Tolong, Alami Kanker Rektum Perempuan Asal Dukun Berjuang Sendirian

BNews—DUKUN—Sudah jatuh tertimpa tangga, itulah pepatah yang bisa digambarkan kepada sosok perempuan di lereng merapi berusia 29 tahun ini. Nunik Septiawati, 29 harus melawan Kanker Rektum atau Anus sendirian dirumahnya.

Nunik tinggal di Dusun Ngadipuro 1 Desa Ngadipuro Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang divonis kanker sejak November 2018 lalu setelah melahirkan anak keduanya di RSUD Muntilan. Dia dirujuk ke RSUP Sarjdito Yogyakarta untuk operasi, namun terkendala biaya akhirnya hingga Juni 2019 hal tersebut belum bisa dilakukan.

Ditinggal suaminya entah kemana dengan bergudang hutang tinggalan suaminya menambah beban ibu muda dengan dua orang anak ini. Dia akhirnya tumbang tidak berdaya diatas tempat tidurnya sehingga harus diungsikan di rumah kakaknya satu dusun.

Setiap harinya dia harus menahan rasa sakit di bagian perut dan duburnya. Setiap BAB pasti mengeluarkan darah, ditambah penyakit tersebut juga membuat kedua kakinya kaku tidak bisa digerakkan selayaknya kaki normal sehingga harus berbaring.

Nunik bercerita, tanda-tanda sakit ini mulai terasa sejak awal tahun 2018 saat kehamilan anak keduanya. “Setelah melahirkan anak kedua bulan September rasa sakit semakin menjadi, dan November diperiksakan dengan hasil diagnose tumor anus tersebut,” katanya saat ditemui Borobudur News pagi ini (12/6).

“Sakit di bagian perut dan saat BAB pasti keluar darah, ditambah kaki susah buat digerakin. Kaki hanya bisa dilipat seperti ini, mau diluruskan rasanya sudah tidak karuan,” imbuhnya sambil berbaring dengan selimutnya.

“Saya berharap bisa segera sembuh dan bisa merawar anak-anak saya yang abru berusia 7 tahun dan 10 bulan. Apalagi anak pertama saya termasuk Anak Berkebutuhan Khusus karena kedua kakinya mengalami lemah tulang sehingga kesulitan dalam berjalan,” ungkap Nunik yang merupakan anak terakhir dari enam bersaudara.

Anak pertamanya bernama Safa Nur Aulia gadis kecil cantik berusia 7 tahun, sedangkan anak keduanya Rizky Ihsanul Fikri seorang bayi berusia 10 bulan. “Saat ini saya dibawa ke rumah kakak ke empatnya yang masih satu kampung, tentunya menjadi beban tersendiri bagi saya yang tidak bisa berbuat apa-apa,” tandasnya.

Sementara kakak ke empatnya, Iriyati mengungkapkan bahwa saudara terdekat hanya saya disini. “Orang tua kami petani yang sudah lanjut usia, beban adik saya sebisa mungkin saya bantu minimal merawatnya dan kedua anaknya. Meskipun kondisi kami tidak jauh beda,” ujarnya.

Perlu diketahui, selama ini pengobatan Nunik tergantung kepada donator yang mau membantunya. Pihak Karang Taruna Tunas Harapan Desa Ngadipuro sudah membantu mencari donator dari warga sekitar dan membuatkan BPJS Mandiri.

Anwar Hidaya, Ketua Karang Taruna mengungkapkan kami terkendala mencari donasi untuk membantu Nunik. “Kami buat BPJS kelas tiga, namun BPJS ini belum bisa aktif sebelum 14 hari. Dan ternyata BPJS mandiri kelas tiga tidak bisa mengcover semua biaya pengobatan serta obat buat Nunik,” katanya.

“Untuk pembayaran BPJS ini rencana kami ambilkan dari donasi, namun sejauh ini donasi yang terkumpul belum seberapa habis untuk pembelian obat sambungnya,” imbuhnya.

Diakui juga oleh Anwar, bahwa kemarin kami konsultasi dengan Dokter di RSUD Muntilan terkait hal ini. “Kami tetap disarankan membawa Nunik ke RSUP Sardjito Yogyakarta untuk operasi sesuai rujukan sejak November 2018 lalu,” akunya.

Kepala Desa Nagdipuro Iwan Agus Purwoko yang ikut mendampingi tim Borobudur News menjelaskan bahwa Nunik kembali pulang kesini tahun 2015 sehingga tidak terdata dalam Kartu Indonesia Sehat (KIS). “Sementara Verifikasi KIS dilakukan tahun 2013, sehinga Nunik belum bisa masuk KIS selama belum ada yang digantikan,” jelasnya.

“Namun pihak desa tetap akan berupaya membantunya, entah secara pribadi atau bagaimana nanti. Namun secara aturan Desa tidak bisa langsung ada karena harus menunggu anggaran perubahan,” terangnya.

Ditanya apakah ada pihak terkait lainnya menindak lanjuti hal ini, Agus mengakui belum ada pihak lain datang kesini. “Belum ada dari pihak kesehatan entah itu Puskesmas atau Dinkes yang datang. Untuk pegawai TKS Dinas Sosial yang ada juga belum memberikan solusi tepat untuk penanganan mendesak ini,” pungkasnya.

Mereka bersama-sama membantu Nunik, namun tetap membutuhkan bantuan dari semua pihak. Operasi Nunik membutuhkan biaya kurang lebih 70 juta rupiah, belum biaya lain-lain obat hingga operasional. (bsn)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: