestay milik Alvius menawarkan konsep ramah lingkungan. Bahan yang digunakan berasal dari kayu bekas. Ia ingin memberikan pengalaman kepada pengunjung untuk merasakan suasana desa yang asli.
“Selain itu, teman-teman juga akan mendapatkan pengetahuan tentang pertanian di desa seperti apa adanya. Kami melayani semuanya sendiri, agar mereka merasa seperti berkunjung ke rumah saudara,” kata Alvius.
Selama menjalani rutinitas sebagai petani, Alvius merasa mendapatkan perspektif baru bahwa pertanian di Indonesia sedang mengalami krisis regenerasi. Ia melihat bahwa masalah ini nyata.
Dengan mengabdikan diri pada dunia pertanian, ia berharap dapat memberikan inspirasi bagi anak muda lainnya. Dengan begitu, regenerasi petani dapat berjalan dengan baik. (*)
About The Author
- Penulis: BNews 2



Saat ini belum ada komentar